alexametrics
26.8 C
Medan
Friday, August 19, 2022

iklanpemko
iklanpemko

Pekerja Informal Juga Memiliki Resiko

iklan-usi

Jumlah pekerja informal di Indonesia lebih banyak dibanding pekerja formal (pekerja penerima upah). Namun selama ini, kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan masih didominasi oleh pekerja formal. Padahal seluruh profesi memiliki risiko, yang dapat terjadi kapan saja dan di mana saja.

***

Per Agustus 2021, jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai 140,15 juta orang. Dari angka itu, jumlah pekerja informal mencapai hampir 60 persen atau sekitar 84 juta orang. Dari 84 juta pekerja bukan penerima upah (BPU) tersebut, saat ini yang terdaftar menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan masih hanya 2,5 juta orang. Artinya, ada sekitar 81,5 juta lagi yang belum mendapat jaminan perlindungan sosial.

Para pekerja informal itu mengisi berbagai ceruk profesi, seperti guru honorer, guru ngaji, marbot masjid, penatua gereja, pengemudi ojek online, pedagang, sopir angkutan, nelayan, petani, buruh harian lepas, pekerja rumah tangga, dan sebagainya.

Jadi selama ini, apa jaminan perlindungan sosial yang mereka miliki?

“Terus terang, Sintua belum ada. Sejumlah pendeta memang sudah banyak yang menjadi peserta (BPJS Ketenagakerjaan, Red). Namun untuk kalangan Sintua masih perlu perhatian,” cetus Ketua Kelompok III Pendeta Marjuni Nababan STh, dalam Sinode (Rapat) HKBP Distrik X Medan Aceh di Universitas HKBP Nomensen Medan, 22-23 November 2021 lalu. Sintua adalah sebutan untuk para pekerja yang melayani di gereja, yang biasanya hanya menerima honor tidak tetap dari jemaat yang dilayani.

Karena itu, peserta sinode mengusulkan agar semua ressort dan huria untuk mendaftarkan semua Sintua menjadi anggota BPJS Ketenagakerjaan.

Praeses HKBP Distrik X Medan Aceh mendukung usulan itu. “Akan dikoordinasikan dengan BPJS Ketenagakerjaan setempat  untuk kelanjutan program Diakonia ini,” katanya.

Kepala BPJS Ketenagakerjaan Sibolga, Dr. Sanco Simanullang, menyambut baik rencana memasukkan seluruh Sintua menjadi peserta Jamsostek. “Mengucapkan terima kasih kepada bapak Praeses, Panitia Sinode dan seluruh unsur pendeta, full timer, sintua dan unsur ruas atas rekomendasi ini,” ujar Sanco.

Kata Sanco, Jamsostek di manapun di seluruh Indonesia siap memfasilitasi pendaftaran para pelayan keagamaan. “Termasuk HKBP,” katanya. Ia mencontohkan, saat ini seluruh pelayan dan sejumlah jemaat Gereja HKBP Tarutung Bolak Ressort Naipospos, Tapanuli Utara, telah resmi menjadi peserta Jamsostek Cabang Sibolga. “Secara marathon, kami terus  menyasar para pekerja keagamaan  agar mendaftarkan diri di BPJS Ketenagakerjaan. Tujuannya, untuk mengatasi resiko sosial,” katanya.

Di BPJamsostek Cabang Sibolga Kota, saat ini  pekerja informal yang aktif total sekitar 10.475 orang. Terdiri dari profesi pedagang, nelayan, buruh harian lepas, bongkar muat, wiraswasta, buruh tangkahan, tukang becak, sopir, dll. Kerap kali, para pekerja ini tidak terlindungi dari jaminan resiko kecelakaan dan masa tua.

Beruntung, sejak tahun 2021 ini, Pemerintah Kota Sibolga telah memberikan perlindungan kepada sekitar 5.000 pekerja rentan informal.  “Jadi dari 10 ribuan pekerja informal yang aktif di Sibolga , 5.000-an merupakan bantuan dari Pemko setempat, yang dananya bersumber dari anggaran APBD tahun 2021,” katanya..

Adapun profesi yang terbanyak mendaftar di Sibolga adalah dari sektor nelayan dan Buruh Harian Lepas (BHL).

Sanco berharap, gerakan kepedulian terhadap jaminan sosial akan terus mengalir ke berbagai lini pekerja informal lainnya, termasuk di daerah-daerah lain.

 

Manfaat Keanggotaan BPJS Ketenagakerjaan

Apa saja manfaat keanggotaan yang disediakan BPJS Ketenagakerjaan bagi pekerja informal?

Baca Juga :  Pasar Baru Panyabungan Masih Kurang Fasilitas

“Berbagai manfaat akan didapatkan pekerja informal yang jadi peserta BP Jamsostek, antara lain Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), dan Jaminan Kematian,” kata Sanco.

Cukup dengan membayar iuran program mulai Rp16.800 per bulan, pekerja akan mendapatkan perlindungan Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK). Manfaatnya berupa pengobatan tanpa biaya. Sedangkan Jaminan Kematian (JKM), manfaatnya akan diterima ahli waris jika peserta meninggal dunia.

“Jadi kalau ada yang meninggal, maka pendidikan anaknya ditanggung sampai perguruan tinggi. Kemudian yang di-cover tidak hanya satu anak, tapi dua anak. Itu salah satu cara kita melahirkan generasi-generasi baru yang masa depannya sudah kita pikirkan,” ucapnya.

BPJS Ketenagakerjaan memang melakukan perluasan program perlindungan ke pekerja informal, khususnya di masa pandemi ini di mana jumlah pekerja informal naik cukup signifikan. “Data Februari 2021, pekerja informal seluruh Indonesia jumlahnya itu 59 persen –hampir 60 persen– adalah pekerja bukan penerima upah,” kata Sanco.

Untuk pekerja BPU, iuran yang dibayarkan sangat terjangkau. Mulai dari 16.800 per bulan untuk perlindungan 2 progam yang terdiri dari Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM). Peserta juga dapat mengikuti program Jaminan Hari Tua(JHT) dengan menambah iuran mulai dari 20.000 per bulannya.

Peserta pun dapat menentukan sendiri dasar upah yang digunakan untuk perhitungan iuran.

Dengan menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan, manfaat perlindungan yang akan didapatkan menyeluruh. Mulai dari perawatan tanpa batas biaya sesuai indikasi medis hingga sembuh bagi peserta yang mengalami kecelakaan kerja.

Selanjutnya apabila dalam masa pemulihan, peserta tidak dapat bekerja untuk sementara waktu, BPJS Ketenagakerjaan juga akan memberikan santunan Sementara Tidak Mampu Bekerja (STMB) sebesar 100% upah yang dilaporkan selama 12 bulan pertama dan 50% untuk bulan selanjutnya hingga sembuh.

Tak hanya itu jika peserta meninggal dunia karena kecelakaan kerja, maka ahli waris berhak mendapatkan santunan JKK sebesar 48 kali upah terakhir yang dilaporkan.

Sedangkan jika meninggal dunia bukan karena kecelakaan kerja, maka santunan yang akan diterima adalah sebesar Rp42 juta. Selain itu 2 orang anak dari peserta juga akan mendapatkan beasiswa dari jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi maksimal sebesar Rp174 juta.

Sanco berharap, jumlah peserta terus meningkat, dan manfaat yang ada di dalam program Jamsostek mampu membantu para pekerja dalam menghadapi kondisi sulit ini di masa pandemi Covid-19.

Untuk mendaftar sebagai anggota BPJS ketenagakerjaan, kata dia, ada dua cara. Cara pertama yaitu mendaftar secara online,  melalui website bpjsketenagakerjaan.go.id/bpu. Selain itu bisa melalui website pasar polis. Cara kedua, melalui kantor BPJS Ketenagakerjaan, Perisai, Wadah, agregator, dan perbankan yang bekerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan.

“Proses mendaftar melalui website BPJAMSOSTEK hanya membutuhkan waktu kurang dari 5 menit. Metode pembayaran instan juga banyak, seperti QRIS, Go-Pay, Shopee Pay dan lainnya,” kata Sanco.  Kartu kepesertaan diterima paling lama 7 hari setelah pembayaran iuran.

Dengan mendaftar ke BPJS Ketenagakerjaan, jelas Sanco, pekerja akan lebih terlindungi dari resiko kecelakaan dan di hari tua. Dan jika si pekerja yang menjadi tulang punggung keluarga meninggal, keluarga yang ditinggalkan akan terbantu untuk menyambung kehidupan. (dame)

Jumlah pekerja informal di Indonesia lebih banyak dibanding pekerja formal (pekerja penerima upah). Namun selama ini, kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan masih didominasi oleh pekerja formal. Padahal seluruh profesi memiliki risiko, yang dapat terjadi kapan saja dan di mana saja.

***

Per Agustus 2021, jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai 140,15 juta orang. Dari angka itu, jumlah pekerja informal mencapai hampir 60 persen atau sekitar 84 juta orang. Dari 84 juta pekerja bukan penerima upah (BPU) tersebut, saat ini yang terdaftar menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan masih hanya 2,5 juta orang. Artinya, ada sekitar 81,5 juta lagi yang belum mendapat jaminan perlindungan sosial.

Para pekerja informal itu mengisi berbagai ceruk profesi, seperti guru honorer, guru ngaji, marbot masjid, penatua gereja, pengemudi ojek online, pedagang, sopir angkutan, nelayan, petani, buruh harian lepas, pekerja rumah tangga, dan sebagainya.

Jadi selama ini, apa jaminan perlindungan sosial yang mereka miliki?

“Terus terang, Sintua belum ada. Sejumlah pendeta memang sudah banyak yang menjadi peserta (BPJS Ketenagakerjaan, Red). Namun untuk kalangan Sintua masih perlu perhatian,” cetus Ketua Kelompok III Pendeta Marjuni Nababan STh, dalam Sinode (Rapat) HKBP Distrik X Medan Aceh di Universitas HKBP Nomensen Medan, 22-23 November 2021 lalu. Sintua adalah sebutan untuk para pekerja yang melayani di gereja, yang biasanya hanya menerima honor tidak tetap dari jemaat yang dilayani.

Karena itu, peserta sinode mengusulkan agar semua ressort dan huria untuk mendaftarkan semua Sintua menjadi anggota BPJS Ketenagakerjaan.

Praeses HKBP Distrik X Medan Aceh mendukung usulan itu. “Akan dikoordinasikan dengan BPJS Ketenagakerjaan setempat  untuk kelanjutan program Diakonia ini,” katanya.

Kepala BPJS Ketenagakerjaan Sibolga, Dr. Sanco Simanullang, menyambut baik rencana memasukkan seluruh Sintua menjadi peserta Jamsostek. “Mengucapkan terima kasih kepada bapak Praeses, Panitia Sinode dan seluruh unsur pendeta, full timer, sintua dan unsur ruas atas rekomendasi ini,” ujar Sanco.

Kata Sanco, Jamsostek di manapun di seluruh Indonesia siap memfasilitasi pendaftaran para pelayan keagamaan. “Termasuk HKBP,” katanya. Ia mencontohkan, saat ini seluruh pelayan dan sejumlah jemaat Gereja HKBP Tarutung Bolak Ressort Naipospos, Tapanuli Utara, telah resmi menjadi peserta Jamsostek Cabang Sibolga. “Secara marathon, kami terus  menyasar para pekerja keagamaan  agar mendaftarkan diri di BPJS Ketenagakerjaan. Tujuannya, untuk mengatasi resiko sosial,” katanya.

Di BPJamsostek Cabang Sibolga Kota, saat ini  pekerja informal yang aktif total sekitar 10.475 orang. Terdiri dari profesi pedagang, nelayan, buruh harian lepas, bongkar muat, wiraswasta, buruh tangkahan, tukang becak, sopir, dll. Kerap kali, para pekerja ini tidak terlindungi dari jaminan resiko kecelakaan dan masa tua.

Beruntung, sejak tahun 2021 ini, Pemerintah Kota Sibolga telah memberikan perlindungan kepada sekitar 5.000 pekerja rentan informal.  “Jadi dari 10 ribuan pekerja informal yang aktif di Sibolga , 5.000-an merupakan bantuan dari Pemko setempat, yang dananya bersumber dari anggaran APBD tahun 2021,” katanya..

Adapun profesi yang terbanyak mendaftar di Sibolga adalah dari sektor nelayan dan Buruh Harian Lepas (BHL).

Sanco berharap, gerakan kepedulian terhadap jaminan sosial akan terus mengalir ke berbagai lini pekerja informal lainnya, termasuk di daerah-daerah lain.

 

Manfaat Keanggotaan BPJS Ketenagakerjaan

Apa saja manfaat keanggotaan yang disediakan BPJS Ketenagakerjaan bagi pekerja informal?

Baca Juga :  Indonesia Targetkan Jadi Negara Maju, Mendag: ASEAN Harus Kompak

“Berbagai manfaat akan didapatkan pekerja informal yang jadi peserta BP Jamsostek, antara lain Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), dan Jaminan Kematian,” kata Sanco.

Cukup dengan membayar iuran program mulai Rp16.800 per bulan, pekerja akan mendapatkan perlindungan Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK). Manfaatnya berupa pengobatan tanpa biaya. Sedangkan Jaminan Kematian (JKM), manfaatnya akan diterima ahli waris jika peserta meninggal dunia.

“Jadi kalau ada yang meninggal, maka pendidikan anaknya ditanggung sampai perguruan tinggi. Kemudian yang di-cover tidak hanya satu anak, tapi dua anak. Itu salah satu cara kita melahirkan generasi-generasi baru yang masa depannya sudah kita pikirkan,” ucapnya.

BPJS Ketenagakerjaan memang melakukan perluasan program perlindungan ke pekerja informal, khususnya di masa pandemi ini di mana jumlah pekerja informal naik cukup signifikan. “Data Februari 2021, pekerja informal seluruh Indonesia jumlahnya itu 59 persen –hampir 60 persen– adalah pekerja bukan penerima upah,” kata Sanco.

Untuk pekerja BPU, iuran yang dibayarkan sangat terjangkau. Mulai dari 16.800 per bulan untuk perlindungan 2 progam yang terdiri dari Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM). Peserta juga dapat mengikuti program Jaminan Hari Tua(JHT) dengan menambah iuran mulai dari 20.000 per bulannya.

Peserta pun dapat menentukan sendiri dasar upah yang digunakan untuk perhitungan iuran.

Dengan menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan, manfaat perlindungan yang akan didapatkan menyeluruh. Mulai dari perawatan tanpa batas biaya sesuai indikasi medis hingga sembuh bagi peserta yang mengalami kecelakaan kerja.

Selanjutnya apabila dalam masa pemulihan, peserta tidak dapat bekerja untuk sementara waktu, BPJS Ketenagakerjaan juga akan memberikan santunan Sementara Tidak Mampu Bekerja (STMB) sebesar 100% upah yang dilaporkan selama 12 bulan pertama dan 50% untuk bulan selanjutnya hingga sembuh.

Tak hanya itu jika peserta meninggal dunia karena kecelakaan kerja, maka ahli waris berhak mendapatkan santunan JKK sebesar 48 kali upah terakhir yang dilaporkan.

Sedangkan jika meninggal dunia bukan karena kecelakaan kerja, maka santunan yang akan diterima adalah sebesar Rp42 juta. Selain itu 2 orang anak dari peserta juga akan mendapatkan beasiswa dari jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi maksimal sebesar Rp174 juta.

Sanco berharap, jumlah peserta terus meningkat, dan manfaat yang ada di dalam program Jamsostek mampu membantu para pekerja dalam menghadapi kondisi sulit ini di masa pandemi Covid-19.

Untuk mendaftar sebagai anggota BPJS ketenagakerjaan, kata dia, ada dua cara. Cara pertama yaitu mendaftar secara online,  melalui website bpjsketenagakerjaan.go.id/bpu. Selain itu bisa melalui website pasar polis. Cara kedua, melalui kantor BPJS Ketenagakerjaan, Perisai, Wadah, agregator, dan perbankan yang bekerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan.

“Proses mendaftar melalui website BPJAMSOSTEK hanya membutuhkan waktu kurang dari 5 menit. Metode pembayaran instan juga banyak, seperti QRIS, Go-Pay, Shopee Pay dan lainnya,” kata Sanco.  Kartu kepesertaan diterima paling lama 7 hari setelah pembayaran iuran.

Dengan mendaftar ke BPJS Ketenagakerjaan, jelas Sanco, pekerja akan lebih terlindungi dari resiko kecelakaan dan di hari tua. Dan jika si pekerja yang menjadi tulang punggung keluarga meninggal, keluarga yang ditinggalkan akan terbantu untuk menyambung kehidupan. (dame)

iklanpemko
iklanpemko
iklanpemko

Most Read

Artikel Terbaru

/