Pembinaan Berkelanjutan Bikin UMKM Lokal Batangtoru Berdaya Saing

SAMMAN • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 15:43 WIB
Dian Anggreini pemilik usaha Eza Cake memajang kue buatannya di Bagas Silua, gerai etalase UMKM Binaan PTAR, Batangtoru, Tapsel, Rabu (19/8/2026). (Samman/MetroDaily)
Dian Anggreini pemilik usaha Eza Cake memajang kue buatannya di Bagas Silua, gerai etalase UMKM Binaan PTAR, Batangtoru, Tapsel, Rabu (19/8/2026). (Samman/MetroDaily)

TAPSEL, METRODAILY-Dengan bahan-bahan berkualitas premium, kue tart buatan Dian Anggreini Siregar belum begitu diminati masyarakat lokal saat memulai usahanya pada media 2018 lalu, di sudut Gang Bengkel, Kelurahan Aek Pining, Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatra Utara.

Adonan tepung terigu, mentega, buttercream, telur dan gula pasir, semua bahan ini dipakainya dari merek tertentu yang harganya lebih mahal, yang otomatis membuat harga kue buatannya lebih mahal. Namun, masyarakat lokal belum mempertimbangkan itu dalam memutuskan pembelian.

5 tahun berusaha kue basah setelah resign sebagai karyawan perusahaan, Anggreini hanya bertahan dengan penghasilan pas-pasan untuk menghidupi tiga anaknya. Apalagi, dengan kemampuan otodidak, penjualan kue buatannya masih sebatas antar teman dan keluarga.

Lalu, pada Tahun 2023, PT Agincourt Resources (PTAR) pengelola tambang emas Martabe mengajaknya sebagai wirausahawan binaan dalam program pembinaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang baru diluncurkan perusahaan itu dua tahun sebelumnya.

Anggreini pun ikut serta memantapkan usahanya di bidang Pastry & Bakery dengan merek Eza Cake. Nama Eza diambil dari nama tiga anaknya, Edmund, Zavier dan Attah.

“Sejak itu, banyak mengikuti pelatihan di bidang pastry and bakery. Sebulan setelahnya, orderan menaik terutama di jenis snack (kudapan pada acara),” ceritanya pada Rabu (19/8/2026) di Bagas Silua, Aek Pining.

Seiring peningkatan penjualan itu, usaha Anggreini ternyata banyak persoalan. Namun, masalahnya pada peralatan produksi yang belum memadai ketika even-even di Batangtoru banyak memesan kue buatannya.

Dari pembinaan dan bantuan PTAR, Eza Cake akhirnya memiliki mesin mixer besar dalam menunjang produksinya. Selanjutnya, oven yang lebih besar juga. Lalu memperkerjakan 3 orang karyawan. Dengan omzet kisaran Rp 10-20 Juta perbulannya.

“Namun, setelah bencana kemarin (November 2025). Ekonomi lesu, tambang juga sempat berhenti, penjualan sangat turun,” ungkapnya.

Snack buatan Eza Cake berisi 3 kue basah dan 1 kotak minuman ringan, dibanderol Rp 15 Ribu per kotak. Sementara kue tart dijual dengan harga Rp 150 ribu hingga Rp 600 Ribu. Harga ini sesuai dengan pertimbangan HPP dengan kualitas bahan kue buatannya.

PTAR sebagai anak usaha Astra International Tbk (ASII) kemudian mendorong Anggreini membawa usahanya dalam program pembinaan UMKM oleh Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA). Yang akan mendapat pelatihan selama setahun baik secara langsung mau pun daring.

Pelatihan itu diikuti 207 UMKM se-Indonesia, dan setelah melalui proses seleksi hanya 75 UMKM yang dibina sampai ke pusat-pusat industri kreatif di Jakarta.

“Dan Alhamdulillah saya terpilih 10 besar,” Anggreini seraya menjelaskan pembinaan yang didapat berupa teknis, kreativitas hingga studi tiru.

Program pembinaan UMKM PTAR sendiri telah berlangsung sejak 2021. Pada 2025, PTAR tercatat membina 53 UMKM khusus di bidang kuliner yang tersebar di 15 desa lingkar tambang, yakni Kecamatan Batangtoru dan Muara Batangtoru.

Senior Supervisor SME Agincourt Resources, Nurlailah mengatakan, ada sejumlah indikator yang digunakan untuk melihat keberhasilan program. Indikator pertama adalah keberlanjutan usaha. Sebelum dibina, sebagian UMKM hanya berproduksi ketika mendapatkan pesanan.

Bahkan, ada usaha yang aktivitasnya tidak rutin dan terkadang buka, lalu tutup kembali. Setelah mendapatkan pembinaan dan target baru, pelaku UMKM binaan didorong untuk mampu berproduksi secara berkelanjutan.

Hasilnya, sebagian pelaku UMKM binaan kini sudah mampu berproduksi secara rutin karena memiliki semakin banyak mitra dan konsumen yang mengenal produk mereka. Indikator berikutnya adalah peningkatan pendapatan.

PTAR memiliki data pendapatan UMKM binaan sejak awal pembinaan sehingga perkembangan usaha dapat dipantau dan dievaluasi. Jika dilihat dari data pada 2025, UMKM binaan secara keseluruhan omzetnya mencapai ratusan juta rupiah bahkan miliaran.

Tujuan akhir dari pembinaan tersebut bukan menjadikan PTAR sebagai satu-satunya pasar bagi UMKM binaan. Justru sebaliknya. PTAR ingin pelaku UMKM mampu membangun pasar sendiri dan bertahan secara mandiri.

“PTAR tidak menjadi satu-satunya pasar yang besar, tapi kami dorong lebih ke luar. Karena pada akhirnya nanti PTAR kan akan berhenti beroperasi,” jelasnya. (SAN)

Editor : SAMMAN
PTAR umkm martabe Batangtoru