Muara Mendangkal, Nelayan Pasar Sorkam Terancam Tak Bisa Melaut

Editor Satu • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 11:50 WIB
Muara Pasar Sorkam, Kecamatan Sorkam Barat, Tapteng, mengalami pendangkalan akibat endapan pasir yang mengganggu aktivitas nelayan. Foto diambil Rabu (16/9/2026).
Muara Pasar Sorkam, Kecamatan Sorkam Barat, Tapteng, mengalami pendangkalan akibat endapan pasir yang mengganggu aktivitas nelayan. Foto diambil Rabu (16/9/2026).

TAPTENG, METRODAILY – Pendangkalan Muara Pasar Sorkam di Kecamatan Sorkam Barat, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), mulai mengganggu aktivitas nelayan.

Endapan pasir menutup jalur keluar-masuk kapal sehingga nelayan harus berjibaku melewati alur muara yang semakin dangkal.

Kondisi itu bukan hanya menghambat keberangkatan, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan, kerusakan kapal, mesin, jaring, dan perlengkapan lain yang menjadi modal utama nelayan mencari nafkah.

Warga Pasar Sorkam, Ali Sadran Hutabarat, mengatakan pendangkalan dan tertutupnya mulut muara sudah berulang kali terjadi. Sedimentasi yang terbawa gelombang laut membentuk hamparan pasir sepanjang lebih dari 50 meter hingga mendekati bibir pantai.

Baca Juga: Dera Siagian Hilang Setahun dari Medsos Gara-gara Pecah Pembuluh Darah

Di sejumlah titik, ketebalan endapan pasir diperkirakan mencapai sekitar satu meter.

“Akibatnya, nelayan harus mengerahkan tenaga secara gotong royong untuk menarik atau mendorong kapal melewati jalur muara yang dangkal,” ujar Ali, Rabu (16/9/2026).

Menurut dia, kondisi paling berbahaya terjadi ketika perahu berhadapan dengan gelombang saat melewati mulut muara. Kapal yang membawa peralatan maupun hasil tangkapan menjadi lebih sulit dikendalikan dan berisiko rusak hingga terbalik.

Baca Juga: Barcelona Bantai Racing Santander 7-2, Raphinha Hat-trick

“Sudah berulang kali kami keruk secara manual, tetapi kembali tertutup. Aliran muara juga semakin dangkal sehingga menyulitkan nelayan hilir mudik,” katanya.

Pendangkalan tersebut membuat sebagian nelayan terpaksa menunda keberangkatan karena alur muara sulit dilalui. Nelayan yang tetap memaksakan diri melaut harus menghadapi risiko ketika membawa kapal keluar maupun kembali ke daratan.

Ali mengatakan tidak jarang bekal dan hasil tangkapan ikan berhamburan ketika kapal dihantam ombak. Perlengkapan seperti mesin, jaring, dan peralatan melaut lainnya juga terancam rusak.

Baca Juga: Bapas Baru Akan Dibentuk di Siantar, Pemko Siap Beri Dukungan

“Kalau kapal rusak atau kipas mesin, kami harus mengeluarkan biaya lagi untuk memperbaikinya. Padahal penghasilan kami sangat bergantung dari hasil melaut,” ungkapnya.

Persoalan sedimentasi, lanjut Ali, tidak hanya terjadi di pintu masuk muara. Aliran Muara Pasar Sorkam dari kawasan hulu Sungai Aek Sibundong hingga bagian hilir juga semakin dangkal.

Alur yang menyempit membuat ruang gerak kapal terbatas. Dalam kondisi tertentu, nelayan memilih tidak melaut karena khawatir perahu mengalami kerusakan saat melewati jalur muara.

Baca Juga: Cewek Siantar Disekap dan Dipukuli Mantan Pacar di Perumahan

Para nelayan sebenarnya telah berupaya mengatasi persoalan tersebut secara swadaya. Pengerukan dilakukan secara manual menggunakan peralatan seadanya. Namun, upaya itu hanya bertahan sementara karena material pasir kembali terbawa arus dan gelombang.

“Pengerukan manual tidak mungkin menjadi solusi setiap saat. Kami membutuhkan penanganan yang lebih permanen agar masalah ini tidak terus berulang,” keluh Ali.

Ia mengatakan persoalan pendangkalan Muara Pasar Sorkam sebelumnya telah disampaikan kepada pemerintah kabupaten. Namun hingga kini nelayan belum melihat penanganan berupa pengerukan atau normalisasi yang dapat mengatasi persoalan tersebut secara menyeluruh.

Baca Juga: Nana Mardiana Dorong Dangdut Indonesia Diakui UNESCO

“Kami berharap pemerintah segera turun tangan melakukan kajian dan normalisasi, baik pada bagian mulut muara maupun alur muara yang mengalami pendangkalan,” pungkasnya. (zatam)

Editor : Editor Satu
Muara Mendangkal Nelayan pasar sorkam