Orang Tua Tak Cukup Beri Makan Anak, Pengasuhan di 1.000 Hari Pertama Jadi Kunci Tumbuh Kembang

Editor Satu • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:12 WIB
Kegiatan KIARA 2026 bertema “Asuh Berpadu, Anak Melaju” digelar Tanoto Foundation di Medan, Kamis (20/8/2026), membahas pentingnya pengasuhan anak secara menyeluruh.
Kegiatan KIARA 2026 bertema “Asuh Berpadu, Anak Melaju” digelar Tanoto Foundation di Medan, Kamis (20/8/2026), membahas pentingnya pengasuhan anak secara menyeluruh.

MEDAN, METRODAILY — Pengasuhan anak pada masa awal kehidupan tidak bisa disederhanakan menjadi urusan makanan bergizi. Kasih sayang, stimulasi, komunikasi, pemberian ASI, hingga keterlibatan ayah dan keluarga ikut menentukan kualitas tumbuh kembang anak.

Persoalan itu menjadi perhatian dalam pembahasan mengenai pengasuhan anak usia dini dan periode 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) hingga usia enam tahun. Pemerintah dan berbagai komunitas didorong memperluas edukasi pengasuhan dengan pendekatan yang lebih dekat dengan keluarga dan kearifan lokal.

Hal itu mengemuka dalam KIARA (Kelas Inspirasi Antar-Penggerak Sumatera Utara) 2026 bertema “Asuh Berpadu, Anak Melaju” yang digelar Tanoto Foundation di Medan, Kamis, 20 Agustus 2026.

Baca Juga: Pemkab Batu Bara Targetkan Ekspor Produk UMKM dan Pertanian Akhir Tahun 2026

Penyuluh KB Ahli Madya, Rilmawati Br Tarigan, SKM, MKM, mengatakan orang tua perlu memahami kebutuhan anak sesuai tahapan usia. Menurut dia, pemenuhan kebutuhan anak tidak cukup hanya dengan memastikan makanan tersedia.

Dalam praktiknya, kata Rilmawati, masih ditemukan pola pengasuhan yang lebih menitikberatkan pada pemberian makanan, sementara aspek stimulasi dan kebutuhan emosional anak belum mendapat perhatian yang sama.

“Jangan hanya makanan. Pengasuhan juga harus sesuai dengan usia anak,” ujarnya dalam diskusi tersebut.

Baca Juga: Pemko Padangsidimpuan Bahas Evaluasi  Perpanjangan P3K Paruh Waktu dan PJLP

Karena itu, edukasi kepada keluarga perlu dilakukan secara lebih luas. Salah satu pendekatan yang disebut adalah penguatan kelompok Bina Keluarga Balita (BKB) yang menyasar keluarga dengan anak balita.

Program tersebut dinilai penting karena pengasuhan anak tidak selalu dilakukan oleh ibu. Ketika orang tua bekerja, anak dapat diasuh ayah, kakek-nenek, pengasuh maupun lembaga penitipan anak.

Masalahnya, tidak semua pihak yang terlibat dalam pengasuhan memiliki pemahaman yang sama mengenai kebutuhan anak berdasarkan usia.

Baca Juga: SK Gubernur Sudah Turun, Yusuf Siregar Menunggu Pelantikan Jadi Anggota DPRD Tapsel

Kondisi itu membuat edukasi pengasuhan perlu menyasar seluruh lingkungan terdekat anak. Bukan hanya ibu, tetapi juga ayah dan keluarga besar.

Ayah Tak Boleh Hanya Jadi Pencari Nafkah

Wakil Ketua sekaligus Breastfeeding Counselor Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Sumatera Utara, Miranda Agustien, menilai keterlibatan ayah merupakan bagian penting dalam membangun pola pengasuhan yang sehat.

Selama ini, pengasuhan masih kerap dianggap sebagai tanggung jawab utama ibu. Padahal, dukungan ayah sangat menentukan, termasuk dalam keberhasilan ibu memberikan ASI eksklusif.

“Dukungan itu bukan hanya dari ibu, tetapi harus menyeluruh,” kata Miranda.

Menurut dia, edukasi berbasis komunitas menjadi salah satu strategi yang dapat memperkuat pemahaman keluarga. Edukasi juga perlu menyentuh laki-laki agar calon ayah maupun ayah memahami peran yang dapat dilakukan dalam pengasuhan.

Baca Juga: Polres Padang Lawas Utara Cek Galian C di Sipiongot

Dukungan lingkungan kerja juga menjadi bagian penting. Perusahaan, misalnya, memiliki tanggung jawab menyediakan ruang laktasi sebagai bentuk dukungan terhadap ibu menyusui.

Selain ayah, nenek dan anggota keluarga lainnya juga perlu dilibatkan. Keluarga besar kerap memiliki pengaruh kuat terhadap keputusan pengasuhan, sehingga pemahaman mengenai praktik pengasuhan yang tepat harus dibangun bersama.

Pendekatan berbasis kearifan lokal pun dapat digunakan. Miranda mencontohkan penggunaan doding atau nyanyian tradisional untuk menidurkan anak sebagai salah satu cara mengenalkan stimulasi sekaligus mempertahankan budaya lokal.

Pengasuhan Dimulai Sebelum Anak Lahir

Dosen Psikologi Universitas Sumatera Utara, Rahma Yurliani, M.Psi., Psikolog, menambahkan bahwa pengasuhan idealnya tidak baru dibicarakan setelah anak lahir.

Persiapan calon ibu dan calon ayah menjadi tahap penting. Edukasi tidak hanya berkaitan dengan kesehatan dan gizi calon ibu, tetapi juga kesiapan pasangan membangun komunikasi dan menjalankan peran sebagai orang tua.

Menurut Rahma, pendidikan mengenai persiapan menjadi orang tua perlu diperkuat. Materinya antara lain komunikasi dalam keluarga, pengasuhan, persiapan menyusui dan pembagian peran antara ayah dan ibu.

Baca Juga: Pembinaan Berkelanjutan Bikin UMKM Lokal Batangtoru Berdaya Saing

“Calon ibu dan calon ayah perlu dipersiapkan. Bukan hanya soal gizi, tetapi juga bagaimana mereka berkomunikasi dan mengasuh anak,” ujarnya.

Ia menilai perubahan perilaku keluarga membutuhkan proses panjang. Edukasi tidak cukup dilakukan sekali, tetapi harus berlangsung secara konsisten dengan melibatkan pemerintah, komunitas, dunia usaha, tenaga kesehatan, akademisi dan masyarakat.

Salah satu persoalan yang perlu diperhatikan adalah hubungan orang tua dan anak. Ketika komunikasi di dalam keluarga tidak terbangun, sementara orang tua memiliki kesibukan pekerjaan, kebutuhan emosional anak berisiko tidak tertangani secara optimal.

Baca Juga: Pelajar Hanyut di Sungai Bilah Labuhanbatu Ditemukan Setelah Tiga Hari Pencarian

Karena itu, kampanye pengasuhan anak perlu bergeser dari sekadar pesan mengenai makanan bergizi menuju pendekatan yang lebih utuh.

Anak membutuhkan makanan, tetapi juga membutuhkan orang tua yang hadir, komunikasi, stimulasi, rasa aman dan kasih sayang.

Pengasuhan yang baik pada akhirnya bukan pekerjaan satu pihak. Ia merupakan kerja bersama—dimulai dari keluarga, diperkuat komunitas, dan didukung kebijakan pemerintah. (Mea)

Editor : Editor Satu
pengasuhan anak usia dini 1000 Hari Pertama Kehidupan tanoto foundation