Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Selamatkan Kaldera Toba dari Kartu Kuning UNESCO, Samosir Gelar Festival Budaya Batak Rumahela 2025

Editor Satu • Jumat, 4 Juli 2025 | 13:10 WIB
Bupati Samosir Vandiko T. Gultom membuka pelaksanaan Festival Wisata Edukasi Leluhur Batak Rumahela 2025 di halaman kantor bupati.
Bupati Samosir Vandiko T. Gultom membuka pelaksanaan Festival Wisata Edukasi Leluhur Batak Rumahela 2025 di halaman kantor bupati.

SAMOSIR, METRODAILY – Festival Wisata Edukasi Leluhur Batak (FWELB) Rumahela 2025 resmi dibuka, Selasa (1/7), di halaman Kantor Bupati Samosir.

Perhelatan budaya ini bukan sekadar acara tahunan, tapi juga misi penyelamatan warisan dunia: Geopark Kaldera Toba dari ancaman pencabutan status UNESCO!

Mengusung tema “Hokkop Ma Tanom, Paangur Bona Ni Pinasam” (Rawatlah Bumi, Lestarikan Budayamu), festival yang berlangsung 1–10 Juli ini dipersembahkan Komunitas Rumahela Raja Isombaon dan Siboru Siakgoina.

Baca Juga: Dipecat Sepihak oleh Kasek, Guru Honorer SD di Taput Lapor ke Wakil Bupati

Acara dibuka langsung oleh Bupati Samosir Vandiko Timotius Gultom, didampingi Pembina Komunitas Rumahela sekaligus Anggota DPR RI, Hinca IP. Panjaitan XIII, dan Forkopimda Samosir.

“Festival ini bukan sekadar perayaan, tapi bentuk jawaban atas kartu kuning dari UNESCO untuk Kaldera Toba. Kami ingin tunjukkan bahwa budaya Batak masih hidup, dan kami siap merawat bumi warisan leluhur,” tegas Vandiko.

Ia menekankan pentingnya menjaga tiga pilar utama Geopark: keragaman geologi, hayati, dan budaya. Pemkab Samosir pun berkomitmen mencegah perusakan lingkungan seperti pembakaran hutan yang bisa menggagalkan revalidasi Geopark dari UNESCO.

“Jangan sampai Geopark Kaldera Toba kehilangan status karena kita lalai,” ujar Vandiko.

Baca Juga: Vending Machine UMK Hadir di Pelabuhan Ajibata, Bantu Produk Lokal Tembus Wisatawan
 
Rumahela Jadi Ikon Perlawanan Budaya

Hinca Panjaitan menambahkan, FWELB 2025 adalah “suara perlawanan senyap” terhadap modernisasi yang melucuti akar budaya Batak. Festival ini adalah ruang edukasi, kontemplasi, dan aksi nyata pelestarian.

“Kami tak mau budaya hanya jadi tontonan. Rumahela adalah panggilan pulang untuk generasi muda Batak agar menjaga tanah leluhurnya,” ujar Hinca dengan lantang.

Ia menegaskan, Geopark bukan sekadar label internasional, tapi amanah peradaban. “Jangan tunggu pujian dunia, cintailah lebih dulu tanahmu sendiri,” seru Hinca, yang meminta festival ini dijadikan agenda tahunan nasional.

Baca Juga: Karhutla di Samosir Meluas Dipicu Angin Kencang, 100 Hektare Hutan Ludes

Festival ini menghadirkan beragam kegiatan budaya:

  • Ritual adat menghormati pencipta

  • Penanaman pohon

  • Horja Bolon dan Torsa-Torsa

  • Dialog budaya lintas generasi

  • Ekspedisi ke situs-situs budaya Batak

Semua kegiatan ini dirancang agar anak muda Batak, generasi milenial dan Gen Z, tak kehilangan jati diri budaya leluhur.

 
Siap Sambut Event Internasional

Festival Rumahela juga dijadikan “pemanasan” menuju dua event internasional besar yang akan digelar di Samosir:

  • Aquabike Jetski World Championship (13–17 Agustus 2025)

  • Ultra Trail du Mont Blanc (UTMB), 17–19 Oktober 2025

Diharapkan festival budaya seperti Rumahela bisa memperkaya pengalaman wisatawan global, sekaligus memulihkan citra Kaldera Toba di mata UNESCO.

“Merawat bumi dan budaya hanya bisa dilakukan bersama-sama,” tutup Hinca. Ia berharap Pemkab Samosir terus menjadikan festival ini ikon pelestarian budaya dan lingkungan di Tanah Batak.

Baca Juga: Menara Doa Sinatapan di Samosir Jadi Magnet Wisata Rohani dan Pernikahan Adat

Acara pembukaan dihadiri jajaran OPD, Pabung Kodim 0210/TU, tokoh masyarakat, dan komunitas Rumahela dari seluruh Indonesia. (net)

Editor : Editor Satu
#Festival Budaya Batak Rumahela 2025 #kaldera toba #unesco