alexametrics
28.9 C
Medan
Thursday, October 6, 2022

Non Cukai, Rokok Luffman Makin ‘Bebas’ di Sumut

SIANTAR, METRODAILY – Peredaran rokok tanpa cukai merek Luffman, ternyata sudah menyebar di beberada kabupaten/kota di Sumatera Utara. Di beberada daerah, peredarannya masih secara sembunyi-sembunyi, namun di wilayah Kabupaten Dairi, rokok ilegal ini sudah dipajang di warung-warung.

Akibatnya, grosir resmi penjual rokok memakai cukai menjadi resah. Mereka meminta pihak Bea Cukai dan Polisi melakukan tindakan menertibkan peredaran rokok yang tidak membayar pajak cukai kepada Negara itu.

Di Pusat Pasar Sidikkalang, Dairi, Selasa (9/8), para pengusaha grosir rokok bercukai menyampaikan, mereka juga sebenarnya ditawarkan untuk menjual rokok tersebut. Namun, karena rokok tersebut tidak mengikuti prosedur resmi peredaran rokok alias ilegal, para pengusaha tidak mau bekerjasama melakukan penjualan.
Namun, beberapa pedagang terutama pengecer rokok langsung, ada yang mau menjual karena tergiur harga rokok yang cukup murah.

Terpantau di sejumlah kios kecil di seputaran Sidikalang dan seputaran kecamatan di Dairi, rokok merek Luffman tanpa cukai bebas dipajang dan diperjualbelikan. Karena rokok tanpa cukai tersebut lebih murah, banyak pecandu rokok yang beralih. Bahkan mereka pun sering bermaksud membeli rokok Luffman di grosir, karena dikira rokok tersebut tersedia di seluruh grosir dan kios penjual rokok.

Informasi di lapangan, selain rokok merek Luffman tanpa cukai banyak dan bebas beredar di Dairi, dicurigai masih banyak lagi rokok merek lainnya tanpa cukai dan beredar bebas dengan ragam jenis. Jika dibiarkan, Negara akan mengalami kerugian besar karena tidak menerima cukai yang seharusnya dibayarkan untuk seluruh produk rokok.

Sejumlah warga yang mengaku telah lama merokok Luffman mengaku sudah lama rokok tersebut beredar di daerah mereka. Bahkan, di warung pun mudah didapat.

“Barangnya cepat habis karena saking larisnya dan harganya relatif murah. Cuma Rp10.000 satu bungkus. Makanya banyak perokok yang sekaligus membeli satu slop atau isi 10 bungkus dengan harga Rp70.000-Rp80.000,” kata warga.

Baca Juga :  Rokok Luffman Laris di Rantauprapat, Murah Namun Tanpa Cukai

Bebasnya rokok tanpa cukai ini di Dairi dan beberapa kabupaten/kota di Sumatera Utara diduga mendapat ‘perlindungan’ dari oknum-oknum aparat nakal. Karena terkesan ada pembiaran, sementara sudah jelas merugikan Negara, dan meresahkan para pengusaha kios pengecer rokok resmi.

“Kalau kami tidak mau memperjualbelikan rokok Luffman itu Pak, risikonya besar. Apalagi setelah saya baca UU pidananya, ancaman hukumannya rupanya tinggi,” sebut, seorang pemilik grosir rokok.

Namun, dirinya mengaku kecewa karena rokok tersebut tetap beredar walau melanggar aturan dan tidak membayar cukai.

Sementara itu Undang-Undang No 39 Tahun 2007 tentang Cukai, Pasal 54 menyebutkan, menawarkan atau menjual rokok polos atau rokok tanpa cukai terancam pidana penjara 1 sampai 5 tahun, dan/atau pidana denda 2 sampai 10 kali nilai cukai.

Di Simalungun Jadi Primadona Baru

Rokok Luffman juga sudah beredar luas di wilayah Kabupaten Simalungun. Rokok putih dengan cirri khas kotak merah ini sudah menjadi primadona baru bagi kalangan pencandu rokok. Harganya murah menjadi alasan warga memilih rokok tersebut, walau sebagian warga tahu bahwa rokok tersebut illegal.

“Memang tidak semudah mendapatkan rokok jenis lain yang ada cukainya, namun tidak sulit juga asal sudah saling kenal,” kata warga yang tinggal di Kecamatan Panei, Kabupaten Simalungun, Rabu (10/9/2022).

Menurut pantauan di lapangan, rokok ini sudah beradar di setiap kecamatan yang ada di Simalungun. Memang, pendistribusiannya masih melalui penjual langsung kepada pemilik warung. Pihak grosir rokok tidak dilibatkan, karena mereka khawatir mendapat sanksi. (int/esa)

SIANTAR, METRODAILY – Peredaran rokok tanpa cukai merek Luffman, ternyata sudah menyebar di beberada kabupaten/kota di Sumatera Utara. Di beberada daerah, peredarannya masih secara sembunyi-sembunyi, namun di wilayah Kabupaten Dairi, rokok ilegal ini sudah dipajang di warung-warung.

Akibatnya, grosir resmi penjual rokok memakai cukai menjadi resah. Mereka meminta pihak Bea Cukai dan Polisi melakukan tindakan menertibkan peredaran rokok yang tidak membayar pajak cukai kepada Negara itu.

Di Pusat Pasar Sidikkalang, Dairi, Selasa (9/8), para pengusaha grosir rokok bercukai menyampaikan, mereka juga sebenarnya ditawarkan untuk menjual rokok tersebut. Namun, karena rokok tersebut tidak mengikuti prosedur resmi peredaran rokok alias ilegal, para pengusaha tidak mau bekerjasama melakukan penjualan.
Namun, beberapa pedagang terutama pengecer rokok langsung, ada yang mau menjual karena tergiur harga rokok yang cukup murah.

Terpantau di sejumlah kios kecil di seputaran Sidikalang dan seputaran kecamatan di Dairi, rokok merek Luffman tanpa cukai bebas dipajang dan diperjualbelikan. Karena rokok tanpa cukai tersebut lebih murah, banyak pecandu rokok yang beralih. Bahkan mereka pun sering bermaksud membeli rokok Luffman di grosir, karena dikira rokok tersebut tersedia di seluruh grosir dan kios penjual rokok.

Informasi di lapangan, selain rokok merek Luffman tanpa cukai banyak dan bebas beredar di Dairi, dicurigai masih banyak lagi rokok merek lainnya tanpa cukai dan beredar bebas dengan ragam jenis. Jika dibiarkan, Negara akan mengalami kerugian besar karena tidak menerima cukai yang seharusnya dibayarkan untuk seluruh produk rokok.

Sejumlah warga yang mengaku telah lama merokok Luffman mengaku sudah lama rokok tersebut beredar di daerah mereka. Bahkan, di warung pun mudah didapat.

“Barangnya cepat habis karena saking larisnya dan harganya relatif murah. Cuma Rp10.000 satu bungkus. Makanya banyak perokok yang sekaligus membeli satu slop atau isi 10 bungkus dengan harga Rp70.000-Rp80.000,” kata warga.

Baca Juga :  BPOM Uji Jajanan Takjil di Tanjungbalai

Bebasnya rokok tanpa cukai ini di Dairi dan beberapa kabupaten/kota di Sumatera Utara diduga mendapat ‘perlindungan’ dari oknum-oknum aparat nakal. Karena terkesan ada pembiaran, sementara sudah jelas merugikan Negara, dan meresahkan para pengusaha kios pengecer rokok resmi.

“Kalau kami tidak mau memperjualbelikan rokok Luffman itu Pak, risikonya besar. Apalagi setelah saya baca UU pidananya, ancaman hukumannya rupanya tinggi,” sebut, seorang pemilik grosir rokok.

Namun, dirinya mengaku kecewa karena rokok tersebut tetap beredar walau melanggar aturan dan tidak membayar cukai.

Sementara itu Undang-Undang No 39 Tahun 2007 tentang Cukai, Pasal 54 menyebutkan, menawarkan atau menjual rokok polos atau rokok tanpa cukai terancam pidana penjara 1 sampai 5 tahun, dan/atau pidana denda 2 sampai 10 kali nilai cukai.

Di Simalungun Jadi Primadona Baru

Rokok Luffman juga sudah beredar luas di wilayah Kabupaten Simalungun. Rokok putih dengan cirri khas kotak merah ini sudah menjadi primadona baru bagi kalangan pencandu rokok. Harganya murah menjadi alasan warga memilih rokok tersebut, walau sebagian warga tahu bahwa rokok tersebut illegal.

“Memang tidak semudah mendapatkan rokok jenis lain yang ada cukainya, namun tidak sulit juga asal sudah saling kenal,” kata warga yang tinggal di Kecamatan Panei, Kabupaten Simalungun, Rabu (10/9/2022).

Menurut pantauan di lapangan, rokok ini sudah beradar di setiap kecamatan yang ada di Simalungun. Memang, pendistribusiannya masih melalui penjual langsung kepada pemilik warung. Pihak grosir rokok tidak dilibatkan, karena mereka khawatir mendapat sanksi. (int/esa)

iklan simalungun
iklan simalungun

Most Read

Artikel Terbaru

/