KARO, METRODAILY – Dua papan bunga menjadi cara orangtua siswa korban dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo menyampaikan pesan kepada Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Papan bunga itu dipasang di dekat Tugu Perjuangan, Berastagi, Kamis (24/9/2026). Isinya bukan sekadar ucapan terima kasih atas kepedulian Gibran, tetapi juga pengingat agar janji penanganan korban tidak dilupakan.
“Janji Pak Wapres jangan dilupakan,” demikian salah satu pesan yang ditulis orangtua korban.
Pesan lain berbunyi, “Terima Kasih Pak Wapres RI Gibran Rakabuming Raka atas kepeduliannya kepada korban MBG di Karo. Tapi belum tuntas, Pak.”
Perwakilan orangtua korban, Pelita Monald Ginting, mengatakan masih ada siswa yang menurut mereka belum pulih dan harus menjalani pemeriksaan maupun perawatan medis berulang.
Para orangtua juga menunggu kejelasan mengenai kompensasi bagi mereka yang harus meninggalkan pekerjaan untuk mendampingi anak menjalani perawatan.
Menurut Pelita, saat mengunjungi korban di Berastagi pada 11 September lalu, Gibran meminta penanganan kesehatan para siswa dilakukan secara maksimal. Gibran juga menyatakan pemerintah akan memastikan kebutuhan pengobatan hingga pasien benar-benar sembuh.
“Gibran memerintahkan Gubernur Sumut mendata para siswa dan mengganti kerugian atau memberikan kompensasi kepada orangtua yang tidak bisa bekerja lagi karena merawat anak,” ujar Pelita, diamini orangtua siswa lainnya.
Pelita juga mengatakan para orangtua mempertanyakan mekanisme pembiayaan pengobatan korban. Mereka berharap seluruh kebutuhan medis siswa yang masih mengalami keluhan dapat ditangani tanpa membebani keluarga.
“Rumah sakit diminta meningkatkan pelayanan dan tidak menggunakan BPJS, karena pelayanan pengobatan melalui BPJS hanya tiga hari,” katanya.
Dalam kunjungannya ke RS Efarina Etaham dan RS Umum Amanda Berastagi, Gibran memang menyatakan pemerintah akan memastikan penanganan medis terbaik bagi siswa yang diduga terdampak MBG. Ia juga membuka opsi rujukan ke Jakarta atau Medan bagi pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Selain persoalan kesehatan dan kompensasi, orangtua korban mempertanyakan perkembangan proses hukum kasus dugaan keracunan MBG yang ditangani Polres Karo.
Hingga Kamis (24/9), mereka mengaku belum memperoleh kejelasan mengenai perkembangan penyelidikan maupun pihak yang bertanggung jawab. Sejumlah keluarga korban disebut telah membuat laporan atau pengaduan kepada kepolisian.
Mereka berharap proses hukum dapat mengungkap penyebab kejadian serta pihak yang bertanggung jawab atas insiden yang terjadi pada 13 Agustus 2026 tersebut.
Data Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara yang dikutip ANTARA sebelumnya menyebut 361 siswa dari SMA Negeri 1 Berastagi serta SMA dan SMK Swasta Bersama diduga mengalami keracunan massal setelah menyantap menu MBG pada 13 Agustus.
Bagi orangtua, pemasangan papan bunga di Tugu Perjuangan Berastagi menjadi simbol bahwa persoalan tersebut belum dianggap selesai.
“Ini masih menjadi perjuangan kami. Anak-anak masih berjuang untuk sembuh total dan orangtua juga masih menunggu janji yang disampaikan Pak Wapres,” ujar para orangtua siswa. (pmg)
Editor : Editor Satu