JAKARTA, METRODAILY – Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana menegaskan Danau Toba bukan hanya sekadar destinasi wisata alam, melainkan warisan Batak yang sarat sejarah, kepercayaan, dan budaya.
“Danau Toba sudah tercatat dalam manuskrip Batak dan artefaknya. Ini bukan sekadar destinasi biasa, tapi warisan leluhur yang bernilai tinggi,” kata Widiyanti dalam webinar internasional “Quo Vadis Manuskrip dan Artefak Batak” via Zoom, Jumat (26/9).
Ia menyebut, kekayaan budaya dan sejarah di balik Danau Toba menjadi daya tarik unik yang membedakannya dari destinasi lain di dunia.
Baca Juga: Pererat Komunikasi, BPJS Ketenagakerjaan Binjai Gelar Gathering Perusahaan
“Mereka yang datang ke Danau Toba bukan hanya melihat alamnya, tapi juga menghargai pengetahuan, cerita, dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.
Menurut Widiyanti, manuskrip Batak dan berbagai artefak peninggalan leluhur kini tersimpan di sejumlah koleksi museum dunia. Hal ini sekaligus menjadi peluang untuk memperkenalkan Danau Toba dan budaya Batak ke ranah internasional.
Senada, Ketua Pengurus Yayasan Universitas HKBP Nommensen, Effendi MS Simbolon, menilai budaya Batak memiliki kekayaan historis, spiritual, dan kultural yang tak ternilai.
Baca Juga: Kalahkan Napoli, AC Milan Puncaki Klasemen Liga Italia
Namun, ia menyoroti fakta bahwa koleksi terbesar manuskrip Batak justru berada di luar negeri, khususnya di Jerman, Belanda, dan Denmark.
“Di Indonesia, hanya ada replika atau jumlah yang sangat terbatas. Kalau tidak ada upaya pelestarian dan repatriasi, manuskrip Batak bisa sulit diakses masyarakat, bahkan berisiko hilang,” ungkap Effendi.
Ia menegaskan pihaknya akan terus mendorong upaya revitalisasi, pelestarian, dan perlindungan manuskrip serta artefak Batak melalui berbagai kegiatan, termasuk webinar.
“Ada banyak artefak Batak di luar negeri. Kita akan berupaya mengenali, melindungi, dan melestarikannya karena ini warisan leluhur yang berharga,” tegasnya. (net)
Editor : Editor Satu