Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Desa Bawomataluo Dikebut Masuk UNESCO, Tradisi Lompat Batu Jadi Andalan

Editor Satu • Kamis, 2 April 2026 | 11:10 WIB

Suasana temu pers Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sumut di Kantor Gubernur Sumut yang memaparkan lonjakan 360 ribu wisatawan selama Lebaran 2026.

Suasana temu pers Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sumut di Kantor Gubernur Sumut yang memaparkan lonjakan 360 ribu wisatawan selama Lebaran 2026.

MEDAN, METRODAILY – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mempercepat langkah menjadikan Desa Bawomataluo sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Desa adat di Kabupaten Nias Selatan ini dinilai memiliki keunikan budaya megalitik yang langka dan masih terjaga hingga kini.

Status Bawomataluo sendiri telah masuk dalam tentative list UNESCO sejak 2009. Kini, pemerintah daerah tengah mendorong percepatan pengakuan internasional melalui penyusunan dokumen resmi atau dossier.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Sumut, Yuda Pratiwi Setiawan, mengatakan proses saat ini memasuki tahap penting.

Baca Juga: DPR RI Dorong Bank Sumut Jadi Lokomotif Ekonomi Daerah, Targetkan Lonjakan PAD dan Kredit UMKM

“Saat ini kami sedang memproses Desa Bawomataluo agar dapat menjadi situs warisan UNESCO. Setelah sosialisasi di Nias, kami akan melanjutkan penyusunan dossier,” ujarnya dalam konferensi pers di Kantor Gubernur Sumut, Rabu (1/4/2026).

Warisan Megalitik yang Masih Hidup

Bawomataluo memiliki nilai budaya tinggi yang tidak hanya terlihat dari artefak fisik, tetapi juga dari sistem kehidupan masyarakatnya. Desa ini berada di ketinggian 324 mdpl dengan lanskap perkampungan tradisional yang masih autentik.

Salah satu ikon utama adalah Omo Sebua, rumah adat milik raja yang telah berusia lebih dari 200 tahun dan menjadi simbol arsitektur khas Nias.

Baca Juga: Sindikat Jual Beli Bayi di Belawan Digulung, Bayi Dihargai Rp12 Juta Lalu Dijual Rp25 Juta

Selain itu, tradisi Fahombo atau lompat batu masih terus dilestarikan. Atraksi ini menjadi magnet wisata yang menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara.

“Keaslian tradisi lompat batu menjadi daya tarik utama yang tidak dimiliki daerah lain,” kata Yuda.

Masuk Tahap Penilaian UNESCO

Setelah sosialisasi, tahapan berikutnya adalah penyusunan Preliminary Assessment—dokumen awal yang menjadi syarat sebelum pengajuan nominasi penuh ke UNESCO.

Tahapan ini krusial karena akan menentukan kelayakan Bawomataluo untuk masuk dalam daftar Warisan Dunia secara resmi.

Baca Juga: Sadis! Suami Sayat Wajah Istri di Siantar, Korban Jalani 170 Jahitan

Selain fokus pada Bawomataluo, Pemprov Sumut juga memperkuat perlindungan cagar budaya. Pada 2025, sejumlah situs telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional, antara lain Candi Bahal I, II, dan III, Masjid Azizi, serta Istana Maimun.

Untuk tahun 2026, tujuh objek kembali diusulkan naik status menjadi cagar budaya nasional, termasuk situs candi, sumur minyak bersejarah di Langkat, hingga makam dan situs budaya di Nias Selatan dan Barus.

Hingga kini, tercatat 894 cagar budaya di tingkat kabupaten/kota dan 46 di tingkat provinsi Sumatera Utara.

Kabid Perlindungan dan Pemeliharaan Cagar Budaya Sumut, Rais Kari, menegaskan bahwa pelestarian membutuhkan kolaborasi lintas pemerintah.

Baca Juga: Puting Beliung Terjang Karang Anyar, 81 Rumah Rusak dan Warga Luka Berat

“Biaya perlindungan cagar budaya cukup besar, sehingga perlu dukungan pemerintah pusat agar pelestarian berjalan optimal,” ujarnya.

Dengan percepatan proses ini, Bawomataluo diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan Sumatera Utara, tetapi juga diakui dunia sebagai warisan budaya yang bernilai universal. (rel/dis)

Editor : Editor Satu
#Desa Bawomataluo #Warisan Dunia UNESCO