TAPUT, METRODAILY – Pulau Sibandang mulai mencuri perhatian sebagai salah satu destinasi wisata potensial di kawasan Danau Toba.
Pulau yang berada di wilayah Kabupaten Tapanuli Utara ini disebut memiliki daya tarik lengkap, mulai dari panorama alam, budaya Batak Toba, sejarah peradaban kuno, hingga kekayaan hayati yang masih terjaga.
Meski belum sepopuler Pulau Samosir, Pulau Sibandang dinilai memiliki peluang besar menjadi magnet wisata baru di kawasan Danau Toba.
Pulau Sibandang dikenal sebagai pulau terbesar kedua di Danau Toba setelah Pulau Samosir. Pulau seluas sekitar 850 hektare itu dihuni sekitar 3.000 jiwa dan berada tidak jauh dari daratan Kecamatan Muara.
Baca Juga: Tak Diberi Uang Rokok, Pria Lempari Ayah Kandung Pakai Batu
Keindahan alam Pulau Sibandang dipadukan dengan kekayaan biodiversitas khas seperti mangga udang Sibandang, pohon Hariara, kayu ingul, hingga tanaman kemiri yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Kayu ingul bahkan dikenal kuat dan kerap digunakan masyarakat sebagai bahan pembuatan kapal serta material bangunan.
Tak hanya alam, Pulau Sibandang juga menyimpan tradisi budaya yang masih lestari. Salah satunya pembuatan pewarna alami untuk kain tenun ulos yang masih ditekuni para ibu rumah tangga di Desa Papande.
Baca Juga: Program Light Up The Dream, PLN UP3 Siantar Nyalakan Listrik Gratis untuk Warga
Warna alami kain diperoleh dari tumbuhan khas pulau tersebut, termasuk warna biru dari kayu sona. Tenun ulos berbahan pewarna alami dinilai memiliki kualitas dan nilai jual lebih tinggi.
Dari sisi sejarah dan geologi, Pulau Sibandang menyimpan batuan vulkanik hasil letusan purba Danau Toba yang dahulu digunakan sebagai Batu Lesung oleh masyarakat kuno.
Salah satu titik favorit wisatawan adalah Dolok Natissuk yang menawarkan panorama Danau Toba dari sudut pandang 360 derajat.
Dari lokasi tersebut, wisatawan dapat melihat jelas bentang kaldera raksasa Danau Toba yang terbentuk ribuan tahun lalu.
Baca Juga: Remaja 16 Tahun Curi HP Satpam Hotel, Dijual via Black Market
Kekayaan budaya Pulau Sibandang juga tercermin melalui tradisi tortor hoda-hoda, kerajinan ulos Harungguan, hingga pola perkampungan masyarakat Batak Toba yang hidup berkelompok berdasarkan marga.
Pulau ini juga memiliki Rumah Bolon peninggalan Raja Pardopur, tokoh pertama yang disebut menghuni Pulau Sibandang. Rumah adat tersebut dihiasi ornamen khas Batak berwarna merah, hitam, dan putih yang sarat makna filosofis.
Namun, pengembangan sektor wisata di Pulau Sibandang masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan sumber daya manusia, minimnya fasilitas wisata, hingga rendahnya investasi.
Baca Juga: Pria Asal Siantar Ditemukan Tewas di Eks RS Herna Tebingtinggi, Diduga Sakit
Sekretaris Daerah Kabupaten Tapanuli Utara, Hendri Sitompul, mengakui pengembangan Pulau Sibandang membutuhkan dukungan investasi besar.
“Benar, kita sangat membutuhkan investasi. Sudah ada pembicaraan mengarah ke sana dengan sejumlah pihak yang berminat berinvestasi di Pulau Sibandang,” ujar Hendri Sitompul, Sabtu (9/5/2026).
Secara administratif, Pulau Sibandang terdiri dari tiga desa, yakni Desa Sampuran, Desa Papande, dan Desa Sibandang. Mayoritas masyarakat bekerja di sektor pertanian dan perkebunan.
Pulau ini juga terkenal sebagai sentra penghasil mangga dengan cita rasa manis yang telah dikenal luas di Sumatera Utara.
Baca Juga: Buruh Bangunan di Simalungun Curi HP Rekan Kerja dari Rumah Kosong
Akses menuju Pulau Sibandang dinilai cukup mudah melalui kapal penyeberangan dan kapal motor penumpang dari Kecamatan Muara.
Switno Rajagukguk, yang kerap menjadi pemandu wisata di kawasan tersebut, menyebut jumlah kunjungan wisatawan saat akhir pekan bisa mencapai sekitar 300 orang.
Wisatawan biasanya datang untuk memancing, wisata religi, penelitian, hingga menikmati paket wisata Muara–Sibandang.
Menurutnya, Pulau Sibandang memiliki potensi besar menjadi destinasi wisata unggulan baru di Danau Toba apabila mendapat dukungan infrastruktur, investasi, dan pengelolaan wisata yang berkelanjutan. (net)