TAPTENG, METRODAILY – Sembilan bulan berlalu sejak banjir bandang menerjang Tapanuli pada 25 November 2025. Namun, bagi petani di Desa Anggoli, Tapanuli Tengah, bencana itu belum benar-benar berakhir.
Sekitar 60 hektare lahan persawahan masih rusak. Jaringan irigasi tidak berfungsi, sementara aliran sungai yang berubah jalur kini menerobos areal pertanian.
Akibatnya, petani belum dapat kembali menggarap sawah seperti sebelum bencana. Tanaman padi yang ketika itu telah berusia sekitar 50 hari pun gagal dipanen setelah tertimbun pasir dan bebatuan.
Baca Juga: 4 Cewek Menyelinap ke Kos Khusus Pria, Pemilik Murka dan Lapor Polisi
“Lahan persawahan dan irigasinya hancur. Sebagian lahan sudah tertutup bebatuan. Aliran sungai juga berpindah ke areal persawahan,” ujar Ketua Kelompok Tani Saba Julu, Desa Anggoli, Hamdan Silalahi, Selasa (25/8/2026).
Sawah Tertimbun, Penghasilan Terhenti
Sebelum bencana, lahan persawahan dan jaringan irigasi di Desa Anggoli berjalan normal. Banjir bandang kemudian mengubah kondisi tersebut.
Material pasir dan batu menutup lahan. Di sejumlah titik, aliran sungai bahkan membentuk jalur baru dan masuk ke kawasan persawahan.
Baca Juga: Ketua Golkar Sumut Segera Dilantik, Paling Lambat Minggu Kedua September
Menurut Hamdan, seluruh tanaman padi yang berada di lahan terdampak rusak. Petani mengalami kerugian karena gagal panen sekaligus kehilangan sumber penghasilan dari sawah.
Ironisnya, hingga sembilan bulan setelah bencana, petani disebut belum memperoleh bantuan untuk memulihkan lahan maupun jaringan irigasi.
“Yang paling kami butuhkan adalah perbaikan lahan sawah dan irigasi, termasuk mengembalikan aliran sungai ke jalur semula,” katanya.
Bagi warga Anggoli, sawah bukan sekadar lahan produksi. Areal tersebut menjadi sumber pendapatan dan penopang ekonomi masyarakat.
Baca Juga: Nita Maulida Damanik Pimpin MTS Siantar, 150 Majelis Taklim Kantongi SKT
Namun, kerusakan lahan, bendungan, dan irigasi membutuhkan alat berat serta biaya besar. Kondisi itu membuat petani tidak mampu melakukan pemulihan secara mandiri.
“Harapan kami segera diperbaiki dan dikembalikan seperti semula,” ujar Hamdan.
Ia meyakini pemulihan sawah dan irigasi akan langsung berdampak terhadap kehidupan ekonomi masyarakat. Jika lahan kembali produktif, petani dapat kembali bercocok tanam dan menggerakkan roda perekonomian Desa Anggoli.
Kontrak Tanggul Baru Ditandatangani
Baca Juga: Elkan Baggott Tampil Solid, 12 Sapuan Bantu Millwall Singkirkan Cambridge
Di tengah keluhan petani, penanganan infrastruktur pengendali banjir di Tapanuli Tengah juga baru memasuki tahap pekerjaan lapangan.
Pemprov Sumatera Utara baru menandatangani kontrak dengan pihak kontraktor untuk penanganan tanggul sungai pascabencana 2025.
Pelaksana tugas Dinas Sumber Daya Air Sumut Gibson Panjaitan mengatakan kontrak baru ditandatangani pada pekan sebelumnya. Saat ini, alat berat mulai dimobilisasi ke lokasi.
“Minggu lalu baru penandatanganan kontrak. Sekarang lagi mobilisasi alat berat di lokasi,” ujar Gibson kepada Tribun Medan, Senin (24/8/2026).
Baca Juga: MU Resmi Datangkan Carlos Baleba, Dibeli dari Brighton £65 Juta
Pemprov Sumut juga berkolaborasi dengan Balai Wilayah Sungai Sumatera (BBWS) untuk menangani sejumlah titik aliran sungai yang rawan meluap.
“Langkah kita kolaborasi dengan pihak BBWS melakukan penanganan di titik-titik yang rawan terjadi luapan sungai, dan saat ini sudah kita masukkan alat berat,” katanya.
Berdasarkan rencana pemerintah, pembangunan tanggul diarahkan untuk dua kawasan terdampak bencana di Tapanuli Tengah, yakni Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, serta Kecamatan Sibuluan Indah.
Pekerjaan tersebut sebelumnya dijadwalkan mulai Juni 2026.
Baca Juga: Frenkie de Jong Masuk Daftar Jual Barcelona, Kapten Tim Bakal Dilepas?
Sabo Dam Belum Maksimal
Penanganan banjir juga dilakukan pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dengan pembangunan Sabo Dam. Namun, pengerjaannya masih berlangsung dan dinilai belum maksimal.
Kondisi itu menjadi sorotan karena banjir kembali menerjang sejumlah kawasan di Tapanuli Tengah setelah bencana besar November 2025.
Sementara pembangunan tanggul permanen diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp90-100 miliar. Konstruksi menggunakan metode sheet pile, yakni struktur dinding vertikal yang ditanam ke dalam tanah untuk menahan tekanan lateral tanah maupun air.
Baca Juga: Martinelli Siap Tinggalkan Arsenal, Al Hilal Sodorkan Tawaran hingga €65 Juta
Pembangunan tersebut diharapkan dapat mengendalikan aliran sungai dan mengurangi risiko banjir susulan.
Namun bagi petani Anggoli, persoalan paling mendesak bukan sekadar membangun tanggul. Sawah yang menjadi sumber penghidupan mereka harus kembali berfungsi.
Sembilan bulan pascabencana, sekitar 60 hektare lahan masih belum produktif. Petani kini menunggu alat berat, perbaikan irigasi, dan pengembalian aliran sungai agar bisa kembali menanam di lahan sendiri. (net)
Editor : Editor Satu