Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Manfaatkan Danau Toba sebagai Sumber Energi Murah, Inalum Aktif Konservasi Daerah Tangkapan Air

Editor Satu • Selasa, 12 November 2024 | 17:24 WIB
PT INALUM melakukan program penanaman pohon di kawasan Paropo, sebagai bagian dari pelaksanaan program Bakti BUMN untuk Indonesia yang berlangsung di Sumatera Utara.
PT INALUM melakukan program penanaman pohon di kawasan Paropo, sebagai bagian dari pelaksanaan program Bakti BUMN untuk Indonesia yang berlangsung di Sumatera Utara.

Ada dua komponen biaya terbesar pada industri aluminium. Pertama, biaya bahan baku alumina. Kedua, biaya energi. Karena biaya alumina itu relatif sama, biaya energi menjadi faktor pembeda. PT Inalum beruntung memiliki PLTA yang digerakkan oleh air dari Danau Toba. Energi bersih dan murah ini membuat harga produk Inalum lebih kompetitif. Karena itu, Inalum berkepentingan menjaga kelestarian air Danau Toba.

-----------------------------

Dame Ambarita, Toba

-----------------------------

Langkah MIND ID melalui PT Indonesia Aluminium (Inalum) mendorong percepatan hilirisasi aluminium nasional menuju swasembada aluminium dalam negeri, terus bergerak maju. Mulai dari pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, proyek Upgrading Teknologi Tungku Reduksi, serta optimalisasi Smelter Kuala Tanjung, Batu Bara, Sumatera Utara.

Keberlangsungan seluruh proyek itu membutuhkan energi. Di Sumatera Utara, industri smelter Inalum telah 43 tahun beroperasi menggunakan energi bersih dan terbarukan. Energi bersih itu memanfaatkan kekuatan air dari Sungai Asahan yang mengalir dari Danau Toba menuju Selat Malaka.

"Air merupakan sumber energi utama PT Inalum dan memainkan peran penting dalam operasi perusahaan, menjadi sumber energi bersih untuk memproduksi aluminium," ujar Kepala Biro Komunikasi Layanan Infromasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM, Agus Cahyono Adi, saat mengunjungi Smelter PT Inalum di Kuala Tanjung, Batu Bara, Sumatera Utara, seperti dikutip dari laman Kementerian ESDM.

Saat ini, Inalum memiliki tiga unit bendungan yakni Bendungan Pengatur, Bendungan Sigura-Gura dan Bendungan Tangga. Kemudian ada dua pembangkit yang menjadi sumber energi. Pertama, PLTA Sigura-Gura (286 MW). Kedua, PLTA Tangga (317 MW). Keduanya berlokasi di Paritohan, Kabupaten Toba, Sumatera Utara. Inalum sudah mengoperasikan pembangkit listrik tenaga air ini sejak tahun 1981 atau sejak 43 tahun lalu.

Adapun PLTA adalah pembangkit yang menggunakan energi potensial dan kinetik air untuk menghasilkan energi listrik. Air memutar roda turbin, sehingga menghasilkan energi kinetik yang diubah menjadi energi mekanik. Energi mekanik tersebut kemudian diubah menjadi energi listrik melalui generator.

Debit air yang masuk ke turbin PLTA Sigura-gura sekitar 149,9 m3/detik, menggerakkan empat turbin berkapasitas 71,5 MW yang berasal dari Toshiba. Daya yang dihasilkan generator yang diputar oleh turbin adalah 286 MW. Sementara PLTA Tangga berkapasitas 317 MW memiliki empat turbin masing-masing berkapasitas 79,2 MW, berasal dari Hitachi dan generatornya Mitsubishi.

"PT Inalum membangun 271 tower dengan kabel transmisi listrik tegangan 275 kV sepanjang 120 km dari dua pembangkit di Paritohan, ke lokasi smelter di Kuala Tanjung, Kabupaten Batu Bara," kata Kepala Smelter PT Inalum, Ismadi.

Listrik dari kedua PLTA ini merupakan komponen penting dalam proses produksi aluminium di smelter Inalum di Kuala Tanjung. Setidaknya, diperlukan sekitar 14.471 kWh energi listrik untuk memproduksi satu ton aluminium. Hitung saja berapa kebutuhan listrik untuk memproduksi 274.000 ton aluminium, seperti target produksi Inalum tahun 2024.

Dengan penggunaan tenaga air, harga energi listrik yang digunakan Inalum hanya sekitar Rp 140 per Kwh. Ini sangat murah dibandingkan penggunaan listrik dari PLN yang mencapai Rp 1.114,74 per kWh (harga 2024 untuk golongan I-3/TR). Energi murah ini menjadikan Inalum dikenal sebagai produsen aluminium pertama di Asia Tenggara yang rendah karbon atau green aluminium.

Berkat PLTA bertenaga air Danau Toba ini, Inalum mampu mereduksi angka rata-rata carbon footprint yang dihasilkan dalam proses produksi aluminium ke level 3,8 ton CO2e per ton aluminium. Sementara industri aluminium lainnya rata-rata menghasilkan 12,5 ton CO2e per ton aluminium.

Selain untuk produksi aluminium, Inalum juga menggunakan energi listrik dari PLTA Sigura-gura dan PLTA Tangga sebagai sumber energi di perumahan karyawan.

Maka tidak heran jika PT Inalum berkepentingan menjaga kestabilan pasokan air yang mengalir dari Danau Toba. Selain untuk memastikan kelestarian lingkungan, juga untuk keberlanjutan operasi perusahaan memperoleh sumber energi yang murah dan berkelanjutan.

Berbagai langkah strategis dilakukan berkaitan dengan ketersediaan air di Danau Toba. Menurut, Corporate Secretary PT Inalum, Mahyaruddin Ende, perusahaan proaktif melakukan pemantauan agar tinggi permukaan air Danau Toba stabil sepanjang tahun, baik pada musim kemarau maupun musim hujan. Kegiatan memantau air Danau Toba dilakukan lewat Master Control Room (MCR) di Paritohan. Transmisi air setiap detik terlihat jelas dari dalam ruangan tersebut.

"Kami selalu memitigasi potensi banjir saat musim hujan, khususnya saat terjadi limpasan air dari bendungan penadah Sigura-Gura dan Tangga,” kata Mahyaruddin Ende.

Sesuai peraturan pemerintah, PLTA bisa beroperasi jika ketinggian air Danau Toba minimum 902 meter dan maksimum 905 meter di atas permukaan air laut. Langkah ini memastikan agar PLTA dan masyarakat sekitar tidak mengalami kekurangan air saat kemarau atau banjir saat musim hujan.

“Tanggung jawab Inalum menjaga kelestarian alam Danau Toba dilakukan melalui reboisasi lahan kritis, untuk mendukung pemulihan cadangan air,” kata Ende.

Photo
Photo
Sejak masih berstatus Perusahaan Modal Asing (PMA) hingga sekarang berstatus Badan usaha Milik Negara (BUMN), Inalum berkomitmen menjadi salah satu motor pembangunan dan pelestarian Kawasan Danau Toba untuk saat ini dan di masa yang akan datang.

“Lebih dari 4 dekade dalam menjalankan operasi, Inalum berkomitmen untuk menjaga kelestarian Kawasan Danau Toba dan pembangunan masyarakat sekitarnya. Komitmen itu terus berlangsung hingga kini. Karena kami yakin, Danau Toba merupakan berkah untuk Indonesia dan Inalum itu sendiri,” ujar Fajri Ramadhan, VP Corcom dan Govrel PT Inalum Kuala Tanjung.

Sejak tahun 1976, Inalum sudah melakukan upaya pelestarian dan pembangunan kawasan Danau Toba melalui Otorita Asahan. Baik melalui pengelolaan environmental fund maupun kontribusi annual fee yang dibayarkan kepada Pemerintah Republik Indonesia.

Selanjutnya, setelah Inalum berstatus BUMN pada 2013, usaha-usaha pelestarian dan pembangunan kawasan Danau Toba dilakukan melalui dua program utama, yaitu penanaman pohon di daerah tangkapan air dan pengembangan UMKM.

Pada program konservasi Danau Toba, jumlah pohon yang ditanam Inalum terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. “Program penanaman pohon dilakukan di lokasi-lokasi yang sudah dipilih berdasarkan hasil survey. Program ini bertujuan untuk mengembalikan fungsi Daerah Tangkapan Air Danau Toba sebagai daerah penyangga ketersediaan dan kestabilan level air Danau Toba,” kata Fajri.

Program ini tidak hanya menanam pohon, tetapi juga pemeliharaan, monitoring serta evaluasi. Pohon-pohon yang ditanam merupakan pohon buah-buahan berkayu. Hal ini ditujukan agar hasil dari penananan pohon juga dirasakan oleh masyarakat, di mana buah serta kayu dapat dimanfaatkan.

Adapun jumlah tanaman yang berhasil dikonservasi hingga tahun 2024 mencapai 871.511 pohon, dengan berbagai jenis spesies (17 spesies). Seperti pinus, alpukat, aren, manggis, mangga, mahoni, petai, jengkol, kemiri, hingga kayu tabebuya. Seluruh tanaman tersebut berhasil ditanam pada area seluas 2.282,48 hektare.

Jumlah itu merupakan akumulasi dari penanaman tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2023, perusahaan telah melakukan penanaman di kawasan seluas 370 hektare yang tersebar di 7 Kabupaten/Kota kawasan Danau Toba. Lahan ditanami sebanyak 185.000 bibit pohon, dengan jenis tanaman kayu-kayuan 25 % dan Multi Purposes Tree Species (MPTS) 75 %.

Adapun daftar lokasi penanaman 370 ha tahun 2023 yakni: di Karo (Merek Tongging) seluas 25 hektare, di Dairi (Silahisabungan dan Paropo I) seluas 30 hektare, (Silahisabungan dan Paropo) seluas 115 hektare serta di Silahisabungan dan Silalahi II seluas 85 hektare, di Humbang Hasundutan (Pollung dan Parsingguran II) seluas 75 hektare, (Bakti Raja, Marbun Tongah, dan Marbun Dolok) seluas 2 hektare, di Taput (Muara dan Huta Ginjang) seluas 1 hektare, di Samosir (Simanindo dan Tanjungan) seluas 3 hektare, di Toba (Tampahan dan Meat) seluas 10 hektare, (Silaen, Hutagaol, dan Sihujur) seluas 20 hektare, (Uluan, Partoruan, dan Janji Matogu) seluas 1,5 hektare, dan di Simalungun (Girsang Sipangan Bolon dan Sibaganding) seluas 2,5 hektare.

Bendungan Sigura-gura di Paritohan, Kabupaten Toba, Sumatera Utara. Air Sungai Asahan yang mengalir dari Danau Toba dimanfaatkan menjadi PLTA untuk operasional smelter PT Inalum di Kuala Tanjung.
Bendungan Sigura-gura di Paritohan, Kabupaten Toba, Sumatera Utara. Air Sungai Asahan yang mengalir dari Danau Toba dimanfaatkan menjadi PLTA untuk operasional smelter PT Inalum di Kuala Tanjung.

Sepanjang tahun 2022, Inalum menanam 149.000 bibit pohon produktif di 299 hektare yang tersebar di 7 Kabupaten/Kota yang sama. Pohon yang ditanam antara lain macademia nut, alpukat, jengkol, pete, mahoni. Untuk menyukseskan kegiatan ini, Inalum berkolaborasi dengan 15 Kelompok Tani Hutan setempat secara berkelanjutan.

Sedangkan sejak tahun 2015-2021, Inalum telah menanam 732.265 pohon pada area seluas 1.410,63 Ha di 7 kabupaten sekitar Danau Toba.

“Kegiatan tanam pohon ini merupakan wujud nyata dari PT Inalum pada bangsa, sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dalam mengurangi luas lahan kritis di Daerah Tangkapan Air Danau Toba,” kata Direktur Utama Inalum, Ilhamsyah Mahendra.

Mendukung program konservasi, PT Inalum bekerjasama dengan berbagai stakeholder seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sumatera Utara, Dinas LH Kabupaten, Satuan Tugas Penyelamatan Ekosistem Danau Toba, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), Kelompok Tani Hutan, TNI, Polri dan BUMN Mitra, LSM, dan masyarakat sekitaran Danau Toba.

Hingga tahun 2024, Inalum mengkonservasi DTA Danau Toba pada area seluas 2.282,48 hektare, dengan menanam 871.511 bibit pohon berbagai jenis.
Hingga tahun 2024, Inalum mengkonservasi DTA Danau Toba pada area seluas 2.282,48 hektare, dengan menanam 871.511 bibit pohon berbagai jenis.
PT Inalum juga melakukan penanaman pohon di lingkungan pabrik peleburan Kuala Tanjung, kompleks perumahan pegawai Tanjung Gading dan lingkungan pabrik PT Indonesia Aluminum Alloy (IAA). Pada tanggal 4 Maret 2024, total 2.000 bibit pohon ditanam dan dipelihara, terutama untuk upaya penyerapan karbon di udara dan membantu kualitas udara di lingkungan perusahaan menjadi lebih segar dan nyaman.

“Kegiatan penanaman ini memang bukan tahun ini hasilnya, tapi saya yakin 10-15 tahun ke depan akan bermanfaat bagi PT Inalum maupun bagi PT IAA, dan membantu menjaga kualitas udara di lingkungan perusahaan,” ujar Dwi Yanto Soetimin selaku Kepala Grup Operasi PLTA.

Holding Industri Pertambangan MIND ID juga mendukung pelestarian Kawasan Danau Toba dengan mengalokasikan 50.000 bibit macademia. Sebanyak 28.000 bibit telah disebarkan ke 7 kabupaten/kota antara lain Kabupaten Toba, Simalungun, Humbang Hasundutan, Dairi, Samosir, Karo, dan Tapanuli Utara. Sementara 28.000 sisanya disebarkan ke kelompok masyarakat yang ada di 7 kabupaten/kota tersebut.

Selain itu, Inalum juga menggandeng Jasa Tirta 1 untuk menanam 100.000 pohon di atas lahan seluas 250 hektare di Kabupaten Toba. Penanaman dilakukan dengan “Pola Tanam Rawat”, yaitu pohon yang ditanam akan dirawat selama 2 tahun sampai tanaman dimaksud benar-benar tumbuh.

Fajri Ramadhan menegaskan, program penanaman akan terus dilanjutkan dengan berkolaborasi dengan berbagai pihak, demi memaksimalkan usaha pelestarian. Sekaligus mendukung program pemerintah Indonesia menjadikan wilayah Danau Toba sebagai Kawasan Destinasi Wisata Super Prioritas.

“Inalum membuktikan komitmen dukungan terhadap pelestarian lingkungan dengan melakukan program konservasi di Kawasan Danau Toba dan Pantai Timur Sumatera (Batu Bara), sebagai upaya mendukung pemerintah dalam hal pelestarian lingkungan dan mewujudkan Net Zero Emission 2060,” kata Fajri.

Tumborina Sidabutar, Ketua Umum Ormas Parompuan Nauli Kabupaten Samosir, yang juga mitra Inalum dalam melakukan penanaman bibit pohon di Tele dan Tanjungan, Samosir, mengatakan pihaknya telah menanam sekitar 80 hektare lahan di Samosir sejak tahun 2021 hingga 2024. “Udah ribuan bibit pohon yang kita tanam dengan jarak 9-10 meter antarbibit. Penanaman tersebar di lahan bergunung, lembah, lahan terjal, maupun daerah perladangan,” katanya.

Karena bibit yang ditanam adalah stek, kata dia, tahun ini sudah ada pohon durian dan mangga yang berbuah. Buah boleh dipanen warga setempat atau pemilik lahan.

Ia mengakui, penanaman bibit pohon dalam jangka panjang akan bermanfaat untuk mencegah banjir, mencegah longsor, serta menjaga penyimpanan air dalam tanah. “Lahan menjadi tidak gersang, lebih hijau dan lembab. Selain itu, warga bisa mendapat buah untuk dikonsumsi. Cuma ya ada positif negatifnya. Negatifnya, sejak pohon berbuah, datanglah monyet. Buah pohon pun diserbu monyet,” katanya seraya tertawa.

Meski demikian, ia memandang penanaman pohon itu lebih banyak manfaatnya untuk kelestarian Kawasan Danau Toba. “Jadi, ya kami harap tetap dilanjutkan,” katanya.

Menuju Swasembada Aluminium

Pemanfaatan kekuatan air Sungai Asahan dari Danau Toba disebut akan sangat mendukung produktivitas smelter Inalum, yang tahun ini ditargetkan akan menyerap alumina yang dihasilkan SGAR Mempawah, Kalimantan Barat.

SGAR Mempawah ditargetkan memiliki total kapasitas produksi mencapai 2 juta ton alumina. Jumlah produksi alumina tersebut dapat menghasilkan 1 juta ton aluminium.

“SGAR di Kabupaten Mempawah akan memasok bahan baku alumina di atas 500.000 ton per tahun, sehingga tidak diperlukan lagi impor alumina dari Australia,” kata Kepala Smelter PT Inalum, Ismadi.

SGAR Mempawah merupakan proyek strategis untuk pemurnian bijih bauksit itu dikelola oleh PT Borneo Alumina Indonesia (PT BAI), yang sahamnya mayoritas dimiliki Inalum sebanyak 60% dan sisanya Antam dengan kepemilikan 40%.

Smelter PT Inalum saat ini memproduksi aluminium sebesar 250.000 ton per tahun, yang sebagian besar untuk kebutuhan domestik. "Kapasitas kita sebetulnya awalnya ingot semua. Sekarang ingot kita kurangi, kita diversifikasi menjadi alloy 45 ribu dan bilet 30 ribu. Nah dengan pabrik yang sekarang, kita menaikkan kapasitas tahun ini menjadi 274.000 ton," lanjut Ismadi.

Direktur Utama Inalum, Ilhamsyah Mahendra, melakukan penanaman bibit pohon di kawasan DTA Danau Toba.
Direktur Utama Inalum, Ilhamsyah Mahendra, melakukan penanaman bibit pohon di kawasan DTA Danau Toba.

Menurut Ismadi, harga sumber energi yang murah menyebabkan struktur biaya Inalum selalu lebih murah dibanding industri aluminium manapun di dunia. “Jika harga aluminium drop pun, kita pasti untung. Nah itu keberkahan bagi Inalum. Sepanjang PLTA-nya aman, berapapun harga aluminium, profit Inalum akan selalu positif," ungkap Ismadi.

Kepala Biro KLIK Kementerian ESDM, Agus Cahyono Adi, mengatakan, proses pemurnian yang dilakukan PT Inalum ini dapat menjadi contoh bagi perusahaan lain dalam menerapkan kebijakan hilirisasinya.

"Hilirisasi yang dilakukan PT Inalum ini adalah salah satu contoh program hilirisasi yang sudah dilakukan selama 58 tahun, dibangun di sini (Sumatera Utara) untuk mendekati sumber energinya. Bahan bakunya diolah di sini menggunakan sumber energi hijau yang ramah lingkungan," ucap Agus usai mengunjungi smelter PT Inalum di Kuala Tanjung.

Ia mendorong Inalum terus meningkatkan dan memperlihatkan jika program hilirisasi memberikan nilai tambah ekonomi yang besar.

Direktur Utama MIND ID, Hendi Prio Santoso, mengatakan dengan terintegrasinya industri pengolahan bauksit dari hulu ke hilir, dapat menghemat devisa negara sekitar US$3,5 miliar atau sekitar Rp50 triliun setiap tahunnya, melalui pengurangan importasi aluminium yang signifikan. Saat ini, sekitar 56% kebutuhan aluminium dalam negeri masih dipenuhi dari impor.

"Setelah proyek SGAR Mempawah selesai, ke depan diharapkan kita sudah tidak lagi importasi, sehingga bisa menghemat devisa dan memberi nilai tambah untuk Indonesia," kata Hendi. Selain itu, ada penciptaan output dari sisi keekonomian, sekitar Rp150-an triliun lebih.

Ia menyebut, pembangunan ekosistem industri aluminium nasional sinergis dan terintegrasi dari hulu ke hilir menjadi prioritas Inalum, sesuai mandat pemerintah untuk mewujudkan hilirisasi pertambangan. (mea)

Editor : Editor Satu
#pt inalum #PLTA Sigura-gura #Energi Bersih dan Terbarukan #hilirisasi aluminium #konservasi danau toba