Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Tren Wisata Bergerak ke Eco-tourism, Pelaku Wisata Danau Toba Diminta Segera Berbenah

Editor Satu • Jumat, 11 April 2025 | 10:20 WIB

 

Rombongan konjen dan konsulat menaiki Kapal Pinisi menuju Batu Gantung yang berada di Danau Toba, Parapat, Kabupaten Simalungun.
Rombongan konjen dan konsulat menaiki Kapal Pinisi menuju Batu Gantung yang berada di Danau Toba, Parapat, Kabupaten Simalungun.

JAKARTA, METRODAILY – Danau Toba, destinasi super prioritas kebanggaan Indonesia, harus segera berbenah dengan konsep wisata ramah lingkungan (eco-friendly travel). Hal itu jika tidak ingin kehilangan pamornya sebagai destinasi kelas dunia.

Saat ini tren wisata global sedang bergerak ke arah eco-tourism, di mana wisatawan tak hanya mencari pemandangan indah, tapi juga keaslian alam dan komitmen terhadap pelestarian lingkungan.

“Kalau Danau Toba dibiarkan gundul dan rusak, jangan salahkan kalau turis enggan datang lagi,” tegas pemerhati wisata, John Oktaveri, dalam pernyataannya di Jakarta, Kamis (10/4).

John menyoroti bencana banjir bandang dan longsor yang melanda kawasan wisata seperti Samosir dan Parapat dalam beberapa waktu terakhir.

Ia menyebut bencana ini bukan hanya memukul infrastruktur, tapi juga merontokkan ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor wisata.

Solusinya? Semua pihak harus bersatu menerapkan konsep wisata hijau. Tak hanya hotel, tapi juga warga, pelaku usaha, hingga pemerintah daerah.

Sebagai contoh baik, John menyoroti The Parapat View Hotel yang dinilainya berhasil menerapkan konsep hotel hijau tanpa AC, tapi tetap nyaman dan kompetitif.

“Hotel ini berani tampil beda. Tanpa AC, tapi tetap sejuk karena dikelilingi pepohonan rindang. Ini contoh konkret bahwa wisata ramah lingkungan itu bukan teori,” ungkapnya.

Hotel ini, lanjut John, menanam pohon trembesi sebagai filter udara dan menyatu dengan nuansa desa.

Pengunjung bisa menikmati pagi yang segar, udara bersih, dan pemandangan spektakuler Danau Toba, lengkap dengan sunset menawan dan aktivitas jogging menyusuri kampung sekitar.

Namun, John juga menegaskan, gerakan hijau ini tak cukup jika hanya dilakukan satu-dua hotel. Harus ada edukasi dan kolaborasi lintas sektor.

“Eco-friendly itu bukan sekadar tanam pohon. Tapi juga soal edukasi, pengelolaan sampah, energi, hingga pelibatan komunitas lokal,” katanya.

Dengan tren dunia yang semakin berpihak pada wisata berkelanjutan, John yakin Danau Toba bisa jadi bintang pariwisata Asia, asal tidak abai terhadap lingkungan.

“Kalau semua hotel, pelaku wisata, dan pemerintah kompak, Danau Toba bisa jadi surga wisata ramah lingkungan dunia,” pungkasnya. (Net/jpnn)

Editor : Editor Satu
#Eco Friendly #danau toba