Forum Konservasi Orangutan tinjau Stasiun Riset dan Komitmen Biodiversitas PTAR

SAMMAN • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 16:46 WIB
Dr Suci Utami menunjukkan buah gaseng atau kenari hutan sebagai makanan Orangutan Tapanuli yang terdapat dalam area preservasi PTAR di Batang Toru, Tapanuli Selatan saat mendampingi kunjungan tim FOKUS, Sabtu 22/8/2026). (Samman/MetroDaily)
Dr Suci Utami menunjukkan buah gaseng atau kenari hutan sebagai makanan Orangutan Tapanuli yang terdapat dalam area preservasi PTAR di Batang Toru, Tapanuli Selatan saat mendampingi kunjungan tim FOKUS, Sabtu 22/8/2026). (Samman/MetroDaily)

TAPSEL, METRODAILY-Forum Konservasi Orangutan Sumatera (FOKUS) meninjau Stasiun Riset Batang Toru dan memastikan komitmen pelestarian keanekaragaman hayati (biodiversitas) khususnya Orangutan Tapanuli di Ekosistem Batang Toru yang berdampingan dengan wilayah operasional Tambang Emas Martabe, Sabtu (22/8/2026).

FOKUS yang terdiri dari akademisi, praktisi, aktivis dan pemerhati lingkungan serta private sector (dunia usaha), ini mendatangi area preservasi PT Agincourt Resources (PTAR) yang membentang seluas 1.985,47 Hektare, dan telah dijadikan area konservasi yang di dalamnya berdiri Stasiun Riset Batang Toru.

Di area ini, ditemukan sejumlah individu Orangutan Tapanuli, juga Tapir dan jejak Harimau Sumatra. Sementara dalam kunjungan tim FOKUS, terlihat sejumlah sarang Orangutan di cabang-cabang pohon besar sejenis Meranti dan Gaseng, baru saja ditinggal dengan rentang 3 sampai 10 hari sebelumnya.

Menurut Ketua FOKUS, Julius Paolo Siregar, melihat kegiatan stasiun riset dan tim biodiversitas PTAR menjadi salah satu contoh komitmen nyata private sector dalam perlindungan satwa langka dan kritis, khususnya Orangutan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis) yang juga endemik di Ekosistem Batang Toru.

"Meski pun itu, perlu peningkatan melihat lagi apa yang menjadi target di dalam konservasi khususnya untuk Orangutan Tapanuli di Batang Toru," katanya usai peninjauan itu.

Julius yang juga aktivis di Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) ini, mengusulkan akan adanya tolokukur kinerja dari stasiun riset dan program konservasi di area preservasi ini. Dan ini juga harus menjadi ajakan bagi private sector lainnya yang berdampingan dengan habitat Orangutan.

"Perkembangan konservasi itu kan tidak monoton kepada habitat atau pun spesies. Tetapi juga berbasis lanskap bagaimana peran private sector ini menjadi hal yang penting mengajak investor dan lainnya untuk lebih peduli dan memperhatikan ekosistem Batang Toru," ucap Julius.

Usulan lain dari FOKUS, agar Stasiun Riset Batang Toru segera memiliki data series, dan konektivitas kerja dengan lembaga-lembaga lain seperti BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) dan BBKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam), serta terlibat dalam pendidikan dini terhadap warga lokal terkait satwa dilindungi.

"Stasiun riset ini harus jadi pilot project bagi perusahaan-perusahaan lain di Sumatra Utara, dan cerminan kepedulian bagi lingkungan" kata Khairul Azmi Pemerhati Individu Satwa Liar dan Orangutan yang tergabung dalam FOKUS.

Stasiun Riset Batang Toru didirikan PTAR, dan dipimpin Dra Sri Suci Utami Atmoko PhD, ahli primata dari Pusat Riset Primata (PRP) Universitas Nasional (Unas), sebagai upaya konservasi primata langka, khususnya Orangutan Tapanuli di Ekosistem Batang Toru.

Dr Suci, salah satu ahli primata dunia ini, mengatakan, stasiun riset ini berada di bawah Yayasan Marsada Sahata Lestari berdiri atas usulan Biodiversity Advisory Panel (BAP) atau panel penasihat keanekaragaman hayati, ilmuwan independen yang memberi nasihat bagi PTAR, sebagai tindaklanjut terkait UU No 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

"(Area) ini APL, karena itu namanya Area Preservasi. Di sini kita memiliki fokus pada ilmu pengetahuan selain menjadi area konservasi. Posisinya hutan sekunder dan bekas kebun masyarakat yang dibebaskan PTAR," jelasnya dalam diskusi bersama FOKUS. 

Saat ini, kata Dr Suci, stasiun riset memiliki fokus dalam meneliti primata khususnya Orangutan Tapanuli, sembari meneliti spesies lainnya yang berada di area preservasi ini.

"Sangat menarik bagaimana habitat Orangutan bisa berdampingan dengan kondisi seperti ini dan juga tambang," ungkapnya.

Dan dari survey, di sini juga ada Harimau Sumatra dan Tapir, itu justru datang setelah bencana 25 November 2025 lalu. Bahkan, jenis Kambing Gunung serta jenis Rusa pernah juga tertangkap kamera trap.

"Harapannya lokasi ini juga bisa mengekang kegiatan illegal logging dan perburuan liar," katanya sembari memaparkan kegiatan rutin tim yang diantaranya patroli kawasan.

Manager Biodiversity & Environmental Strategic Development PTAR, Syaiful Anwar menambahkan, upaya dalam mengatasi perburuan liar, illegal logging serta pembukaan lahan akan dilakukan dengan pendekatan sosial.

Saat ini, tim sosiolog yang ditugaskan bersama yayasan Kelompok Muda Mandiri dan Kreatif telah melakukan pendataan apa yang menjadi ketergantungan masyarakat dalam melakukan kegiatan-kegiatan perburuan liar dan illegal logging.

"Masyarakat masih bergantung di area-area bekas kebun mereka yang kita bebaskan dan rehabilitasi. Tetapi, itu harus dibuktikan dengan data, yang saat ini kita sedang kumpulkan. Jadi, nanti kita akan masukkan dalam program community, memberikan peluang pendapatan bagi mereka," katanya memaparkan tantangan dan rencana solusi di area preservasi saat ini.

Di sini, Syaiful menjelaskan bahwa area preservasi dan stasiun riset nantinya akan dimanfaatkan untuk pengembangan ilmu pengetahuan bekerjasama dengan perguruan-perguruan tinggi di Indonesia, terutama bagi perguruan tinggi lokal. (SAN)

Editor : SAMMAN
orangutan tapanuli Tambang Emas Martabe PTAR Ekosistem Batangtoru