MEDAN, METRODAILY – Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution mengingatkan seluruh pemerintah daerah di Sumut untuk menjaga ketersediaan stok bahan pokok menjelang Ramadan dan Idulfitri 1447 H.
Langkah ini dinilai krusial untuk menekan inflasi dan mencegah lonjakan harga kebutuhan masyarakat.
Bobby menegaskan, kenaikan harga bahan pokok hampir selalu terjadi setiap menjelang Ramadan dan Idulfitri akibat meningkatnya permintaan.
Tekanan tidak hanya datang dari konsumsi masyarakat Sumut, tetapi juga dari permintaan provinsi lain yang kerap mengandalkan pasokan komoditas dari Sumut.
“Jaga betul barang-barangnya. Seluruh wilayah di Sumut sama-sama puasa, kebutuhan bahan pokok pasti meningkat. Daerah lain juga sering meminta suplai dari kita. Jangan sampai kita justru kekurangan dan harga naik di daerah kita sendiri,” ujar Bobby saat memimpin High Level Meeting Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumut di Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur Sumut, Medan, Jumat (6/2/2026).
Untuk mencegah keluarnya bahan pokok strategis ke luar daerah, Bobby meminta pemerintah kabupaten/kota memaksimalkan peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
Ia menyebut sejumlah komoditas yang kerap menjadi penyumbang inflasi di Sumut, seperti cabai, cabai rawit, tomat, bawang merah, daging sapi, telur, dan ayam.
Menurutnya, BUMD dapat membeli langsung dari petani dengan harga yang kompetitif sehingga komoditas tersebut tetap terserap di dalam daerah dan tidak mengganggu pasokan lokal.
“Perhatikan betul distribusinya. Saya juga minta tolong kepada Pak Kapolda dan Pak Kajati ikut memonitor. Pemda bisa manfaatkan BUMD-nya, beli langsung ke petani dengan harga yang bersaing,” tegas Bobby.
Berdasarkan data per 2 Januari 2026, inflasi Sumut tercatat sebesar 3,81 persen (year on year). Angka ini menurun signifikan dibandingkan Desember 2025 yang mencapai 4,66 persen (yoy).
Bobby menyebut capaian tersebut sebagai bukti kuatnya kolaborasi lintas sektor dalam pengendalian inflasi.
“Akhir tahun lalu kita berada di urutan keempat inflasi tertinggi. Sekarang turun menjadi 3,81 persen. Ini bukan sekadar angka, tapi mencerminkan kuatnya kolaborasi kita menjaga stabilitas harga,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sumut Rudy Brando Hutabarat menekankan pentingnya komitmen seluruh daerah dalam mengendalikan inflasi, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Hal itu dituangkan dalam enam kesepakatan road map Pengendalian Inflasi Sumut.
Enam langkah tersebut meliputi peningkatan frekuensi pasar murah, penambahan pasokan daging sapi dan kerbau, kerja sama dengan produsen daging ayam ras dan telur, pengendalian tarif administered price, penguatan sistem early warning inflasi, serta sinergi TPID dengan SPPG agar menu Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak bergantung pada satu komoditas.
“Pasar murah harus dilakukan di pasar tradisional, bukan di kantor kecamatan atau kantor wali kota karena dampaknya berbeda. Tarif air, transportasi, dan distribusi juga harus dikendalikan. Jangan sampai naik saat tekanan inflasi tinggi. Selain itu, kita bersinergi dengan SPPG agar menu MBG tidak melulu telur dan ayam,” jelas Rudy.
Rapat TPID tersebut turut dihadiri Wakil Gubernur Sumut Surya, Kapolda Sumut Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto, Kajati Sumut Harli Siregar, Wakil Ketua DPRD Sumut Salman Alfarisi, Pj Sekdaprov Sumut Sulaiman Harahap, seluruh kepala daerah kabupaten/kota se-Sumut, serta jajaran OPD terkait. (H15/DIS)
Editor : Editor Satu