alexametrics
22.8 C
Medan
Friday, August 19, 2022

iklanpemko
iklanpemko

Belajar Nulis Aksara Jawa Malah Dikira Bikin Mantra Jimat

iklan-usi

Budaya Jawa kuno bukan hanya aksara hanacaraka. Ada simbol-simbol khusus yang menarik untuk didalami. Itulah yang membuat anggota Banyu Mangsi semakin penasaran dan terus belajar.

————————–

FERLYNDA PUTRI, Jawa Pos

————————–

”SAYA belajar nulis (Jawa) di kantor malah dikira bikin mantra jimat,” kata Tomi Febrianto, lantas terkekeh. Apalagi, waktu itu dia menulisnya di daun lontar. Tomi adalah salah seorang anggota komunitas Banyu Mangsi. Pengalaman Tomi sering pula dirasakan sesama anggota komunitas itu. Orang yang tidak tahu menyangka mereka suka klenik. Tentu saja, hal tersebut terkadang membuat para anggota komunitas yang berbasis di Jogja itu merasa gusar. Mereka resah karena belajar budaya Jawa dianggap sedang belajar klenik.

Tidak semua anggota komunitas itu berasal dari Jawa. Akbar Muhibar misalnya. Dia berasal dari Minang. Namun, dia suka mendalami budaya Jawa. Setelah bergabung dengan Banyu Mangsi, Akbar merasa makin cinta pada budaya Jawa.

Dia bahkan sudah bisa menulis dengan aksara Jawa. Akbar sempat menunjukkan buku catatannya. Awalnya, tulisannya memang tidak rapi. Namun, pada lembar-lembar terakhir, tulisannya mulai bagus. Dia juga memahami kata-kata Jawa yang bahkan sudah jarang diucapkan. ”Saya tahu saat diajak ngomong pakai bahasa Jawa, tapi untuk menanggapi belum bisa,” bebernya.

Akbar merasa bahwa budaya Jawa itu indah sekaligus unik lantaran memiliki aksara sendiri. Selain itu, ada simbol-simbol yang penuh makna. Misalnya, wayang, simbol di bangunan sejarah, tembang, dan simbol lain yang membuatnya terkesima. Ternyata, apa yang dilihat dengan mata bisa memiliki arti yang tak hanya indah. Menurut Akbar, pemaknaannya bisa lebih luas. ”Semakin dipelajari, semakin membuat kita ingin belajar lagi,” ujarnya. Akbar kini merasa tertantang mendalami Jawa Kawi dan bahasa Jawa lain yang lebih kuno. ”Kenapa ya (orang-orang, Red) seolah ingin melupakan, padahal kalau didalami bagus sekali,” imbuhnya.

Baca Juga :  Tinggal Menunggu Sertifikat dari Belanda untuk Ekspor

Akbar dan Tomi adalah awal dari Banyu Mangsi terbentuk. Ditambah satu anggota lagi yang hanya mau disebut dengan nama Pakdjo. Entah mengapa dia enggan disebutkan nama aslinya. Mereka awalnya belajar menulis Jawa pada 2019. Aksara hanacaraka yang berbeda dengan tulisan Latin membuat mereka tertarik belajar di sebuah institusi yang akhirnya kelasnya bubar.

Karena merasa masih kurang ilmu yang didapat, mereka bertiga kemudian melanggengkan kegiatan tersebut. Buku-buku yang ditulis dengan aksara Jawa baru sedikit dipelajari. Beruntung, Pakdjo seorang abdi dalem dan menjadi guru budaya Jawa pada komunitas lain. Ilmunya cukup banyak.
Seiring berjalannya waktu, anggota semakin banyak. Tiap anggota mengajak teman meski beberapa saja yang bertahan. Menurut Tomi, mereka yang sekarang terkumpul adalah angsor lan jodho, berjodoh dalam hal baik. Mereka saling melengkapi. Tak ada yang jadi guru.

Latar belakang pekerjaan mereka memang beragam. Ada yang seniman, akuntan, arkeolog, bahkan ibu rumah tangga. Keberagaman latar belakang itulah yang disebut Tomi dengan istilah angsor lan jodho. Winda Artista yang seorang arkeolog, misalnya, membantu mereka memahami mengapa ungkapan atau simbol-simbol tertentu bisa lahir. ”Kalau zaman dulu, menandai sebuah kejadian itu tidak dengan waktu, tapi dengan istilah,” beber Winda.

Misalnya, saat pembuatan candi. Dalam prasasti atau keterangan di candi, tidak ditulis tahun pembuatan. Karena itu, agar lebih paham, perlu telaah lebih lanjut dari latar belakang ungkapan atau simbol yang muncul. ”Kami ini tidak hanya membaca dan menulis,” kata Pakdjo. Kalau belajar hanya berhenti di kelas, Pakdjo yakin bakal bubar. Ilmu yang didapat juga bisa jadi cepat dilupakan. Untuk itu, mereka punya kegiatan jalan-jalan.

Budaya Jawa kuno bukan hanya aksara hanacaraka. Ada simbol-simbol khusus yang menarik untuk didalami. Itulah yang membuat anggota Banyu Mangsi semakin penasaran dan terus belajar.

————————–

FERLYNDA PUTRI, Jawa Pos

————————–

”SAYA belajar nulis (Jawa) di kantor malah dikira bikin mantra jimat,” kata Tomi Febrianto, lantas terkekeh. Apalagi, waktu itu dia menulisnya di daun lontar. Tomi adalah salah seorang anggota komunitas Banyu Mangsi. Pengalaman Tomi sering pula dirasakan sesama anggota komunitas itu. Orang yang tidak tahu menyangka mereka suka klenik. Tentu saja, hal tersebut terkadang membuat para anggota komunitas yang berbasis di Jogja itu merasa gusar. Mereka resah karena belajar budaya Jawa dianggap sedang belajar klenik.

Tidak semua anggota komunitas itu berasal dari Jawa. Akbar Muhibar misalnya. Dia berasal dari Minang. Namun, dia suka mendalami budaya Jawa. Setelah bergabung dengan Banyu Mangsi, Akbar merasa makin cinta pada budaya Jawa.

Dia bahkan sudah bisa menulis dengan aksara Jawa. Akbar sempat menunjukkan buku catatannya. Awalnya, tulisannya memang tidak rapi. Namun, pada lembar-lembar terakhir, tulisannya mulai bagus. Dia juga memahami kata-kata Jawa yang bahkan sudah jarang diucapkan. ”Saya tahu saat diajak ngomong pakai bahasa Jawa, tapi untuk menanggapi belum bisa,” bebernya.

Akbar merasa bahwa budaya Jawa itu indah sekaligus unik lantaran memiliki aksara sendiri. Selain itu, ada simbol-simbol yang penuh makna. Misalnya, wayang, simbol di bangunan sejarah, tembang, dan simbol lain yang membuatnya terkesima. Ternyata, apa yang dilihat dengan mata bisa memiliki arti yang tak hanya indah. Menurut Akbar, pemaknaannya bisa lebih luas. ”Semakin dipelajari, semakin membuat kita ingin belajar lagi,” ujarnya. Akbar kini merasa tertantang mendalami Jawa Kawi dan bahasa Jawa lain yang lebih kuno. ”Kenapa ya (orang-orang, Red) seolah ingin melupakan, padahal kalau didalami bagus sekali,” imbuhnya.

Baca Juga :  Bripka Isma Diyanto dan Karya-karyanya tentang Bonek

Akbar dan Tomi adalah awal dari Banyu Mangsi terbentuk. Ditambah satu anggota lagi yang hanya mau disebut dengan nama Pakdjo. Entah mengapa dia enggan disebutkan nama aslinya. Mereka awalnya belajar menulis Jawa pada 2019. Aksara hanacaraka yang berbeda dengan tulisan Latin membuat mereka tertarik belajar di sebuah institusi yang akhirnya kelasnya bubar.

Karena merasa masih kurang ilmu yang didapat, mereka bertiga kemudian melanggengkan kegiatan tersebut. Buku-buku yang ditulis dengan aksara Jawa baru sedikit dipelajari. Beruntung, Pakdjo seorang abdi dalem dan menjadi guru budaya Jawa pada komunitas lain. Ilmunya cukup banyak.
Seiring berjalannya waktu, anggota semakin banyak. Tiap anggota mengajak teman meski beberapa saja yang bertahan. Menurut Tomi, mereka yang sekarang terkumpul adalah angsor lan jodho, berjodoh dalam hal baik. Mereka saling melengkapi. Tak ada yang jadi guru.

Latar belakang pekerjaan mereka memang beragam. Ada yang seniman, akuntan, arkeolog, bahkan ibu rumah tangga. Keberagaman latar belakang itulah yang disebut Tomi dengan istilah angsor lan jodho. Winda Artista yang seorang arkeolog, misalnya, membantu mereka memahami mengapa ungkapan atau simbol-simbol tertentu bisa lahir. ”Kalau zaman dulu, menandai sebuah kejadian itu tidak dengan waktu, tapi dengan istilah,” beber Winda.

Misalnya, saat pembuatan candi. Dalam prasasti atau keterangan di candi, tidak ditulis tahun pembuatan. Karena itu, agar lebih paham, perlu telaah lebih lanjut dari latar belakang ungkapan atau simbol yang muncul. ”Kami ini tidak hanya membaca dan menulis,” kata Pakdjo. Kalau belajar hanya berhenti di kelas, Pakdjo yakin bakal bubar. Ilmu yang didapat juga bisa jadi cepat dilupakan. Untuk itu, mereka punya kegiatan jalan-jalan.

iklanpemko
iklanpemko
iklanpemko

Most Read

Artikel Terbaru

/