TAPSEL, METRODAILY –PT Agincourt Resources (PTAR), pengelola Tambang Emas Martabe, melakukan diseminasi hasil laboratorium air sisa proses kepada ratusan warga lingkar tambang, Kamis (1/10/2026), di Aula Hotel Mega Permata, Kota Padangsidimpuan.
Di lapangan, tepatnya di titik outfall, telah terjadi pergeseran ujung pipa pascabencana banjir besar 25 November 2025 lalu. Menurut warga, hal itu perlu dipertimbangkan apakah memengaruhi hasil uji sampel.
"Apakah pergeseran titik itu masih toleran dengan titik yang sekarang disampel?" tanya Muhammad Nur Pardede kepada ahli independen yang membacakan hasil uji.
Ahli independen, Prof. Dr. Ir. Zulkipli Nasution, M.Sc. dan Drs. Chairuddin, M.S., membuka dan membacakan hasil uji yang telah dikeluarkan laboratorium Intertek Utama Services dari sampel tiga bulan lalu tersebut.
Menurut ahli, hasil uji air sisa proses Tambang Emas Martabe masih di bawah ambang baku mutu yang ditetapkan pemerintah sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup (Kepmen LH) Nomor 202 Tahun 2004.
Rincian hasil uji lab itu di antaranya tingkat keasaman air (pH) 7,29–7,7 dengan rentang baku mutu 6,0–9,0. Padatan tersuspensi (TSS) 2–13 mg/L dengan baku mutu maksimal 200 mg/L. Kadmium (Cd) berada di kisaran 0,015–0,0161 mg/L dengan baku mutu maksimal 0,1 mg/L. Kromium (Cr) <0,001 mg/L dengan baku mutu maksimal 1 mg/L.
Kemudian, Tembaga (Cu) di kisaran 0,134–0,14 mg/L dengan baku mutu maksimal 2 mg/L. Timbal (Pb) <0,001 mg/L dengan baku mutu maksimal 1 mg/L. Nikel (Ni) di kisaran 0,111–0,119 mg/L dengan baku mutu maksimal 0,5 mg/L, dan Seng (Zn) di kisaran 0,137–0,156 mg/L dengan baku mutu maksimal 5 mg/L.
"Pertanyaan menarik tadi. Karena pola pergeseran titik dengan pola percampuran air akan berubah. Pergeseran titik tadi perlu dikaji ulang, harus ada kajian khusus ke situ," terang ahli, Drs. Chairuddin.
Menurut ahli, baku mutu air sisa proses tambang seutuhnya masih baik. Tetapi, air yang diambil dari Sungai Batang Toru ada peningkatan parameter disebabkan reaksi atau kondisi lain, dan perlu kajian secara ilmiah lebih jauh ke sana.
Untuk diketahui, sampel air sisa yang diambil dimulai pada titik ujung masuk pipa air sisa proses (inlet) dan ujung keluar (outlet), sungai sebelum ujung pipa, titik percampuran air sisa proses dan air Sungai Batang Toru (outfall), serta 500 meter, 1.000 meter, 2.000 meter, dan 3.000 meter setelah pelepasan air di sungai.
Christine Pepah, Senior Manager Community PTAR, menerangkan bahwa diseminasi air sisa proses ini bagian dari transparansi PTAR dalam pengelolaan pertambangan. Dan hasilnya diinformasikan secara terbuka kepada masyarakat oleh ahli independen.
"Agar sama-sama kita tahu kualitas airnya. Karena air yang kita lepas itu mengalir kepada masyarakat. Jadi sama-sama kita tahu kualitasnya seperti apa yang dibacakan oleh ahlinya," jelasnya.
Christine menjelaskan, proses uji sampel air sisa proses ini seluruhnya melibatkan masyarakat. Dari pengambilan sampel di sejumlah titik, mengantarkan sampel ke laboratorium, hingga pada penerjemahan hasil uji lab oleh ahli.
Dan dari sini, kata Christine, PTAR akan menerima apabila ada rekomendasi perbaikan atau peningkatan dari ahli untuk proses pelepasan air sisa proses ini.
Sementara itu, Ahmad Faris Hasibuan dan Martuani Harahap, warga Huta Raja, Kecamatan Muara Batang Toru menyebut, sampai hari ini tidak ada dampak buruk ditemukan di Sungai Batang Toru apabila dikaitkan dengan air sisa proses tambang tersebut.
"Ikan masih ada, dan saya biasa memancing di sana," ungkap Martuani.
Mereka justru mengkhawatirkan kondisi pendangkalan dan kayu sisa banjir yang berada di badan sungai. Harapan mereka, itu segera dinormalisasi agar desa-desa sekitar Sungai Batang Toru terhindar dari banjir pada musim penghujan. (SAN)
Editor : SAMMAN