KARO, METRODAILY — Kemacetan di jalur Medan–Berastagi mendorong Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) menyiapkan jalur alternatif khusus kendaraan wisata.
Proyek yang memanfaatkan dan menata sejumlah ruas jalan eksisting tersebut ditargetkan mulai dikerjakan pada 2027 dan rampung bertahap pada 2028–2029.
Jalur alternatif itu disiapkan sebagai solusi jangka menengah sembari Pemprov Sumut terus mendorong pembangunan tol Medan–Berastagi masuk dalam blueprint perencanaan nasional melalui Bappenas.
Baca Juga: Arus Petikemas Pelabuhan Sibolga Melonjak 53 Persen, Tembus 1.491 TEUs
Gubernur Sumut Muhammad Bobby Afif Nasution mengatakan intervensi tidak hanya dilakukan terhadap jalan milik pemerintah provinsi, tetapi juga ruas jalan pemerintah pusat dan kabupaten di wilayah Deli Serdang dan Karo.
“Target maksimal pengerjaan intervensi fisik ini mulai berjalan pada 2027 hingga selesai pada 2028–2029. Jalur alternatif ini difokuskan untuk kendaraan wisata atau roda enam ke bawah. Sementara jalur logistik tetap kami arahkan melewati rute utama Jalan Jamin Ginting yang ada saat ini,” ujar Bobby saat menerima audiensi pengurus Ikatan Cendekiawan Karo (ICK) di Mikie Holiday Resort and Hotel, Kabupaten Karo, Rabu (2/9/2026).
Skema tersebut sekaligus memisahkan arus kendaraan wisata dengan kendaraan logistik. Wisatawan yang menuju Berastagi akan diarahkan melalui jalur alternatif, sedangkan angkutan logistik tetap menggunakan jalur utama Jalan Jamin Ginting.
Baca Juga: Tanggul Aek Sigeaon Tarutung Ditata, Pedagang Lama Dijamin Tetap Dapat Tempat
28 Kilometer Jalur Diintervensi
Kepala Dinas Bina Marga, Bina Konstruksi, dan Cipta Karya (BMBK-CK) Sumut Chandra Dalimunthe memaparkan sejumlah ruas yang masuk dalam pemetaan teknis.
Salah satu titik intervensi berada pada jalur Medan–Namorambe–Sembahe. Dari kawasan Hairos atau Simpang Poci di Jalan Jamin Ginting, kendaraan wisata nantinya diarahkan ke kiri menuju rute alternatif kabupaten.
Ruas tersebut akan dilebarkan dari kondisi eksisting sekitar 4 meter menjadi 6–8 meter. Jalan sepanjang 18 kilometer itu direncanakan beralih status menjadi jalan provinsi.
Baca Juga: Wali Kota Sibolga Mutasi 40 Pejabat, Budi Sibuea Jadi Kadiskominfo
Selain pelebaran, Pemprov Sumut menyiapkan pembangunan jalan baru dan overpass di wilayah Sembahe. Jalan baru direncanakan sepanjang 330 meter, sedangkan overpass mencapai 82 meter dan melintasi jalan nasional menuju kawasan Tandu Benua.
Infrastruktur tersebut dirancang untuk memotong tanjakan sekaligus mengurangi hambatan perjalanan di jalur yang selama ini menjadi salah satu titik perlambatan kendaraan menuju Berastagi.
Rencana lainnya adalah pembangunan rest area berskala besar di kawasan Suka Nalu. Rest area tersebut berada pada rute sepanjang 14 kilometer menuju SMK Negeri Murni dan dirancang dengan konsep terbuka sebagai tempat persinggahan wisatawan.
Baca Juga: Tekan Inflasi, Pemkab Taput Gelar Gerakan Pangan Murah di Pasar Tarutung
Pemprov Sumut juga merancang trase baru sepanjang 3,8 kilometer dari Sibiru-biru menuju kawasan Pertamina/Simpang Ketaren.
Jika seluruh ruas tersebut direalisasikan, panjang intervensi jalan penunjang dari arah Medan hingga kawasan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 28 kilometer.
Bukan Sekadar Jalan, Kawasan Wisata Ikut Ditata
Bobby mengatakan pembangunan jalur alternatif harus dibarengi pembenahan kawasan wisata. Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah Taman Hutan Raya (Tahura) Berastagi dan Tugu Perjuangan Berastagi.
Pemprov Sumut tidak berencana membangun fasilitas komersial berskala besar seperti mal maupun hotel. Fokusnya diarahkan pada infrastruktur dasar, seperti penerangan jalan, drainase, pedestrian dan ruang publik.
Baca Juga: Sinabung Berhenti Erupsi tapi Tremor Menguat, 613 Jiwa Mengungsi
Menurut Bobby, pembenahan kawasan wisata diharapkan menciptakan efek ekonomi berantai bagi masyarakat setempat.
“Kami ingin intervensi kawasan ini memberikan dampak ekonomi (positive spillover) bagi masyarakat lokal, mirip seperti yang kami lakukan saat meremajakan kawasan Kota Lama Medan,” katanya.
Rencana jalur alternatif tersebut telah diselaraskan dengan dokumen RPJMD Pemprov Sumut, terutama pengembangan kawasan wisata pegunungan yang mencakup Karo, Dairi dan Pakpak Bharat.
ICK: Bisa Pangkas 3–4 Titik Macet
Ikatan Cendekiawan Karo menyambut positif rencana tersebut. Perwakilan ICK, Prof Sukarya Sinulingga, menilai jalur alternatif berpotensi mengurai sedikitnya tiga hingga empat titik kemacetan parah yang selama ini menghambat mobilitas masyarakat dan distribusi logistik dari Karo menuju Medan.
Baca Juga: Cegah Karhutla Meluas, Polisi Sisir Kawasan Rawan di Simalungun
“Kami mengucapkan terima kasih, atas nama masyarakat Karo kami sangat gembira dengan kabar ini. Tentunya kami akan terus mendukung pembangunan ini,” ucap Sukarya.
Pemprov Sumut selanjutnya akan merumuskan desain teknis dan kebutuhan anggaran secara komprehensif melalui Dinas BMBK-CK. Masukan dari tokoh masyarakat dan akademisi Karo juga akan menjadi bagian dalam proses perencanaan.
Pengerjaan fisik direncanakan dimulai secara bertahap pada tahun anggaran 2027 dengan target penyelesaian maksimal pada 2028–2029. (rel)
Editor : Editor Satu