Sinabung Berhenti Erupsi tapi Tremor Menguat, 613 Jiwa Mengungsi

Editor Satu • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 13:23 WIB
Gunung Sinabung terlihat dari Desa Kutarakyat, Kecamatan Namanteran, Kabupaten Karo, Rabu (2/9/2026). Aktivitas vulkanik masih dipantau.
Gunung Sinabung terlihat dari Desa Kutarakyat, Kecamatan Namanteran, Kabupaten Karo, Rabu (2/9/2026). Aktivitas vulkanik masih dipantau.

MEDAN, METRODAILY – Erupsi Gunung Api Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, berhenti pada Rabu (2/9/2026). Namun, aktivitas vulkaniknya belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) masih merekam tremor menerus, asap dan titik api di kawasan Gunung Sinabung.

Bahkan, amplitudo tremor kembali membesar sejak sekitar pukul 08.00 WIB, disertai hembusan asap yang semakin tebal dan menghitam.

Di sisi lain, dampak erupsi yang terjadi sejak Senin (31/8) masih dirasakan warga. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara mencatat 211 kepala keluarga atau 613 jiwa masih mengungsi.

Baca Juga: MUI Pusat Petakan Kerukunan di Siantar, Tokoh Agama Diminta Jaga Persatuan

Kepala PVMBG Badan Geologi RI, Rita Susilawati, mengatakan berhentinya erupsi tidak bisa langsung diartikan sebagai berakhirnya aktivitas Sinabung.

“Mulai hari ini Gunung Api Sinabung tidak ada erupsi, tetapi kita amati terus masih ada asap dan titik api juga. Tremor masih teramati terus-menerus. Jadi ini belum menunjukkan bahwa menurun,” kata Rita, Rabu (2/9).

Menurut Rita, tremor tidak pernah benar-benar berhenti sejak Sinabung kembali erupsi pada Senin. Amplitudonya memang sempat mengecil, tetapi kembali membesar pada Rabu pagi.

Baca Juga: Sah Udur Temui Tokoh Adat Simalungun, Dorong Perda Kearifan Lokal Diperbarui

Perubahan tersebut terlihat dari kondisi visual gunung. Hembusan asap menjadi lebih tebal dengan warna menghitam.

“Kalau menurut para ahli, bahwa ini baru awal, setelah empat tahun berhenti erupsi. Oleh karena itu perlu kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat,” ujarnya.

PVMBG juga menyebut magma vulkanik Sinabung masih cukup tinggi dibandingkan ketika gunung berada pada Level II atau Waspada. Sebaran kabut terpantau mengarah ke sektor selatan hingga timur laut, meski arahnya masih dapat berubah mengikuti dinamika gunung dan kondisi angin.

Baca Juga: Wali Kota Cup Siantar Road Race Siap Digelar, Lintasan Disempurnakan

“Magma vulkaniknya cukup tinggi dibandingkan pada level masih Waspada. Jangkauan kabutnya ke sektor selatan ke timur laut. Tapi ini masih bisa berubah-ubah,” kata Rita.

Enam Gunung Api Erupsi Bersamaan

Aktivitas Sinabung tersebut terjadi dalam rangkaian erupsi yang melibatkan sejumlah gunung api di Indonesia.

Pada 31 Agustus 2026, enam gunung api tercatat mengalami erupsi pada hari yang sama. Selain Sinabung, gunung api tersebut yakni Gunung Ibu di Maluku Utara, Semeru di Jawa Timur, Lewotobi Laki-laki dan Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, serta Anak Krakatau di Selat Sunda.

Baca Juga: Manchester City Tebus Enzo Fernandez Rp2,99 Triliun, Jadi Pemain Termahal

PVMBG memastikan erupsi pada enam gunung tersebut bukan akibat satu gunung memicu gunung lainnya.

Rita menjelaskan Indonesia memiliki 127 gunung api aktif dan berada di kawasan Cincin Api Pasifik. Kondisi itu membuat erupsi pada beberapa gunung api dalam waktu berdekatan bukan sesuatu yang otomatis menunjukkan adanya hubungan geologi.

“Kalau bahasa sederhananya, dapurnya itu masing-masing, dapurnya itu sendiri-sendiri,” kata Rita.

PVMBG tidak menemukan bukti adanya satu proses geologi yang memicu seluruh erupsi tersebut secara bersamaan pada 31 Agustus.

Baca Juga: Nilai Transfer Premier League Tembus Rp87 Triliun, Rekor Baru Pecah Lagi!

Sinabung sendiri dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) sejak 31 Agustus pukul 12.00 WIB. Peningkatan status itu menyusul erupsi yang menghasilkan kolom abu vulkanik hingga sekitar 3.500 meter di atas puncak.

Sementara Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III (Siaga), status yang berlaku sejak 2 Juli 2026. Pada 31 Agustus, gunung tersebut mengalami erupsi dengan kolom abu sekitar 200 meter.

PVMBG juga meminta masyarakat pesisir Banten dan Lampung tidak panik terkait kekhawatiran tsunami akibat aktivitas Anak Krakatau. Erupsi gunung api tidak serta-merta menyebabkan tsunami.

Baca Juga: Chelsea Gagal Dapatkan Lamine Camara, Transfer Rp1,1 Triliun Mendadak Batal

211 KK Masih Mengungsi

Dampak erupsi Sinabung belum berhenti pada aktivitas vulkanik. BPBD Sumut mencatat 211 KK atau 613 jiwa mengungsi akibat erupsi yang terjadi pada Senin (31/8).

Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan dan Logistik BPBD Sumut Sri Wahyuni Pancasilawati mengatakan angka tersebut berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) Sumut.

“Berdasarkan laporan, 211 kepala keluarga dilaporkan mengungsi,” ujar Sri Wahyuni Pancasilawati di Medan, Rabu (2/9).

Pengungsian tersebut berada di Desa Kuta Tengah, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo. Selain pengungsian, abu vulkanik juga berdampak terhadap 27 desa yang tersebar di lima kecamatan.

Baca Juga: Juventus Pinjam Nick Woltemade dari Newcastle hingga 2027

“27 desa, lima kecamatan terdampak abu vulkanik,” katanya.

Meski demikian, BPBD Sumut mencatat belum ada korban luka maupun korban meninggal dunia akibat erupsi tersebut. Data pengungsi masih bersifat aktif dan dapat berubah sesuai perkembangan di lapangan.

BPBD Sumut juga telah mengirim tujuh tenda pengungsian untuk mendukung penanganan warga terdampak. Pemanfaatannya disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan oleh BPBD Kabupaten Karo.

Zona Bahaya Belum Boleh Dilanggar

Dengan aktivitas vulkanik yang masih tinggi, PVMBG meminta masyarakat tidak menganggap berhentinya erupsi sebagai tanda bahwa Sinabung sudah aman.

Baca Juga: Gabriel Jesus Tak Tersinggung Jadi Alternatif Alvarez di Barcelona

Masyarakat diminta mematuhi rekomendasi kawasan bahaya, termasuk tidak melakukan aktivitas di zona terlarang dengan radius tiga kilometer dari puncak Sinabung serta radius enam kilometer pada sektor selatan-tenggara.

Ancaman lain yang juga perlu diwaspadai adalah lahar hujan, terutama di sepanjang aliran sungai yang berhulu dari puncak gunung.

Situasi Sinabung kini berada pada fase yang membutuhkan kewaspadaan ganda: erupsi memang berhenti, tetapi indikator aktivitas di dalam gunung masih bergerak. Karena itu, pemantauan PVMBG dan kesiapsiagaan warga menjadi kunci untuk mencegah dampak yang lebih besar. (dwi/ram/smg)

Editor : Editor Satu
erupsi sinabung tremor