Anak-anak Huntara di Simarpinggan Terserang Penyakit Kulit

SAMMAN • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 17:39 WIB
Seorang ibu warga Huntara Simarpinggan dan anaknya yang sakit antre menunggu giliran pemeriksaan di Puskesmas Simarpinggan, Kecamatan Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan, Rabu (29/7/2026). (Samman/MetroDaily)
Seorang ibu warga Huntara Simarpinggan dan anaknya yang sakit antre menunggu giliran pemeriksaan di Puskesmas Simarpinggan, Kecamatan Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan, Rabu (29/7/2026). (Samman/MetroDaily)

TAPSEL, METRODAILY-Banyak warga hunian sementara (Huntara) Simarpinggan datang mengeluhkan penyakit saat PT Agincourt Resources menghadirkan dokter spesialis di Puskesmas Simarpinggan, Kecamatan Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatra Utara pada Rabu (29/7/2026).

Emmi Husfida Lubis (30) di antara warga yang saat ini mukim di Huntara itu. Warga asal Desa Tandihat ini membawa anaknya yang baru berusia 1 tahun 5 bulan, dengan keluhan penyakit kulit dan benjolan besar yang timbul di kepala anak itu.

"Sebelum bencana waktu masih di Tandihat tidak ada seperti ini," ungkapnya dari ruang antrean Puskemas Simarpinggan, bersama ibu dan anak lainnya.

Sudah tiga bulan terakhir, anak pertamanya bersama Nasrun Lahagu (32) ini mengalami ruam-ruam di berbagai bagian tubuh. Dan tiga hari belakangan, muncul benjolan besar seperti bisul di kepala dan dahi. Serta benjolan kecil di bawah mata kanan anak laki-laki itu.

"Kalau ada yang bilang mungkin karena airnya di sana (Huntara), tinggi PH. Tapi banyak di sana anak-anak yang gatal-gatal juga," kata Emmi.

Huntara Simarpinggan ditempati warga Desa Tandihat, desa yang ditinggal penghuninya setelah pergeseran tanah bersamaan dengan bencana hidrometeorologi yang melanda Pulau Sumatra pada akhir tahun lalu. Di Huntara Simarpinggan, sumber air diketahui sangat baik bersumber alami dialirkan melalui perbukitan, atau dari sungai.

Sementara itu, dokter spesialis masuk desa menyasar warga desa terpencil, merupakan bagian dari program sosial pengelola tambang emas Batangtoru (Martabe) yang berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan. Di Angkola Selatan, desa sasaran di antaranya Desa Garonggang Jae; Garonggang Julu; Mosa Jae; Mosa Julu; Sihuik-huik; Aek Kapur; dan Desa Bulu Soma.

Rohani Simbolon, Manager Community Development PTAR mengatakan, program pemberdayaan masyarakat ini dimaksudkan agar warga di desa yang jauh dari fasilitas kesehatan dapat berkonsultasi dan berobat langsung dengan dokter spesialis, khususnya yang berhubungan dengan anak, kandungan dan penyakit dalam.

"Ini sebagai komitmen PTAR melalui program pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan," katanya.

Program ini telah berlangsung selama 3 tahun. Dan pada 2026 ini, Angkola Selatan jadi titik kedua setelah sebelumnya dilaksanakan di Desa Muara Upu, Kecamatan Muara Batangtoru.

"Harapannya, pertama masyarakat mendapat manfaatnya. Yang tadi jauh dari rumah sakit, bisa langsung datang ke sini berobat dengan dokter spesialis, tahu diagnosanya. Seperti tadi ada ibu yang membawa anaknya, diperiksa dokter, diberikan obat secara gratis, dan kalau dia butuh rujukan bisa dirujuk," kata Rohani.

Dokter spesialis yang turun di antaranya dr Abdus Somad Harahap SpPD (Spesialis Penyakit Dalam), dr Ryan Andrian SpOG (Spesialis Kandungan), dan dr Syahreza Hasibuan SpA (Spesialis Anak).

Hadirnya para dokter spesialis ini diharapkan mampu mendeteksi dini berbagai keluhan penyakit, memantau kesehatan ibu hamil, hingga mengoptimalkan tumbuh kembang anak-anak di wilayah Angkola Selatan secara gratis tanpa dipungut biaya apa pun.

Suryadi, sekretaris Dinas Kesehatan Tapanuli Selatan mengungkapkan rasa terima kasih kepada PTAR yang telah berkolaborasi menuntaskan persoalan kesehatan warga khususnya di pelosok. Apalagi katanya, pada pelayanan biasanya Puskesmas Simarpinggan sendiri belum memiliki dokter spesialis.

Soal kesehatan di Tapanuli Selatan menurut Suryadi, masih umum dan tidak ada yang mengkhawatirkan.

"Harapannya, selama PTAR masih beroperasi kita berkolaborasi membantu pelayanan kesehatan masyarakat khususnya desa-desa terluar," katanya mengulas pengalaman menginap di suatu desa terpencil saat program ini berlangsung.

Dari amatan, ratusan warga teridiri dari orang tua, ibu dan anak-anak antre menunggu giliran pemeriksaan kesehatan dalam program yang berlangsung selama sehari ini.(SAN)

Editor : SAMMAN
Tambang Emas Martabe PTAR Dinkes Tapsel