TAPSEL, METRODAILY – Aktivitas ekowisata berbasis konservasi di Batang Toru, Tapanuli Selatan, terpaksa dihentikan sementara akibat bencana longsor yang merusak jalur trekking hutan.
Longsoran tanah, batu, dan kayu tumbang menutup jalur utama serta alur sungai, meningkatkan risiko keselamatan bagi wisatawan.
Pengelola Tapanuli Trekking Tour, Decky Chandrawan, menjelaskan, seluruh aktivitas wisata diperkirakan baru bisa dibuka kembali awal Februari 2026, setelah dilakukan asesmen dan pemetaan ulang jalur aman.
“Kami baru bisa menerima tamu di awal Februari 2026, padahal sudah ada pemesanan wisatawan mancanegara pada akhir dan awal tahun,” ujar Decky, Kamis (5/2).
Baca Juga: Progres Huntap Korban Banjir Tapsel Capai 30 Persen, Target Rampung April
Pembatalan kunjungan berdampak langsung pada pendapatan masyarakat sekitar, mulai dari pemandu lokal, pengelola homestay, porter, hingga penyedia jasa konsumsi.
Beberapa titik longsor ditemukan di sempadan sungai dan area bekas pembukaan lahan, menunjukkan rusaknya daya serap tanah di wilayah hulu.
Pengamat lingkungan menilai, lemahnya pengawasan dan alih fungsi hutan memperbesar risiko bencana hidrometeorologi.
Bencana ini menjadi peringatan penting perlunya perbaikan tata kelola hutan Batang Toru untuk menjamin keberlanjutan ekowisata sekaligus ekonomi masyarakat lokal. (net)
Editor : Editor Satu