SAMOSIR, METRODAILY – Sebuah video viral menunjukkan dugaan penganiayaan di tengah Danau Toba, kawasan wisata unggulan Sumatera Utara. Insiden ini melibatkan dua pengguna jetski yang diduga berasal dari pihak penyedia layanan serupa, dan menciptakan perhatian luas terhadap pengelolaan kawasan pariwisata tersebut.
Dalam video yang beredar, seorang pria berkacamata terlihat mendekati pengguna jetski lain yang memakai topi. Tidak hanya melakukan pemukulan, pria tersebut juga terdengar melontarkan ancaman serius, “Pamate ma ho di son? (Ku bunuh kau di sini?).”
Video ini diunggah oleh akun TikTok @seadosafarisamosir, yang mengklaim pelaku adalah penyedia jetski di kawasan Tuktuk, Kecamatan Simanindo, Samosir. Peristiwa tersebut disebut sebagai buntut dari persaingan penyedia layanan jetski di area wisata populer ini.
Pengunggah video juga menyoroti dugaan aturan sepihak yang diberlakukan oleh penyedia jetski di Tuktuk, yang menurutnya membatasi penggunaan kawasan tersebut.
“Danau ini adalah milik bersama, bukan milik mereka saja. Mereka mengklaim kawasan Tuktuk hanya bisa digunakan oleh Tuktuk Jetski. Semoga aturan seperti ini bisa dipatahkan karena tidak sesuai dengan undang-undang apa pun,” ujar Sthepani Siallagan, salah satu pihak terkait.
Kepolisian dan Dispar Bereaksi
Kasat Reskrim Polres Samosir, AKP Edward Sidauruk, mengonfirmasi bahwa kasus ini sedang ditangani. "Pelaku telah diamankan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Kami akan memastikan laporan ini diproses sesuai hukum," ujar Edward.
Selain itu, insiden ini juga menimbulkan desakan terhadap Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Samosir untuk memberikan tanggapan. Pengunggah video mempertanyakan bagaimana pihak dinas akan menangani kasus ini, terutama karena pelaku disebut pernah mengikuti pelatihan pariwisata yang diadakan oleh pemerintah setempat.
Kasus ini mencoreng citra Danau Toba sebagai destinasi wisata unggulan Indonesia. Persaingan tidak sehat antara penyedia layanan wisata dapat berdampak negatif pada pengalaman wisatawan, yang justru diharapkan menikmati keindahan dan keramahan kawasan ini.
Dinas pariwisata diharapkan segera bertindak untuk memastikan insiden serupa tidak terulang. Kebijakan yang lebih jelas dan tegas terhadap pengelolaan zona wisata, termasuk aturan penggunaan kawasan publik seperti Danau Toba, diperlukan untuk menjaga harmoni antarpenyedia layanan. (net)
Editor : Editor Satu