alexametrics
27.8 C
Medan
Sunday, August 14, 2022

iklanpemko
iklanpemko

Susah Cari Nafkah di Masa Covid 19, Warga Mulai Stres

SIBOLGA, METRODAILY.id – Setahun lebih, masa pandemi Covid 19 menerpa Indonesia dan dunia, sejak April 2020, masih belum ada titik terang negara Indonesia bisa keluar dari permasalahan tersebut. Bahkan meski vaksin Covid-19, sudah beredar bagi masyarakat dengan persentase yang masih minim, terjangan Covid 19 sudah hampir melumpuhkan pikiran, kesehatan dan ekonomi masyarakat.

“Kita sudah merasa jenuh dan stres akibat Covid ini, sedikit-sedikit Covid, kita sakit Covid. Padahal belum tentu itu penyakit Covid. Bahkan ekonomi keluarga yang sebelumnya masih bisa ditopang dengan kerja keras dan upaya keluarga, saat ini justru sangat terpuruk. Tidak ada pekerjaan yang bisa dicari, jika usaha sendiri sangat susah untuk cari modal,” jelas warga Sibolga R Silalahi (50), Senin (2/8).

Menurut dia, saat ini yang paling memprihatinkan dan menakutkan adalah pikiran yang selalu terfokus pada betapa berbahayanya Covid 19 ini, yang ditandai dengan kebijakan pemerintah yang seolah-olah negara ini saat ini berada dalam situasi yang sangat genting dan mencekam. Terutama karena kebijakan PPKM dan penegakan hukumnya, hal itu dapat dilihat dari pergerakan penegak hukum yang selalu siap siaga baik di daerah maupun di pusat.

“Kita selalu mendapat informasi yang benar-benar mencekam dari perkembangan Covid-19 ini, kalau ada orang sakit langsung covid, jika meninggal dikebumikan Covid. Padahal dari keluarga selalu membantah itu bukan karena Covid, sementara kita sama sekali nggak tahu secara detail penderita covid yang sebenarnya itu bagaimana,” jelas dia.

Baca Juga :  Mendag: Pemerintah Dorong Bisnis Waralaba untuk Majukan Perekonomian

Akibat dari semua ini, katanya, jika orang sakit tidak ada lagi yang berani ke rumah sakit, puskesmas atau pengobatan medis yang terkait dengan pemerintah, takut dikatakan Covid.

“Akibat yang paling parah, lapangan pekerjaan saat ini tidak dapat menopang ekonomi masyarakat, karena tutup, jikapun ada yang buka sifatnya terbatas. Contoh, anak saya sebelum Covid ini bekerja, setelah merebaknya covid, mereka hanya berada di rumah begitu juga saya selaku kepala keluarga. Tidak ada lagi pekerjaan, apalagi yang bisa kami perbuat, mungkin kita cari pekerjaan pun hingga keluar daerah, disana pun tetap sama merana dengan situasi saat ini. Jika ini bertahan terus apa yang dapat kami perbuat?” katanya resah.

Memang, kata dia, pemerintah saat ini memberikan bantuan dengan berbagai cara, baik BLT, BST maupun bantuan lainnya, namun apakah itu mampu menyelesaikan persoalan ekonomi keluarga masyarakat kecil.

“Kita berharap pemerintah harusnya bijak, Covid 19 ini ternyata tidak ada bedanya dengan sakit ‘marun’ kalau di Sibolga Tapteng, jika bahasa Indonesa disebut FLU, karena alat ukur Covid 19 itu persis dengan ciri-ciri penyakit ini, namun kenapa justru terlihat kebijakan pemerintah yang panik ini semakin lama justru semakin berbahaya. Yang kita takutkan nanti, belum selesai mengatasi persoalan Covid-19, ternyata negeri ini sudah maaf sekali kolaps akibat ekonomi yanag terpuruk, karena yakinlah, jika masyarakat tidak makan lagi tentu hal ini akan lebih berbahaya dari perkembangan Covid-19,” terangnya. (mis)

SIBOLGA, METRODAILY.id – Setahun lebih, masa pandemi Covid 19 menerpa Indonesia dan dunia, sejak April 2020, masih belum ada titik terang negara Indonesia bisa keluar dari permasalahan tersebut. Bahkan meski vaksin Covid-19, sudah beredar bagi masyarakat dengan persentase yang masih minim, terjangan Covid 19 sudah hampir melumpuhkan pikiran, kesehatan dan ekonomi masyarakat.

“Kita sudah merasa jenuh dan stres akibat Covid ini, sedikit-sedikit Covid, kita sakit Covid. Padahal belum tentu itu penyakit Covid. Bahkan ekonomi keluarga yang sebelumnya masih bisa ditopang dengan kerja keras dan upaya keluarga, saat ini justru sangat terpuruk. Tidak ada pekerjaan yang bisa dicari, jika usaha sendiri sangat susah untuk cari modal,” jelas warga Sibolga R Silalahi (50), Senin (2/8).

Menurut dia, saat ini yang paling memprihatinkan dan menakutkan adalah pikiran yang selalu terfokus pada betapa berbahayanya Covid 19 ini, yang ditandai dengan kebijakan pemerintah yang seolah-olah negara ini saat ini berada dalam situasi yang sangat genting dan mencekam. Terutama karena kebijakan PPKM dan penegakan hukumnya, hal itu dapat dilihat dari pergerakan penegak hukum yang selalu siap siaga baik di daerah maupun di pusat.

“Kita selalu mendapat informasi yang benar-benar mencekam dari perkembangan Covid-19 ini, kalau ada orang sakit langsung covid, jika meninggal dikebumikan Covid. Padahal dari keluarga selalu membantah itu bukan karena Covid, sementara kita sama sekali nggak tahu secara detail penderita covid yang sebenarnya itu bagaimana,” jelas dia.

Baca Juga :  Ditjen Pajak Sumut I Blokir 2 Rekening Penunggak Pajak

Akibat dari semua ini, katanya, jika orang sakit tidak ada lagi yang berani ke rumah sakit, puskesmas atau pengobatan medis yang terkait dengan pemerintah, takut dikatakan Covid.

“Akibat yang paling parah, lapangan pekerjaan saat ini tidak dapat menopang ekonomi masyarakat, karena tutup, jikapun ada yang buka sifatnya terbatas. Contoh, anak saya sebelum Covid ini bekerja, setelah merebaknya covid, mereka hanya berada di rumah begitu juga saya selaku kepala keluarga. Tidak ada lagi pekerjaan, apalagi yang bisa kami perbuat, mungkin kita cari pekerjaan pun hingga keluar daerah, disana pun tetap sama merana dengan situasi saat ini. Jika ini bertahan terus apa yang dapat kami perbuat?” katanya resah.

Memang, kata dia, pemerintah saat ini memberikan bantuan dengan berbagai cara, baik BLT, BST maupun bantuan lainnya, namun apakah itu mampu menyelesaikan persoalan ekonomi keluarga masyarakat kecil.

“Kita berharap pemerintah harusnya bijak, Covid 19 ini ternyata tidak ada bedanya dengan sakit ‘marun’ kalau di Sibolga Tapteng, jika bahasa Indonesa disebut FLU, karena alat ukur Covid 19 itu persis dengan ciri-ciri penyakit ini, namun kenapa justru terlihat kebijakan pemerintah yang panik ini semakin lama justru semakin berbahaya. Yang kita takutkan nanti, belum selesai mengatasi persoalan Covid-19, ternyata negeri ini sudah maaf sekali kolaps akibat ekonomi yanag terpuruk, karena yakinlah, jika masyarakat tidak makan lagi tentu hal ini akan lebih berbahaya dari perkembangan Covid-19,” terangnya. (mis)

iklan-usi
iklanpemko
iklanpemko
iklan-usi

Most Read

Artikel Terbaru

/