SIBOLGA, METRODAILY — Ratusan nelayan di Kota Sibolga terancam berhenti melaut akibat krisis BBM subsidi jenis solar. Sulitnya mendapatkan solar memaksa banyak kapal hanya bersandar di tangkahan karena tidak bisa mengisi bahan bakar.
“SPBU nelayan kan cuma satu, nggak sanggup melayani ratusan kapal. Kalau beli solar di SPBU umum, risikonya tinggi kali bang, bisa ditangkap kita,” ujar Sabar, seorang nelayan yang ditemui di tangkahan Jalan KH Ahmad Dahlan, kemarin.
Kepala Dinas Perikanan dan Pertanian Kota Sibolga, Julius Sihaloho, membenarkan keluhan nelayan. Ia menyebut hanya ada satu SPBU Nelayan untuk melayani 128 kapal berizin.
Baca Juga: Panen Perdana Bawang Merah di Paranginan, Bupati Humbahas: 15 Ton per Hektare
“Itu belum termasuk ratusan kapal lain yang belum urus dokumen. Total kapal bisa sampai 300-400 unit. Kami terus dorong nelayan lengkapi izin biar bisa dapat rekomendasi BBM,” ungkapnya. Julius menambahkan, Pemko Sibolga sudah mengajukan penambahan kuota ke BPH Migas, namun hingga kini belum disetujui.
Sales Area Manager Retail Sibolga, Toni Pradana, menjelaskan bahwa SPBU Kompak PT Karya Wira Sibolga adalah satu-satunya penyalur solar subsidi untuk nelayan.
“Semua surat rekomendasi dari DKP Sibolga kami layani. Bulan Mei, 104 KL solar sudah kami distribusikan untuk 45 kapal,” jelas Toni.
Baca Juga: Pondok Kayu Jadi Primadona di Pantai Pasir Putih Parbaba, Samosir
Menurutnya, kuota tahunan SPBU Nelayan Sibolga sebesar 1.248 KL, dengan rata-rata alokasi 104 KL per bulan. “Sampai sekarang sudah tersalurkan 600 KL, atau sekitar 48 persen dari kuota,” katanya.
Toni menegaskan bahwa Pertamina hanya menyalurkan sesuai kuota dari BPH Migas. “Kalau mau tambah kuota, harus diusulkan pemerintah daerah ke BPH Migas. Kami siap salurkan asal ada izin,” tandasnya.
Krisis ini membuat nelayan semakin terjepit. Mereka berharap pemerintah segera mencari solusi agar aktivitas melaut tidak lumpuh total. (net)
Editor : Editor Satu