Generasi Emas Dimulai dari Rumah, Tanoto Foundation Dorong Pengasuhan Anak Jadi Prioritas Kebijakan

Editor Satu • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:30 WIB
Regional Lead Tanoto Foundation Sumatera Utara Medi Yusva menyampaikan pentingnya penguatan ekosistem pengasuhan dan stimulasi anak usia dini sebagai investasi menuju Generasi Emas Indonesia 2045.
Regional Lead Tanoto Foundation Sumatera Utara Medi Yusva menyampaikan pentingnya penguatan ekosistem pengasuhan dan stimulasi anak usia dini sebagai investasi menuju Generasi Emas Indonesia 2045.

MEDAN, METRODAILY — Generasi Emas Indonesia 2045 tidak lahir begitu saja. Fondasinya dibangun sejak anak berada pada tahun-tahun pertama kehidupannya—ketika otak, kemampuan bahasa, emosi, perilaku, dan keterampilan sosial berkembang pesat.

Karena itu, pengasuhan anak usia dini tidak cukup dibebankan kepada ibu atau keluarga. Kualitas pengasuhan juga ditentukan lingkungan sekitar, akses layanan kesehatan dan pendidikan, kondisi sosial-ekonomi, serta dukungan komunitas dan pemerintah.

Regional Lead Tanoto Foundation Sumatera Utara, Medi Yusva, mengatakan pengasuhan dan stimulasi anak usia dini harus ditempatkan sebagai bagian dari investasi pembangunan manusia, bukan sekadar urusan domestik keluarga.

Baca Juga: Dari Daun Lobak Jadi Tetes Mata, Mahasiswa UMSU Bidik Retinopati Diabetik

Hal itu menjadi pokok perhatian dalam policy brief “Optimalisasi Pengasuhan dan Stimulasi Anak Usia Dini Berbasis Masyarakat untuk Mencetak Generasi Emas Indonesia.”

“Pengasuhan tidak dapat dipandang hanya sebagai isu keluarga, tetapi sebagai bagian dari agenda pembangunan sumber daya manusia dan investasi jangka panjang bagi kualitas generasi emas Indonesia,” demikian salah satu pokok policy brief tersebut.

Tak Semua Anak Memulai dari Garis yang Sama

Persoalan terbesar bukan ketiadaan program. Berbagai kebijakan dan layanan untuk anak usia dini sebenarnya telah tersedia. Masalahnya, akses dan kualitasnya belum merata.

Baca Juga: Orang Tua Tak Cukup Beri Makan Anak, Pengasuhan di 1.000 Hari Pertama Jadi Kunci Tumbuh Kembang

Pemahaman orang tua mengenai pengasuhan positif, stimulasi perkembangan, kesehatan, gizi dan deteksi dini tumbuh kembang anak masih berbeda-beda.

Di sisi lain, orang tua yang bekerja sering menghadapi keterbatasan waktu. Anak kemudian diasuh anggota keluarga lain, pengasuh atau lembaga penitipan. Tidak semua pengasuh memiliki pengetahuan yang memadai mengenai kebutuhan anak berdasarkan usia.

Kesenjangan juga terjadi pada pelaksana layanan. Kader Posyandu, guru PAUD, pengasuh dan tenaga pendamping di tingkat komunitas masih membutuhkan pelatihan, standardisasi kompetensi, fasilitas dan dukungan yang berkelanjutan.

Baca Juga: Pemkab Batu Bara Targetkan Ekspor Produk UMKM dan Pertanian Akhir Tahun 2026

Persoalan semakin kompleks di wilayah terpencil dan keluarga rentan. Akses terhadap PAUD, layanan kesehatan, gizi dan perlindungan anak belum selalu sama. Bahkan persoalan administrasi kependudukan, seperti akta kelahiran dan Kartu Keluarga, dapat menjadi penghalang anak memperoleh layanan dasar.

Kelompok paling rentan adalah anak usia 0–3 tahun, anak dari keluarga miskin dan rentan, anak di wilayah terpencil, serta anak dengan disabilitas atau kebutuhan khusus.

Pengasuhan Bukan Cuma Soal Makanan

Medi menekankan bahwa enam tahun pertama merupakan periode penting bagi perkembangan fisik, kognitif, sosial-emosional dan bahasa anak.

Baca Juga: Pemko Padangsidimpuan Bahas Evaluasi  Perpanjangan P3K Paruh Waktu dan PJLP

Pada fase ini, nutrisi memang penting. Namun, makanan bukan satu-satunya kebutuhan.

Anak membutuhkan stimulasi, interaksi yang responsif, rasa aman, perlindungan dan hubungan yang sehat dengan orang dewasa di sekitarnya.

Karena itu, keluarga membutuhkan ruang belajar yang terstruktur dan berkelanjutan untuk memahami kebutuhan anak. Edukasi juga tidak boleh hanya menyasar ibu, tetapi calon ayah, ayah, kakek-nenek, pengasuh dan lingkungan komunitas.

Pendekatan tersebut sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 60 Tahun 2013 tentang Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI), yang menempatkan pendidikan, kesehatan, gizi, pengasuhan, perlindungan dan kesejahteraan sebagai kebutuhan anak yang harus dipenuhi secara terpadu.

Baca Juga: Pelajar Hanyut di Sungai Bilah Labuhanbatu Ditemukan Setelah Tiga Hari Pencarian

Fondasi Sudah Ada

Menurut policy brief tersebut, Sumatera Utara, khususnya Kota Medan, sebenarnya telah memiliki modal sosial dan layanan yang dapat menjadi fondasi ekosistem pengasuhan.

Di antaranya PAUD Holistik Integratif, Posyandu, Puskesmas, Bina Keluarga Balita, kelas parenting, kelas menyusui dan MPASI, kegiatan stimulasi anak, Rumah Pintar YAFSI serta Family Strengthening Program.

Ada pula berbagai komunitas, organisasi masyarakat, tenaga kesehatan, pendidik dan mitra pembangunan yang selama ini bergerak dalam isu anak.

Masalahnya, berbagai modal tersebut belum sepenuhnya terhubung.

Baca Juga: PT PSJ Raya Padangsidimpuan Edukasi Konsumen #Cari_aman Berkendara

Layanan pendidikan, kesehatan, gizi, pengasuhan dan perlindungan masih dapat berjalan secara sektoral. Akibatnya, keluarga harus berhadapan dengan layanan yang terpisah-pisah, sementara kebutuhan anak sebenarnya saling berkaitan.

Karena itu, penguatan ekosistem pengasuhan menjadi penting. Keluarga tidak cukup diberi informasi, tetapi harus mendapatkan dukungan agar mampu menerapkannya.

Enam Jalan Keluar

Policy brief tersebut menawarkan enam rekomendasi kebijakan.

Baca Juga: Smartcash dari Bank Sumut Jadi Alat Pembayaran BRT Mebidang

Pertama, pemerintah daerah perlu memperkuat regulasi mengenai pengasuhan dan stimulasi anak usia dini sebagai bagian dari implementasi PAUD HI. Isu pengasuhan juga perlu masuk dalam perencanaan pembangunan dan penganggaran daerah.

Kedua, kapasitas kader Posyandu, Bina Keluarga Balita dan PKK perlu diperkuat. Guru PAUD non-PNS dan kader komunitas juga membutuhkan pelatihan berkelanjutan, fasilitas dan dukungan yang sepadan dengan tanggung jawab mereka.

Ketiga, layanan pendidikan, kesehatan, gizi, pengasuhan dan perlindungan perlu diintegrasikan. PAUD, Posyandu, Puskesmas, pemerintah, komunitas dan organisasi masyarakat perlu memiliki mekanisme koordinasi dan rujukan yang jelas.

Baca Juga: Rodrigo De Paul Cekcok dengan Wasit

Keempat, pemerintah harus memprioritaskan kelompok paling rentan, terutama anak usia 0–3 tahun, anak dengan disabilitas, keluarga miskin dan anak di wilayah dengan akses layanan terbatas.

Kelima, penguatan ekosistem pengasuhan membutuhkan anggaran yang berkelanjutan. Pemerintah juga didorong memperluas kemitraan dengan perguruan tinggi, komunitas, organisasi masyarakat dan sektor swasta.

Keenam, kampanye publik mengenai pengasuhan responsif, stimulasi, kesehatan dan tumbuh kembang anak perlu diperluas melalui media massa dan platform digital.

Dengan begitu, kampanye pengasuhan tidak berhenti pada pesan agar anak makan bergizi. Pesannya harus lebih lengkap: anak membutuhkan makanan, tetapi juga membutuhkan orang dewasa yang hadir, mendengar, berkomunikasi, memberi stimulasi dan menciptakan rasa aman.

Baca Juga: Atletico Madrid Takkan Jual Julian Alvarez

Medi mengatakan penguatan ekosistem pengasuhan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Dalam penyusunan policy brief tersebut, Tanoto Foundation berkolaborasi dengan Forum Jurnalis Peduli Sumatera Utara, SOS Children’s Village Indonesia Medan, Yayasan Fajar Sejahtera Indonesia, Kelompok Kerja Sosial Perkotaan, Yayasan Nuansa Alam Indonesia, Forum Anak Medan, AIMI Sumatera Utara, Medan Parenting Club, Pusat Kajian dan Perlindungan Anak, Komunitas Peduli Anak, Moms Child Community, Yayasan Nurani Luhur Masyarakat, Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia, Tanoto Scholars Association Sumatera Utara dan Dosen Psikologi USU.

Target akhirnya bukan sekadar anak yang tumbuh sehat, tetapi generasi yang memiliki kemampuan belajar, karakter, ketahanan sosial dan daya saing.

Generasi Emas 2045, dengan demikian, bukan dimulai pada 2045. Ia dimulai hari ini—di rumah, di Posyandu, di PAUD dan di lingkungan tempat anak tumbuh. (Rel/mea)

Editor : Editor Satu
pengasuhan anak usia dini 1000 Hari Pertama Kehidupan tanoto foundation