LABUHANBATU, METRODAILY - Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu melalui Dinas Pendidikan (Disdik) akan mulai menerapkan program Kamis Berbudaya sekaligus mengenalkan kearifan lokal dan bahasa daerah kepada peserta didik, khususnya pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Program tersebut merupakan tindak lanjut atas dua arahan prioritas Bupati Labuhanbatu, dr. Hj. Maya Hasmita, yakni menetapkan Kamis sebagai hari pelestarian budaya serta menjaga eksistensi bahasa daerah agar tetap dikenal oleh generasi muda.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Labuhanbatu, Abdi Jaya Pohan, saat memimpin rapat di Aula Dinas Pendidikan, Jalan Menara No. 7, Kelurahan Bina Raga, Kecamatan Rantau Utara, Rabu (22/7/2026).
Baca Juga: BPJS Ketenagakerjaan dan Pemkab Labuhanbatu Percepat Capaian UCJ, Target 50 Persen Akhir 2026
"Kami ingin menanamkan nilai-nilai kearifan lokal kepada anak-anak sejak usia dini. Melalui program Kamis Berbudaya, mereka tidak hanya diperkenalkan dengan budaya daerah, tetapi juga diajak mempraktikkan penggunaan bahasa lokal agar tetap lestari," ujar Abdi.
Ia menjelaskan, program tersebut akan mulai diujicobakan tahun ini di empat sekolah, masing-masing dua sekolah di Kecamatan Panai Tengah dan dua sekolah di Kecamatan Panai Hilir. Pengenalan budaya akan dikemas dalam kegiatan ekstrakurikuler Bahasa Melayu Bilah Pane.
Abdi juga mengimbau seluruh kepala sekolah dan guru agar mendukung pelaksanaan program tersebut dengan memberikan pemahaman kepada peserta didik mengenai pentingnya menjaga identitas budaya daerah.
Baca Juga: Kapolres Labuhanbatu Perkuat Sinergitas Bersama TNI dan Kejaksaan
Menurutnya, penggunaan atribut budaya seperti tanjak tidak harus diseragamkan dan tidak boleh menjadi beban bagi orang tua maupun siswa. Yang terpenting adalah menumbuhkan rasa bangga dan kecintaan anak terhadap budaya daerah.
"Anak-anak diperkenalkan dengan busana budaya seperti tanjak, tetapi tidak harus seragam dan tidak memberatkan. Yang penting mereka mengenal serta mencintai identitas budayanya sendiri," katanya.
Lebih lanjut, Abdi menegaskan bahwa pelestarian budaya di sekolah tidak hanya berfokus pada budaya Melayu, tetapi juga akan mengenalkan keberagaman budaya yang ada di Kabupaten Labuhanbatu, termasuk busana tradisional dari 12 etnis yang hidup berdampingan di daerah tersebut.
Melalui program ini, Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu berharap nilai-nilai budaya dan kearifan lokal dapat terus terjaga, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari identitas daerah. (Bud)
Editor : Metro-Esa