TAPSEL, METRODAILY – Hutan di Tapanuli Selatan (Tapsel) semakin menarik perhatian wisatawan internasional, bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga sebagai destinasi ekowisata yang berkelanjutan.
Melalui program Tapanuli Trekking Tour (TTT), para turis dapat menjelajahi habitat orangutan Tapanuli dan kekayaan hayati hutan Sumatera dengan konsep yang mengedepankan konservasi dan pemberdayaan masyarakat lokal.
CEO TTT, Decky Chandrawan, mengungkapkan bahwa minat wisatawan mancanegara terhadap ekowisata di Tapsel terus meningkat.
“Kami menghadirkan pengalaman unik seperti trekking, birdwatching, dan observasi satwa liar. Wisata ini bukan hanya memberikan kesenangan, tapi juga berkontribusi pada upaya konservasi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya, Minggu (2/3).
Hutan Sumatera di kawasan Tapsel dikenal sebagai rumah bagi berbagai spesies burung langka dan primata eksotis, termasuk orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), yang menjadi daya tarik utama bagi pencinta alam dan fotografer satwa liar.
Dengan meningkatnya jumlah wisatawan, program ini pun memberikan dampak ekonomi nyata bagi penduduk sekitar.
Sebagai bagian dari pendekatan berbasis komunitas, warga Desa Bulu Mario di Kecamatan Sipirok dilibatkan langsung dalam operasional ekowisata.
Mereka dilatih menjadi pemandu wisata profesional dengan pemahaman ekosistem hutan dan budaya lokal. Selain itu, konsep homestay berbasis masyarakat sedang dikembangkan, memungkinkan wisatawan merasakan kehidupan autentik di desa.
Tak hanya soal wisata, TTT juga aktif dalam edukasi konservasi, mengajarkan masyarakat tentang pentingnya menjaga hutan.
Kesadaran lingkungan di kalangan penduduk pun meningkat, menciptakan sinergi antara pariwisata dan pelestarian alam.
Sejak berdiri pada 2019, TTT terus berkembang dan semakin dikenal di kancah internasional.
“Untuk tahun 2024 saja, kami telah menerima 98 turis dari berbagai negara. Ini menunjukkan bahwa ekowisata berbasis komunitas di Tapsel memiliki potensi besar sebagai destinasi unggulan dunia,” kata Decky Chandrawan.
Dengan pendekatan yang menggabungkan ekowisata, konservasi, dan pemberdayaan ekonomi, model ini membuktikan bahwa pariwisata dapat menjadi alat pelestarian alam yang berkelanjutan sekaligus menggerakkan roda ekonomi masyarakat lokal. J
ika didukung lebih luas, Tapsel berpeluang menjadi destinasi utama bagi wisatawan yang mencari pengalaman alam yang autentik dan bertanggung jawab. (ant)
Editor : Editor Satu