Program bertajuk 'Aksi Bikin Ecobrick Dari Hati Untuk Bumi' ini, menggandeng Bank Sampah Yamantab sebagai pelaksana teknis, berkolaborasi dengan empat bank sampah di Batangtoru, yakni Gocap, Satahi, Naposo Hamubaon, dan Rap Hita Paias.
"Sebanyak 10.000 ecobrick tersebut akan dimanfaatkan untuk membangun Taman Ecobrick di area Sopo Daganak, Batang Toru, serta sebagai penanda visual (signage) Martabe Cocoa dan Martabe Farm," kata Senior Manager Processing Agincourt Resources, Altur Tambun dalam seremoni pemanfaatan ekobrik, Selasa (30/6/2026) di Martabe Cocoa Farm, Desa Napa.
Program ini, kata Altur, baik sebagai perangkat edukatif, sekaligus menjadi pendorong kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah secara berkelanjutan berbasis ekonomi sirkuler.
Dalam perjalanannya, Bank Sampah Yamantab berperan sebagai tim teknis yang bertanggung jawab pada kegiatan sosialisasi, dan penyerapan ekobrik dari warga, serta pencapaian target 10.000 botol.
Sementara itu, PTAR memberikan dukungan penuh berupa dana, pendampingan intensif, serta sosialisasi untuk memotivasi masyarakat agar berpartisipasi secara aktif dalam membikin ekobrik.
"Program ekobrick tidak sekadar menekankan aspek pengelolaan sampah, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat," kata Altur.
"Dari yang semula membuang sampah plastik rumah tangga, masyarakat kini terdorong untuk menyimpan, mengolah, dan mengubahnya menjadi ecobrick. Ini merupakan langkah penting dalam menumbuhkan kepedulian kolektif terhadap masalah sampah plastik," tambahnya.
Melalui program ini, PTAR bersama Bank Sampah Yamantab dan bank sampah lokal telah menghadirkan solusi dalam mengurangi sampah plastik bernilai rendah sekaligus menciptakan manfaat ekonomi dan lingkungan yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar tambang.
Sri Wahyuni, salah seorang pimpinan bank sampah di Batangtoru mengungkapkan, dari 135 kaum ibu yang menjadi anggota bank sampah, rata-rata dapat memproduksi 100 buah ekobrik.
"Bahkan, tidak ada lagi sampah plastik yang terlihat di lingkungan kita karena kita berebut sampah ini sebagai bahan ekobrik," kata wanita paruh baya itu menerangkan dampak program ini terhadap lingkungan.
Di sini, Sri Wahyuni juga memamerkan kerajinan tangan berbentuk tas belanja berbahan dasar bekas kemasan minyak goreng dan detergen. Itu hasil kreasi ibu-ibu dalam kelompok bernama Gocap (GoClean Aek Pining) yang berada di Kampung Pasir, Lingkungan IV, Kelurahan Aek Pining.
Sementara itu, pembina Bank Sampah Yamantab, Dame Mendrofa sebelumnya menjelaskan, ekobrik produksi masyarakat ini dibayar seharga Rp 6 ribu per buah. Dan setiap ekobrik yang diproduksi diperiksa sesuai dengan standar dan bobot seberat 200 gram.
"Tetapi manfaat yang berdampak secara lingkungannya sangat besar dan luas," katanya. (SAN).
Editor : SAMMAN