SAMOSIR, METRODAILY — Pondok-pondok kayu sederhana yang berjejer di sepanjang bibir Pantai Pasir Putih Parbaba, Kabupaten Samosir, kini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Dibangun dari bahan alam seperti papan pinus dan bambu, pondok-pondok ini menawarkan suasana asri dan teduh di tengah pesona Danau Toba.
Pondok beratap seng ini dirancang terbuka pada keempat sisinya, membiarkan angin dan aroma khas Danau Toba mengalir bebas. “Untung ada pondok ini, jadi kami bisa berteduh sambil menikmati indahnya danau,” kata Fitri, wisatawan asal Riau, saat ditemui Selasa (24/6/2025).
Baca Juga: Jelang HUT Bhayangkara, Polres Tapsel Salurkan Bansos untuk Pensiunan Polri
Tak hanya menjadi tempat beristirahat, pondok kayu ini juga jadi lokasi favorit wisatawan untuk menyantap makanan dan minuman sambil menikmati panorama. Tarif sewanya pun sangat terjangkau, rata-rata Rp50.000 per hari, sudah termasuk pelayanan kebersihan dan keamanan.
Namun, di balik popularitasnya, keberadaan pondok kayu kini menjadi sorotan. Pemerintah daerah dikabarkan akan menertibkan bangunan rakyat ini dengan alasan penataan kawasan wisata. Hal itu memicu kegelisahan pelaku usaha lokal.
“Kami heran, pondok rakyat mau ditertibkan, tapi bangunan besar milik investor tidak disentuh. Padahal kami duluan di sini,” keluh Esmi, pelaku wisata setempat.
Baca Juga: Desak Usut Dugaan Korupsi ADD, Massa Geruduk Kantor Kejari Sidimpuan
Menurutnya, pondok-pondok ini merupakan simbol ekonomi rakyat dan hasil gotong royong warga. “Kalau rakyat disingkirkan, siapa yang akan menjaga ruh asli pantai ini?” tambahnya.
Esmi juga menegaskan bahwa pondok kayu justru menambah keindahan lanskap pantai tanpa merusak alam. Bahkan, menurutnya, wisatawan mancanegara banyak yang lebih memilih menikmati suasana alami ini ketimbang hotel berbintang.
Pondok kayu tak sekadar fasilitas, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi. Selain pendapatan sewa, keberadaan pondok memicu tumbuhnya warung-warung rakyat di sekitar pantai.
“Banyak ibu rumah tangga yang kini punya penghasilan dari berjualan di sini,” ungkapnya.
Baca Juga: GMKI & Green Future Tanam Ratusan Pohon Selamatkan Lereng Danau Toba
Para pelaku wisata berharap pemerintah bersikap bijak dalam menata kawasan wisata. Penataan boleh saja dilakukan, tetapi masyarakat harus dilibatkan sebagai mitra, bukan dijadikan korban.
“Pondok ini bukan cuma tempat berteduh. Ini ruang interaksi budaya, alam, dan manusia. Kalau dikelola bersama, justru bisa jadi daya tarik utama wisata Samosir,” pungkas Esmi. (net)
Editor : Editor Satu