TAPTENG, METRODAILY — Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng) Masinton Pasaribu menegaskan tidak akan mundur dari jabatannya di tengah mencuatnya wacana pemakzulan yang disebut diusulkan sejumlah partai politik di DPRD Tapanuli Tengah.
Masinton menilai dinamika politik tersebut masih berkaitan dengan pertarungan politik pada Pilkada Tapteng sebelumnya.
Ia meminta seluruh pihak meninggalkan pola politik lama dan mengedepankan aturan, etika, serta kepentingan masyarakat dalam menjalankan pemerintahan.
Menurut Masinton, manuver politik yang dilakukan sejumlah politisi berlangsung secara sistematis. Ia menilai cara-cara tersebut tidak lagi relevan dengan kondisi Tapteng saat ini, terlebih daerah tersebut masih menghadapi dampak bencana.
Baca Juga: Kabut Tebal Selimuti Taput, Warga Keluhkan Mata Perih dan Sesak Napas
“Ironisnya yang tiga-tiganya diganggu. Jadi ini sebenarnya yang perlu kita sampaikan, tindakan-tindakan yang sudah dibuat di luar batas kewenangan yang atas namakan politik dan pemerintahan, ini sudah tindakan-tindakan primitif,” kata Masinton, Minggu (6/9/2026).
Istilah “primitif” itu, kata Masinton, merujuk pada tindakan politik yang menurutnya mengabaikan aturan, etika, dan norma pemerintahan.
Singgung Tiga Pj Bupati
Masinton kemudian menyinggung kondisi pemerintahan Tapteng setelah masa jabatan kepala daerah sebelumnya berakhir pada Mei 2022. Pemerintah pusat ketika itu menunjuk penjabat (Pj) bupati untuk mengisi masa transisi hingga pelaksanaan Pilkada serentak.
Baca Juga: Leo Simamora Segera Disidang Kasus Togel, Polisi Masih Buru Situmorang
Menurut Masinton, Tapteng sempat dipimpin tiga Pj bupati. Ia menilai ketiganya menghadapi gangguan selama menjalankan pemerintahan.
Masinton juga menyinggung Sugeng Riyanta yang pernah menjabat Pj Bupati Tapteng. Ia menyebut Sugeng tetap menjalankan pemerintahan berdasarkan aturan meski menghadapi tekanan politik.
“Pak Sugeng pada saat itu dengan segala macam tekanan, beliau konsisten dengan aturan. Bahkan ketika itu DPRD tidak mau membahas anggarannya, sementara pembangunan daerah kan harus berjalan. Pak Sugeng keluarkan perkada,” ucapnya.
Baca Juga: Asap Kepung 14 Daerah di Sumut, Jarak Pandang Turun hingga 500 Meter
Masinton menilai penerbitan peraturan kepala daerah (Perkada) terkait APBD bukan sesuatu yang baru dalam pemerintahan. Menurut dia, kewenangan tersebut dapat digunakan ketika terjadi kondisi yang menghambat keberlangsungan pemerintahan dan pembangunan.
Klaim Mandat dari 17 Kecamatan
Masinton juga membawa kembali dinamika Pilkada Tapteng sebelumnya. Ia mengatakan dirinya mendaftar sebagai calon kepala daerah pada hari terakhir masa perpanjangan pendaftaran setelah mendapat penugasan partai.
Menurut dia, berkas pendaftarannya sempat tidak diterima KPU. Namun, setelah adanya surat edaran KPU, pasangan Masinton-Mahmud akhirnya diterima dan ditetapkan sebagai peserta Pilkada sehingga masyarakat dapat memberikan pilihan.
Baca Juga: 591 Warga Toba Dapat Bantuan Bedah Rumah, 509 Unit Bersumber dari APBN
Masinton menyebut dirinya bersama Mahmud kemudian memenangkan Pilkada di 17 dari 20 kecamatan. Hasil tersebut, menurut dia, merupakan mandat rakyat yang harus dihormati.
“Maaf buat para pengganggu. Kita tinggalkan cara-cara primitif itu. Ini mandat rakyat. Kita ini, Masinton-Mahmud dipilih secara legitimate oleh rakyat. Maka saya sebagai pelaksana mandat rakyat tidak akan tinggal diam. Tugas saya adalah melaksanakan mandat rakyat sebaik-baiknya, seluruhnya dan seadil-adilnya,” ujarnya.
Ia pun menegaskan tidak akan mundur dari mandat tersebut.
“Kita minta itu supaya ditinggalkan pemaksaan kehendak dan gangguan. Ini urusannya nanti berhadapan dengan rakyat. Jika ingin berkontestasi siapkan dari sekarang untuk nanti Pilkada berikutnya,” ucapnya.
Baca Juga: Erupsi Sinabung Mengancam Pasokan Sayur dan Buah ke Sibolga
“Sejengkal Pun Saya Gak Mundur”
Masinton meminta persoalan politik tidak berkembang menjadi konflik horizontal. Menurut dia, masyarakat Tapteng saat ini lebih membutuhkan persatuan karena daerah tersebut masih menghadapi dampak bencana.
“Sekali lagi maaf, saya kepala daerah dipilih rakyat. Mandat rakyat inilah yang kita jalankan. Sejengkal pun saya gak mundur, karena suara rakyat, suara Tuhan. Mandat rakyat tadilah yang kita laksanakan sebaik-baiknya,” tuturnya.
Ia juga meminta kelompok politik menghormati pilihan masyarakat dan tidak menjadikan warga sebagai bagian dari pertentangan politik.
Baca Juga: Aktivitas Gunung Sinabung Menurun, Radius Bahaya Dipersempit Jadi 5 Km
“Kita minta supaya kelompok-kelompok politik yang gagal men-skenariokan calon tunggal, yang gagal terpilih, kita minta hormati pilihan rakyat, kita minta jangan benturkan rakyat dengan rakyat. Mari kita jaga keharmonisan dalam Tapteng ini,” ucapnya.
Masinton turut mengingatkan pentingnya menjaga kearifan lokal Tapteng, termasuk semboyan Sahata Saoloan. Ia menilai persoalan daerah, termasuk penanganan bencana, akan lebih mudah diselesaikan jika seluruh pihak bekerja bersama.
“Hari ini masyarakat butuh persatuan dan kebersamaan, bukan adu domba, perpecahan, kegaduan dan lain sebagainya. Jadi itu yang kita minta supaya semua pihak dapat memahami, sebab kita sudah berbuat baik selama ini,” tuturnya.
Baca Juga: Kebakaran Pabrik Sabun di KEK Sei Mangkei, Kemenperin Minta Standar K3 Diperketat
Politik, Bukan Sekadar Kekuasaan
Masinton mengatakan pengalamannya yang panjang di dunia politik membuatnya menilai integritas dan komitmen sebagai bagian penting dalam menjalankan politik.
“Saya sampaikan bahwa kita ini orang politik, politik yang kita jalankan itu politik yang punya etika dan keadapan, politik itu bukan sekedar kekuasaan, tapi politik itu adalah membangun dan mengajarkan ada kemajuan,” katanya.
Ia menegaskan politik semestinya tidak berhenti pada perebutan kekuasaan. Politik, menurutnya, harus diarahkan untuk membangun daerah dan membawa masyarakat menuju kemajuan.
Baca Juga: Pria 47 Tahun Ditemukan Tewas di Rumah Kontrakan, Ini Dugaan Polisi
Masinton berharap seluruh pihak menahan diri dan mengutamakan kepentingan masyarakat Tapanuli Tengah, terutama ketika daerah tersebut masih berhadapan dengan dampak bencana. (net)
Editor : Editor Satu