PTAR Bina 22 Desa di Batang Toru Tanggap dan Siaga Bencana

SAMMAN • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 17:20 WIB
Manajer Community Relations PTAR bersama Kadaops Manggala Agni dan Kalaksa BPBD Tapsel dalam pembukaan pelatihan siaga bencana pada Rabu (23/9/2026) di Amfiteater Sopo Daganak Batangtoru, Tapsel. (Samman/MetroDaily)
Manajer Comrel PTAR bersama Kadaops Manggala Agni dan Kalaksa BPBD Tapsel dalam pembukaan pelatihan siaga bencana pada Rabu (23/9/2026) di Sopo Daganak Batang Toru, Tapsel. (Samman/MetroDaily)

TAPSEL, METRODAILY-PT Agincourt Resources (PTAR), pengelola Tambang Emas Martabe, membentuk dan melatih relawan pengendalian bencana bagi 22 desa di Kecamatan Batang Toru, Muara Batang Toru, dan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan, pada Rabu (23/9/2026).

Pelatihan yang dipusatkan di Amfiteater Sopo Daganak ini melibatkan Manggala Agni Kementerian Kehutanan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapanuli Selatan, serta Emergency Response Team (ERT) PTAR.

Masdar Muda Hasibuan, Manager Community Relations PTAR menuturkan, pelatihan yang diberikan mengevaluasi early warning system (EWS) atau sistem peringatan dini sebelum bencana yang terjadi 25 November 2025 lalu. Di mana tiga kecamatan yang jadi sasaran pelatihan, merupakan wilayah rawan bencana.

"Melihat fenomena bencana (hidrometeorologi) yang baru terjadi ini, jadi kita merasa perlu membentuk desa-desa (tanggap bencana) yang lain yang rawan akan bencana," terangnya merunut potensi bencana alam yang semakin ragam.

Masdar menjelaskan, dalam setiap desa binaan telah menyiapkan 10 orang relawan lokal. Nantinya, mereka akan dibekali pengenalan indikator peringatan dini, alur informasi, dengan keterampilan evakuasi mandiri, pemetaan jalur penyelamatan, serta manajemen posko darurat.

PTAR berharap ini dapat menciptakan warga yang mandiri, responsif, dan tangguh dalam menghadapi segala bentuk risiko bencana. 

"Satu kemampuan kita tentang kebencanaan, seribu nyawa dapat terselamatkan," ungkapnya mengajak peserta lebih fokus dalam pelatihan.

Selain bencana banjir dan tanah longsor, relawan lokal juga akan dilatih dalam pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). 3 kecamatan yang jadi sasaran ini juga tergolong rawan karhutla.

Asima Rohana Simbolon, Kepala Manggala Agni Daops Sumatra III Labuhanbatu Selatan menuturkan, hampir 100 persen kebakaran hutan dan lahan yang terjadi merupakan ulah manusia. Dan ia merasa sangat bangga dengan kolaborasi perusahaan dan warga dalam upaya pencegahan dan pengendalian bencana kebakaran hutan seperti ini.

"Ketika ada perusahaan yang peduli, kami sangat senang. Karena Manggala Agni yang hanya 60 orang dengan rentang jarak yang luas, sangat sulit mengendalikannya (kebakaran)," ungkapnya.

Ia berharap perusahaan lain terlibat dalam membina warga lokal. Apalagi, kata Asima, jika api yang sudah besar akan menelan biaya yang sangat besar dan sulit dijangkau dalam pengendaliannya. Maka, pencegahan risiko bencananya yang perlu ditekankan bagi relawan lokal.

Untuk pelatihan teknis pengendalian ancaman Karhutla ini, Asima menjelaskan, Manggala Agni akan mengenalkan berbagai jenis alat baik tradisional maupun mutakhir yang digunakan dalam pemadaman api di hutan dan lahan.

"Nanti kita akan kolaborasi juga dengan perusahaan, mana alat-alat yang efektif yang digunakan di wilayah ini dengan kontur bergunung," jelasnya.

Program pelatihan ini berlangsung selama dua hari, hingga Kamis (24/9/2026) ini. Di hari terakhir, simulasi pengendalian bencana juga akan diadakan dalam mengasah kemampuan peserta. Termasuk dalam pemadaman api. (SAN)

Editor : SAMMAN
Manggala Agni PTAR Bencana hidrometeorologi