SIANTAR, METRODAILY – Tim peneliti SETARA Institute melakukan penelitian lapangan di Kota Pematangsiantar untuk mengkaji dampak Indeks Kota Toleran (IKT) terhadap kehidupan sosial hingga pembangunan ekonomi.
Dalam kesempatan itu, Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi menegaskan komitmen pemerintah daerah memperkuat regulasi melalui penyusunan Peraturan Daerah (Perda) tentang penyelenggaraan toleransi kehidupan bermasyarakat.
Tim peneliti SETARA Institute diterima Wesly bersama tokoh agama di rumah dinas wali kota, Jalan MH Sitorus, Kamis (9/7).
Baca Juga: Siswi SMA Sultan Agung Siantar Raih Beasiswa Telkomsel, Lolos ke PTN
Wesly mengatakan, bagi Pemerintah Kota Pematangsiantar, Indeks Kota Toleran bukan sekadar pemeringkatan nasional, melainkan instrumen evaluasi untuk mengukur sejauh mana kebijakan pemerintah mampu menghadirkan ruang hidup yang inklusif, adil, dan bebas diskriminasi.
"Kami berharap hasil penelitian ini memberikan masukan, rekomendasi, dan perspektif yang konstruktif bagi Pemerintah Kota Pematangsiantar dalam memperkuat kebijakan, program, dan strategi pembangunan yang berorientasi pada penguatan toleransi, kerukunan, serta perlindungan hak seluruh masyarakat," ujar Wesly.
Peringkat Toleransi Naik
Wesly mengungkapkan, Pematangsiantar berhasil meningkatkan posisi dalam Indeks Kota Toleran 2025 dengan menempati peringkat keempat secara nasional, naik satu tingkat dibanding tahun sebelumnya yang berada di posisi kelima.
Baca Juga: Dramatis! Brace Jude Bellingham Bawa Inggris Singkirkan Norwegia
Menurutnya, capaian tersebut mencerminkan komitmen pemerintah daerah bersama seluruh elemen masyarakat dalam menjaga kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman.
Untuk memperkuat capaian itu, Pemko Pematangsiantar telah mengajukan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Penyelenggaraan Toleransi Kehidupan Bermasyarakat kepada Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Kota Pematangsiantar.
"Kami berharap tahun ini perda tersebut dapat disahkan. Selain itu, OPD teknis juga kami dorong menyusun berbagai program yang semakin memperkuat budaya toleransi di tengah masyarakat," katanya.
Baca Juga: Rumor Celine Evangelista Jadi 'Ani-ani' Kembali Viral, Dikaitkan Eks Jampidsus
Wesly menilai masih banyak ruang yang harus dibenahi agar ekosistem toleransi di Pematangsiantar semakin kuat. Karena itu, diperlukan inovasi dan pendekatan yang lebih inklusif dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
Ia menegaskan keberhasilan Pematangsiantar bukan hanya hasil kerja pemerintah, tetapi juga buah kolaborasi tokoh agama, tokoh adat, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), akademisi, organisasi masyarakat, serta seluruh warga yang terus menjaga harmoni sosial.
FKUB: Siantar Miniatur Indonesia
Ketua FKUB Kota Pematangsiantar M. Ali Lubis mengatakan kerukunan antarumat beragama di Kota Pematangsiantar telah terbangun sangat baik selama bertahun-tahun.
Baca Juga: UMKM Binaan Bank Sumut Tampilkan Teh Sere dan Kerupuk Kulit Ikan Nila di PRSU
Menurutnya, seluruh unsur agama di FKUB aktif berkolaborasi dan mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah.
"Di Kota Pematangsiantar tidak ada konflik agama. Kegiatan FKUB juga selalu mendapat dukungan pemerintah, termasuk saat kami berkunjung ke rumah-rumah ibadah," ujarnya.
Ali menyebut Pematangsiantar layak disebut sebagai miniatur Indonesia karena dihuni masyarakat dari berbagai suku, agama, dan budaya yang hidup berdampingan secara harmonis.
Teliti Dampak IKT
Sementara itu, peneliti SETARA Institute Sayyidatul Insiyah didampingi Okki Kawasa, mengatakan kunjungan tersebut bertujuan melihat secara langsung dampak hasil riset Indeks Kota Toleran terhadap kehidupan masyarakat dan pembangunan daerah.
Baca Juga: PMKRI Pematangsiantar Dukung Polri Usut Tuntas Dugaan Korupsi Pengadaan Batu Bara di PLN
"Kami ingin melihat sejauh mana hasil riset kami berdampak di Kota Pematangsiantar, termasuk terhadap pembangunan ekonomi. Kami berharap dapat berdiskusi lebih mendalam mengenai implementasi Indeks Kota Toleran di daerah," katanya.
Pertemuan diakhiri dengan pertukaran cenderamata antara Pemerintah Kota Pematangsiantar dan Tim SETARA Institute yang disaksikan jajaran pemerintah daerah, tokoh agama, serta perwakilan Kantor Kementerian Agama Kota Pematangsiantar. (esa)
Editor : Editor Satu