Pola Rekrutmen Teroris Bergeser, Anak Muda Jadi Sasaran Lewat Algoritma Medsos

Editor Satu • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 12:00 WIB
Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri Kombes Pol Mayndra Eka Wardhana mengungkap pergeseran pola rekrutmen kelompok teroris yang kini memanfaatkan algoritma media sosial.
Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri Kombes Pol Mayndra Eka Wardhana mengungkap pergeseran pola rekrutmen kelompok teroris yang kini memanfaatkan algoritma media sosial.

JAKARTA, METRODAILY – Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkap perubahan pola rekrutmen kelompok teroris yang kini semakin masif memanfaatkan teknologi digital.

Generasi muda yang akrab dengan internet atau digital native disebut menjadi target utama penyebaran paham radikal melalui algoritma media sosial.

Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, Kombes Pol Mayndra Eka Wardhana, mengatakan kelompok ekstrem memanfaatkan sistem algoritma berbagai platform digital untuk mempercepat penyebaran propaganda sekaligus menjaring anggota baru, terutama dari kalangan pelajar dan remaja.

Baca Juga: Bupati Anton Jemput Bola ke Nagori Cingkes, Gelar Layanan Adminduk hingga Pasar Murah

"Kami mendeteksi memang terjadi pergeseran pola rekrutmen. Berbagai platform digital kini dimanfaatkan untuk menyasar pelajar, anak-anak, dan remaja yang merupakan digital native," ujar Mayndra saat peluncuran buku Atas Nama Surga: Algoritma Radikalisasi hingga Manipulasi Kesadaran karya Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Alexander Sabar, Rabu (29/7).

Menurutnya, kelompok radikal memanfaatkan tingginya intensitas penggunaan media sosial oleh anak muda yang sering kali lebih memahami teknologi dibandingkan orang tua mereka.

Kondisi tersebut membuat pengawasan menjadi lebih sulit, sementara algoritma platform digital justru memperkuat paparan terhadap konten-konten yang memiliki tema serupa.

Baca Juga: Kapolres Siantar Sah Udur Terima Penghargaan Pelayanan Prima dari Kapolri

"Algoritma memiliki kemampuan amplifikasi yang sangat besar. Anak-anak saat ini lebih memahami dunia digital dibanding orang tuanya, sehingga ini menjadi perhatian serius kami," katanya.

Mayndra menjelaskan, algoritma media sosial dirancang untuk mempertahankan pengguna selama mungkin di dalam platform dengan terus menampilkan konten sesuai minat atau riwayat pencarian.

Mekanisme ini kemudian memunculkan fenomena echo chamber atau ruang gema, yakni kondisi ketika pengguna terus-menerus menerima informasi dengan sudut pandang yang sama tanpa memperoleh perspektif pembanding.

Akibatnya, seseorang dapat semakin meyakini narasi yang diterimanya karena terus diperkuat oleh konten serupa.

Baca Juga: Reinhard Hutahaean Pimpin IDI Siantar-Simalungun, Siap Perkuat Perlindungan Dokter

"Konten yang sama akan terus muncul. Pagi dibuka, siang dibuka, malam sebelum tidur dibuka lagi. Seolah-olah itulah satu-satunya kebenaran yang ada," jelasnya.

Menurut Mayndra, fenomena tersebut membuat anak-anak dan remaja semakin sulit memperoleh second opinion atau pandangan alternatif yang dapat membantu mereka menilai sebuah informasi secara kritis.

Karena itu, Densus 88 terus memperkuat langkah pencegahan bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) serta berbagai instansi terkait untuk membatasi penyebaran propaganda ekstremisme di ruang digital.

"Melindungi anak-anak Indonesia dari manipulasi algoritma, propaganda ekstremisme, serta proses radikalisasi digital merupakan investasi strategis bagi keamanan nasional," tegas Mayndra.

Baca Juga: Agnes Rahajeng Memukau di Miss Supranational 2026, Gaun Emas Bertabur Ribuan Kristal

Densus 88 juga mengingatkan pentingnya keterlibatan orang tua, sekolah, dan seluruh pemangku kepentingan dalam meningkatkan literasi digital agar generasi muda mampu mengenali serta menolak konten yang mengandung paham radikal dan ajakan menuju aksi terorisme. (rel)

Editor : Editor Satu
Pola Rekrutmen Teroris Algoritma Medsos