alexametrics
26.8 C
Medan
Friday, August 19, 2022

iklanpemko
iklanpemko

Lubuk Larangan, Kearifan Lokal Pelestarian Ekosistem Sungai di Tapteng

iklan-usi

TAPTENG, METRODAILY.id – Kelurahan Sibabangun adalah salah satu kelurahan yang terletak di Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara. Di sepanjang pemukiman penduduk mengalir sebuah sungai yang akrab disebut dengan nama sungai Sibabangun. Sungai bening dan mengalir tenang ini menjadi kebanggaan dan bagian penting masyarakat Sibabangun. Bersumber dari dua anak sungai yakni, sungai Aek Hutagurgur dan sungai Aek Mardugu, yang mengalir dari hutan Batangtoru.

Sungai Sibabangun meliuk-liuk membelah pemukiman penduduk sepanjang 6 km. Dasar sungai yang dipenuhi bebatuan menjadi penyangga beningnya air yang mengalir. Sambil merendam kaki dan menikmati cemilan, kesan nyaman dan indah akan menjadi magnet yang membuat seseorang bisa berlama-lama menikmati air sungai yang mengalir lembut bak bulu meranti.

Sungai Sibabangun menjadi sentral aktivitas mandi, cuci kakus (MCK) dan sumber utama pasokan air bersih. D isepanjang sempadan sungai banyak ditemukan sumur yang berfungsi sebagai pengumpul air. Pagi maupun sore hari, gadis-gadis remaja akan mendatangi sumur-sumur kecil ini, mengambil air dengan memakai ember untuk keperluan aktivitas rumah tangga. Usai itu, mereka akan berendam ria menikmati sejuk dan beningnya air sungai Sibabangun.

Menyadari begitu vitalnya peran sungai Sibabangun bagi keberlangsungan hayat hidup orang banyak, warga berupaya mengendalikan daya rusak sekaligus menjaga kelestarian sungai. Alur sungai Sibabangun ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Perairan (KKP) yang dilindungi. Budi daya ikan melalui pola privatisasi tradisional lubuk larangan menjadi prioritas utama program pelestarian ekosistem sungai ini.

Walau tidak tertulis, kearifan lokal lubuk larangan menjadi peraturan adat yang mengikat warga untuk tidak membuang limbah rumah tangga maupun jenis bahan cair berbahaya ke sungai. Walau tidak terdaftar di Kementerian Kelautan dan Perikanan, jadilah sungai Sibabangun sebagai Kawasan Konservasi Perairan (KKP) yang dilindungi, sekaligus lokasi budi daya ikan yang dilaksanakan secara kelompok (zonasi).

“Dijadikannya alur sungai Sibabangun sebagai kawasan budi daya ikan dilatarbelakangi keinginan warga untuk melestarikan ekosistem sungai,” ujar Ambat Parsaulian Hutagalung, pengurus lubuk larangan Subulussalam-Taqwa, Kelurahan Sibabangun.

Siapa sangka, kearifan lokal yang telah menjadi budaya dua puluh tahun belakangan ini melahirkan hal yang tak terduga. Budi daya ikan melalui lubuk larangan ini berhasil mengharmonisasikan antara ekonomi masyarakat dengan keinginan melestarikan sumber daya air. Hasil budi daya ikan menciptakan Pendapatan Asli Desa (PADes) yang sangat menakjubkan. Panen ikan yang dilakukan satu kali dalam setahun, menghasilkan uang puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Tidak hanya itu, kawasan pengelolaan sumber daya ikan juga mampu menarik wisatawan lokal. Proses pembukaan lubuk larangan menjadi moment yang selalu dinanti oleh penggila pancing mania. Dengan hanya selembar pecahan uang Rp100 ribu, anglerisme dapat menyalurkan hobby sekaligus mengadu hoki seharian penuh.

Terbukti, budi daya ikan melalui pola privatisasi tradisional lubuk larangan sangat efektif dan efesien. Budi daya ikan dengan memanfaatkan alur sungai tidak memerlukan biaya besar, sebagaimana pembudidayaan ikan di tambak maupun kolam. Hanya dengan menjaga kualitas air sungai, ketersediaan makanan yang dibutuhkan ikan seperti fitoplankton dan zooplankton, akan terpenuhi.

Makanan ikan yang tersedia secara alami ini memiliki nilai gizi yang tinggi, mudah dicerna dan tidak mengandung racun maupun zat anti nutrisi. Berbeda dengan pakan buatan, selain membutuhkan biaya besar, penurunan kualitas air dan tingkat pencemaran terhadap kultur air akan lebih tinggi. Pengurus dan anggota kelompok lubuk larangan hanya menjaga kualitas air, mikro organisme yang dibutuhkan ikan akan tersedia. Pembelian pakan buatan tidak lagi harus dilakukan.

Baca Juga :  Ragam Cara Para Pegawai KPK ”Menikmati” Pemecatan

“Biaya yang diperlukan hanya untuk membeli bibit. Kita tidak pernah memberi pakan tambahan. anggota kelompok hanya melaksanakan peraturan adat yang telah kita sepakati seperti, tidak membuang limbah rumah tangga dan bahan cair yang menjadi sumber penyakit bagi ikan,”  sebut Ngatino, pengurus kelompok lubuk larangan lainnya.

Pola privatisasi tradisional lubuk larangan yang menjadi kearifan lokal dan sudah berlangsung puluhan tahun ini diapresiasi Anggota DPRD Kabupaten Tapanuli Tengah, Madayansyah Tambunan M.Pd. Pria kelahiran Sibabangun
28 tahun silam ini mendukung penuh pelestarian ekosistem sungai melalui kearian lokal lubuk larangan. Menurutnya, lubuk larangan adalah bagian dari manifestasi bentuk pemanfaatan alam sekaligus penjagaan dan perawatan ekosistem lingkungan hidup.

“Disamping menyeimbangkan stabilitas dan produktivitas ekosistem sungai, kearifan lokal lubuk larangan sangat efektif dan efesien untuk kegiatan budi daya ikan,” kata Madayansyah.

Sosok yang pernah di gembleng di lembah gunung Sorik Marapi, Mandailing Natal, Sumatera Utara ini menegaskan, sejak dulunya sungai Sibabangun merupakan sentral aktivitas mandi, cuci dan kakus, serta sumber pasokan air bersih bagi warga. Semangat kearifan lokal lubuk larangan harus tetap dipertahankan untuk kelestarian ekosistem sungai dan upaya peningkatan ekonomi kemasyarakatan.

“Sungai Sibabangun merupakan warisan leluhur yang wajib dijaga kelestariannya. Kita akan dukung penuh upaya-upaya kelestariannya,” tegas politikus yang juga berprofesi sebagai penceramah ini.

Penetapan sungai Sibabangun sebagai kawasan konservasi perairan melahirkan harapan indah. Tidak hanya sekedar mimpi, suaka mini yang bertujuan untuk perlindungan dan pelestarian ini, berhasil meningkatkan kesejahteraan warga. Panen budi daya ikan yang dilaksanakan satu kali dalam setahun, menjadi panggung suka cita dan pengungkapan rasa syukur atas karunia Sang Khalik. Hasil panen akan di jual dan sebahagian lagi di bagikan kepada warga untuk dinikmati bersama keluarga.

Regulasi lubuk larangan yang mengutamakan kebersamaan ini berhasil menjaga kelestarian ekosistem sungai. Kualitas air sungai tetap terjaga sehingga layak untuk aktivitas mandi, cuci, kakus (MCK) serta pemenuhan kebutuhan air bersih rumah tangga. Biota air yang sempat terancam punah, kembali beranak pinak menandai keanekaragaman hayati.

Tak terbantahkan, kearifan lokal lubuk larangan menjadi salah satu langkah bijak untuk melestarikan ekosistem sungai, sembari menciptakan pendapatan Asli Desa (PADes) yang bermanfaat untuk kemaslahatan ummat. Lubuk larangan, pola privatisasi tradisional yang mampu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kelestarian ekosistem sungai bagi keberlangsungan kehidupan.

Akankah upaya warga untuk melestarikan ekosistem sungai melalui pola privatisasi tradisional lubuk larangan akan abadi? Tidak ada yang bisa membantah jika revolusi industri dan penebangan hutan menjadi ancaman utama yang bisa melindas kearifan lokal tersebut. Aktivitas industri dan pembukaan lahan pertanian baru yang bernaung dibawah payung undang-undang, menjadi momok menakutkan yang menyatroni upaya pelestarian ekosistem sungai dan keberadaan lubuk larangan. (Dzulfadli Tambunan/Koresponden MetroDaily)

TAPTENG, METRODAILY.id – Kelurahan Sibabangun adalah salah satu kelurahan yang terletak di Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara. Di sepanjang pemukiman penduduk mengalir sebuah sungai yang akrab disebut dengan nama sungai Sibabangun. Sungai bening dan mengalir tenang ini menjadi kebanggaan dan bagian penting masyarakat Sibabangun. Bersumber dari dua anak sungai yakni, sungai Aek Hutagurgur dan sungai Aek Mardugu, yang mengalir dari hutan Batangtoru.

Sungai Sibabangun meliuk-liuk membelah pemukiman penduduk sepanjang 6 km. Dasar sungai yang dipenuhi bebatuan menjadi penyangga beningnya air yang mengalir. Sambil merendam kaki dan menikmati cemilan, kesan nyaman dan indah akan menjadi magnet yang membuat seseorang bisa berlama-lama menikmati air sungai yang mengalir lembut bak bulu meranti.

Sungai Sibabangun menjadi sentral aktivitas mandi, cuci kakus (MCK) dan sumber utama pasokan air bersih. D isepanjang sempadan sungai banyak ditemukan sumur yang berfungsi sebagai pengumpul air. Pagi maupun sore hari, gadis-gadis remaja akan mendatangi sumur-sumur kecil ini, mengambil air dengan memakai ember untuk keperluan aktivitas rumah tangga. Usai itu, mereka akan berendam ria menikmati sejuk dan beningnya air sungai Sibabangun.

Menyadari begitu vitalnya peran sungai Sibabangun bagi keberlangsungan hayat hidup orang banyak, warga berupaya mengendalikan daya rusak sekaligus menjaga kelestarian sungai. Alur sungai Sibabangun ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Perairan (KKP) yang dilindungi. Budi daya ikan melalui pola privatisasi tradisional lubuk larangan menjadi prioritas utama program pelestarian ekosistem sungai ini.

Walau tidak tertulis, kearifan lokal lubuk larangan menjadi peraturan adat yang mengikat warga untuk tidak membuang limbah rumah tangga maupun jenis bahan cair berbahaya ke sungai. Walau tidak terdaftar di Kementerian Kelautan dan Perikanan, jadilah sungai Sibabangun sebagai Kawasan Konservasi Perairan (KKP) yang dilindungi, sekaligus lokasi budi daya ikan yang dilaksanakan secara kelompok (zonasi).

“Dijadikannya alur sungai Sibabangun sebagai kawasan budi daya ikan dilatarbelakangi keinginan warga untuk melestarikan ekosistem sungai,” ujar Ambat Parsaulian Hutagalung, pengurus lubuk larangan Subulussalam-Taqwa, Kelurahan Sibabangun.

Siapa sangka, kearifan lokal yang telah menjadi budaya dua puluh tahun belakangan ini melahirkan hal yang tak terduga. Budi daya ikan melalui lubuk larangan ini berhasil mengharmonisasikan antara ekonomi masyarakat dengan keinginan melestarikan sumber daya air. Hasil budi daya ikan menciptakan Pendapatan Asli Desa (PADes) yang sangat menakjubkan. Panen ikan yang dilakukan satu kali dalam setahun, menghasilkan uang puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Tidak hanya itu, kawasan pengelolaan sumber daya ikan juga mampu menarik wisatawan lokal. Proses pembukaan lubuk larangan menjadi moment yang selalu dinanti oleh penggila pancing mania. Dengan hanya selembar pecahan uang Rp100 ribu, anglerisme dapat menyalurkan hobby sekaligus mengadu hoki seharian penuh.

Terbukti, budi daya ikan melalui pola privatisasi tradisional lubuk larangan sangat efektif dan efesien. Budi daya ikan dengan memanfaatkan alur sungai tidak memerlukan biaya besar, sebagaimana pembudidayaan ikan di tambak maupun kolam. Hanya dengan menjaga kualitas air sungai, ketersediaan makanan yang dibutuhkan ikan seperti fitoplankton dan zooplankton, akan terpenuhi.

Makanan ikan yang tersedia secara alami ini memiliki nilai gizi yang tinggi, mudah dicerna dan tidak mengandung racun maupun zat anti nutrisi. Berbeda dengan pakan buatan, selain membutuhkan biaya besar, penurunan kualitas air dan tingkat pencemaran terhadap kultur air akan lebih tinggi. Pengurus dan anggota kelompok lubuk larangan hanya menjaga kualitas air, mikro organisme yang dibutuhkan ikan akan tersedia. Pembelian pakan buatan tidak lagi harus dilakukan.

Baca Juga :  Tiap Rombongan Atlet yang Datang Disambut Tarian di Bandara

“Biaya yang diperlukan hanya untuk membeli bibit. Kita tidak pernah memberi pakan tambahan. anggota kelompok hanya melaksanakan peraturan adat yang telah kita sepakati seperti, tidak membuang limbah rumah tangga dan bahan cair yang menjadi sumber penyakit bagi ikan,”  sebut Ngatino, pengurus kelompok lubuk larangan lainnya.

Pola privatisasi tradisional lubuk larangan yang menjadi kearifan lokal dan sudah berlangsung puluhan tahun ini diapresiasi Anggota DPRD Kabupaten Tapanuli Tengah, Madayansyah Tambunan M.Pd. Pria kelahiran Sibabangun
28 tahun silam ini mendukung penuh pelestarian ekosistem sungai melalui kearian lokal lubuk larangan. Menurutnya, lubuk larangan adalah bagian dari manifestasi bentuk pemanfaatan alam sekaligus penjagaan dan perawatan ekosistem lingkungan hidup.

“Disamping menyeimbangkan stabilitas dan produktivitas ekosistem sungai, kearifan lokal lubuk larangan sangat efektif dan efesien untuk kegiatan budi daya ikan,” kata Madayansyah.

Sosok yang pernah di gembleng di lembah gunung Sorik Marapi, Mandailing Natal, Sumatera Utara ini menegaskan, sejak dulunya sungai Sibabangun merupakan sentral aktivitas mandi, cuci dan kakus, serta sumber pasokan air bersih bagi warga. Semangat kearifan lokal lubuk larangan harus tetap dipertahankan untuk kelestarian ekosistem sungai dan upaya peningkatan ekonomi kemasyarakatan.

“Sungai Sibabangun merupakan warisan leluhur yang wajib dijaga kelestariannya. Kita akan dukung penuh upaya-upaya kelestariannya,” tegas politikus yang juga berprofesi sebagai penceramah ini.

Penetapan sungai Sibabangun sebagai kawasan konservasi perairan melahirkan harapan indah. Tidak hanya sekedar mimpi, suaka mini yang bertujuan untuk perlindungan dan pelestarian ini, berhasil meningkatkan kesejahteraan warga. Panen budi daya ikan yang dilaksanakan satu kali dalam setahun, menjadi panggung suka cita dan pengungkapan rasa syukur atas karunia Sang Khalik. Hasil panen akan di jual dan sebahagian lagi di bagikan kepada warga untuk dinikmati bersama keluarga.

Regulasi lubuk larangan yang mengutamakan kebersamaan ini berhasil menjaga kelestarian ekosistem sungai. Kualitas air sungai tetap terjaga sehingga layak untuk aktivitas mandi, cuci, kakus (MCK) serta pemenuhan kebutuhan air bersih rumah tangga. Biota air yang sempat terancam punah, kembali beranak pinak menandai keanekaragaman hayati.

Tak terbantahkan, kearifan lokal lubuk larangan menjadi salah satu langkah bijak untuk melestarikan ekosistem sungai, sembari menciptakan pendapatan Asli Desa (PADes) yang bermanfaat untuk kemaslahatan ummat. Lubuk larangan, pola privatisasi tradisional yang mampu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kelestarian ekosistem sungai bagi keberlangsungan kehidupan.

Akankah upaya warga untuk melestarikan ekosistem sungai melalui pola privatisasi tradisional lubuk larangan akan abadi? Tidak ada yang bisa membantah jika revolusi industri dan penebangan hutan menjadi ancaman utama yang bisa melindas kearifan lokal tersebut. Aktivitas industri dan pembukaan lahan pertanian baru yang bernaung dibawah payung undang-undang, menjadi momok menakutkan yang menyatroni upaya pelestarian ekosistem sungai dan keberadaan lubuk larangan. (Dzulfadli Tambunan/Koresponden MetroDaily)

iklanpemko
iklanpemko
iklanpemko

Most Read

Artikel Terbaru

/