Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini, para dosen ini menggandeng Kelompok Tani Karya Muda Desa Pagar Gunung yang berfokus pada pengembangan biofungisida berbasis Trichoderma sebagai alternatif pengendalian penyakit tanaman kopi yang lebih ramah lingkungan.
Tim PKM diketuai Dwi Aninditya Siregar, dengan tim Dr Dini Puspita Yanty dan Nabilah Siregar. Kegiatan tersebut turut melibatkan mahasiswa pendidikan biologi, Yuli Yanti dan Olga Matopni Siregar.
Kolaborasi ini berawal dari observasi di kebun kopi yang diawali dengan observasi lapangan pada 10 Mei 2026 di Desa Pagar Gunung. Tim dosen turun langsung ke perkebunan kopi untuk melihat kondisi tanaman sekaligus berdiskusi dengan petani mengenai berbagai persoalan yang dihadapi.
"Salah satu perhatian utama adalah penyakit karat daun kopi yang dapat mengganggu pertumbuhan dan produktivitas tanaman," terang Dwi Aninditya, Rabu (19/8/2026).
Kondisi tersebut menjadi dasar bagi tim dosen untuk memberikan pendampingan mengenai pengendalian penyakit berbasis agen hayati.
Dari kolaborasi ini, petani belajar mengembangkan Trichoderma (cendawan anti jamur). Anggota Kelompok Tani Karya Muda diperkenalkan dengan manfaat dan cara pemanfaatan Trichoderma sebagai biofungisida.
Menariknya, teknologi yang diperkenalkan juga memanfaatkan bahan lokal berupa limbah tebu sebagai media produksi Trichoderma. Dengan pendekatan tersebut, petani tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru, tetapi juga didorong untuk mampu menghasilkan biofungisida secara mandiri.
"Petani kemudian mendapatkan pendampingan mengenai proses produksi, formulasi, hingga teknik aplikasi Trichoderma pada tanaman kopi," jelas ketiga dosen itu.
Puncak Kegiatan pada 5 Juli 2026 lalu, di mana tim dosen bersama petani melakukan praktik penerapan teknologi biofungisida. Kegiatan juga diarahkan pada penerapan demonstration plot (demplot) sebagai sarana bagi petani untuk melihat secara langsung penerapan pengendalian penyakit tanaman kopi menggunakan agen hayati.
Tim juga mendorong penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) produksi dan aplikasi Trichoderma agar teknologi yang telah diberikan dapat terus diterapkan oleh kelompok tani.
Bagi tim PKM IPTS, keberhasilan program ini dilihat dari kemampuan masyarakat untuk melanjutkan teknologi tersebut secara mandiri. Karena itu, Kelompok Tani Karya Muda diarahkan untuk mampu memproduksi dan mengaplikasikan biofungisida dengan tepat, sekaligus secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap fungisida kimia.
"Mahasiswa yang kita ajak juga turut membantu persiapan, dokumentasi, penyediaan sarana dan bahan, serta mendukung pelaksanaan kegiatan di lapangan," kata Dwi Aninditya.
Harapan dari dosen PKM IPTS ini, pemanfaatan Trichoderma dapat membantu petani mengendalikan penyakit tanaman kopi dengan pendekatan yang lebih ramah lingkungan. Sementara pemanfaatan limbah tebu sebagai media produksi memberikan nilai tambah terhadap bahan lokal yang sebelumnya kurang dimanfaatkan. (SAN)
Editor : SAMMAN