TAPTENG, METRODAILY – Sebanyak 78 regu madrasah se-Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) berkumpul di Barus selama tiga hari, 22–24 Agustus 2026.
Mereka mengikuti Perkemahan Gebyar Madrasah (PGM) 2026 yang dirancang bukan sekadar ajang perlombaan, tetapi sebagai ruang pembentukan karakter dan kepedulian lingkungan.
Mengusung tema “Berkemah untuk Karakter, Berkarya untuk Negeri”, kegiatan ini mempertemukan peserta didik tingkat Siaga, Penggalang hingga Penegak dari berbagai madrasah di Tapteng.
Baca Juga: Maia Estianty Diserbu Netizen usai Tanya Kondisi Warga Kalimantan di Tengah Asap Karhutla
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tapteng, Awaluddin Habibi Siregar, mengatakan perkemahan menjadi sarana pembinaan yang melengkapi pendidikan di ruang kelas. Alam terbuka, kata dia, memaksa peserta belajar disiplin, mandiri, bertanggung jawab dan bekerja sama.
“Perkemahan Gebyar Madrasah ini kita laksanakan dalam rangka membangun karakter, disiplin dan keterampilan anak-anak madrasah. Kita ingin mereka mendapatkan pengalaman yang tidak hanya diperoleh di dalam kelas, tetapi juga melalui kegiatan di alam terbuka,” ujar Awaluddin.
Barus Jadi Ruang Belajar Sejarah Islam
Pemilihan Barus sebagai lokasi perkemahan bukan tanpa alasan. Selain menjadi lokasi kegiatan luar ruang, kawasan tersebut dimanfaatkan untuk memperkenalkan sejarah Barus kepada generasi madrasah.
Baca Juga: Wajah Baru Hari Jadi Tapteng: Siapkan Adminduk hingga Tukar Sampah
Awaluddin menyebut Barus memiliki posisi penting dalam sejarah perkembangan Islam di Nusantara. Karena itu, peserta tidak hanya diajak mengikuti kegiatan kepramukaan, tetapi juga mengenal sejarah daerah tempat mereka berkemah.
“Kita juga ingin mengenalkan titik nol sejarah masuknya Islam kepada anak-anak madrasah. Barus memiliki sejarah yang sangat penting. Karena itu, melalui kegiatan ini anak-anak tidak hanya berkemah dan mengikuti perlombaan, tetapi juga mengenal sejarah Islam yang ada di Barus,” katanya.
Konsep kegiatan juga memasukkan edukasi lingkungan. Lokasi perkemahan yang berada di sekitar sungai dipilih agar peserta berhadapan langsung dengan persoalan kebersihan dan kelestarian alam.
Baca Juga: Karhutla Mengintai, Pemkab Simalungun Perketat Mitigasi di Wilayah Rawan
“Kegiatan ini kita buat di samping sungai agar anak-anak memiliki wawasan lingkungan. Mereka belajar bagaimana menjaga alam, menjaga kebersihan dan peduli terhadap lingkungan sekitar,” ujar Awaluddin.
Peserta kemudian dilibatkan dalam penanaman pohon di sekitar sungai sebagai bentuk praktik langsung kepedulian terhadap lingkungan.
Dari Yel-yel hingga LKBB
Selama tiga hari, peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang menguji keterampilan, kreativitas, keberanian dan kekompakan.
Baca Juga: Beli Pertalite Pakai Jerigen di Simalungun Kena ‘Pajak’ Rp20 Ribu
Agenda dimulai dari registrasi, pendirian tenda, seleksi petugas upacara pembukaan hingga gladi. Kegiatan berlanjut dengan pawai ta’aruf, apel dan seremoni pembukaan.
Peserta kemudian berkompetisi dalam sejumlah cabang, di antaranya lomba yel-yel, parade semaphore, tilawah, pionering, memasak, LKBB dan syarhil.
Kompetisi tersebut tidak semata-mata mengejar juara. Peserta dituntut mampu bekerja dalam tim, mematuhi aturan, mengatur waktu, menyelesaikan tugas dan menjaga sportivitas.
Pada hari terakhir, peserta mengikuti olahraga, apel pagi, lanjutan LKBB dan syarhil, gladi upacara penutupan hingga pengumuman pemenang. Rangkaian kegiatan ditutup dengan pembongkaran tenda dan sayonara.
Baca Juga: Simalungun Digitalisasi Pajak: QRIS Dinamis, QRISPATI dan Smart Cash Resmi Diluncurkan
Kemenag Ingin Karakter Tak Berhenti di Perkemahan
Awaluddin meminta peserta membawa pulang lebih dari sekadar pengalaman mengikuti perlombaan. Nilai disiplin, kemandirian, persaudaraan dan kepedulian lingkungan diharapkan diterapkan setelah kembali ke madrasah dan keluarga.
“Junjung tinggi sportivitas, kebersamaan dan persaudaraan. Jadikan kegiatan ini sebagai pengalaman berharga untuk menjadi generasi madrasah yang berprestasi, berakhlakul karimah, memiliki keterampilan dan mampu berkarya untuk negeri,” pesannya.
Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Kemenag Tapteng, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kemenag Sibolga Syamsul Simanjuntak, Ketua Panitia Ahmad Jailani Nasution, para kepala madrasah selaku Kamabigus, pembina, panitia dan seluruh peserta.
Baca Juga: Hujan Deras dan Angin Kencang Hantam Siantar, Rumah Rusak dan Pohon Tumbang
Melalui PGM 2026, Kemenag Tapteng mendorong pola pembinaan yang tidak hanya bertumpu pada prestasi akademik. Karakter, keterampilan, kemandirian, kepedulian lingkungan dan wawasan sejarah juga menjadi bekal yang dianggap penting bagi generasi madrasah. (dh)
Editor : Editor Satu