SIMALUNGUN, METRODAILY — Dua bendung irigasi di Kecamatan Ujung Padang, Kabupaten Simalungun, rusak akibat diterjang banjir. Kerusakan tersebut berdampak pada pengairan lahan pertanian seluas total sekitar 151,6 hektare.
Kondisi kedua bendung tersebut ditinjau Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Simalungun Budiman Silalahi di Nagori Sei Merbau, Kecamatan Ujung Padang, Senin (7/9).
Dua infrastruktur yang mengalami kerusakan yakni Bendung Tanjung Marihat yang melayani irigasi sekitar 66 hektare lahan persawahan dan Bendung Kampung Baru Hilir yang mengaliri sekitar 85,6 hektare areal pertanian.
Baca Juga: Personel Korem 022/PT Dapat Sosialisasi Safety Riding dari Polres
Kerusakan bendung dikhawatirkan mengganggu pasokan air ke persawahan. Dampaknya, aktivitas pengolahan lahan dan produktivitas pertanian warga berpotensi terganggu.
Budiman mengatakan peninjauan dilakukan untuk memetakan tingkat kerusakan sekaligus dampaknya terhadap petani yang bergantung pada aliran air dari kedua bendung tersebut.
“Pemerintah Kabupaten Simalungun terus berkomitmen memberikan perhatian penuh terhadap kebutuhan masyarakat, terutama para petani. Infrastruktur irigasi merupakan penopang utama produktivitas pertanian dan kunci terwujudnya ketahanan pangan yang kokoh bagi kita semua,” ujar Budiman saat berada di lokasi.
Baca Juga: Diah Permatasari Bawa Budaya dan UMKM Indonesia ke Los Angeles
Menurutnya, hasil pemeriksaan lapangan akan menjadi dasar koordinasi dengan instansi terkait untuk menentukan langkah penanganan dan rencana perbaikan.
Sementara itu, petani setempat, Muda Bakkara, berharap kerusakan kedua bendung segera diperbaiki. Selama saluran air belum kembali berfungsi, petani terpaksa menggunakan mesin pompa untuk mengairi sawah.
Penggunaan pompa membuat biaya operasional petani meningkat. Untuk lahan seluas sekitar 2.400 meter persegi, misalnya, Muda mengaku harus mengeluarkan biaya bahan bakar Pertalite sekitar Rp120.000 setiap kali pengairan atau pengolahan tanah.
Baca Juga: BGN Larang SKM dan Minuman Rasa Susu Masuk Menu MBG, Ini Penggantinya
“Untuk lahan seluas sekitar 2.400 meter persegi saja, kami harus mengeluarkan biaya bahan bakar Pertalite hingga sekitar Rp120.000 setiap kali pengairan atau pengolahan tanah. Ini tentu menjadi beban tambahan yang berat bagi kami. Kami berharap kedua bendung ini segera diperbaiki agar kami bisa kembali mengelola lahan dengan tenang dan hemat biaya,” ungkapnya.
Dalam peninjauan tersebut, Budiman juga menyapa petani yang sedang bekerja di persawahan serta melihat langsung operasional mesin pompa yang digunakan untuk mengairi lahan.
Pemkab Simalungun menyatakan akan menindaklanjuti kerusakan tersebut untuk memulihkan fungsi irigasi, menjamin kelancaran aliran air ke areal persawahan, serta menjaga kegiatan pertanian masyarakat tetap berjalan. (esa)
Editor : Editor Satu