Sebagai politisi yang pernah memimpin Komisi VII DPR RI, Gus mengungkapkan dirinya telah banyak meninjau secara langsung perusahaan-perusahaan ekstraktif di seluruh Indonesia.
Dari hasil pengamatannya, ia mengakui dan memuji PT Agincourt Resources (PTAR) merupakan salah satu perusahaan tambang emas terbaik dari segi pelestarian lingkungan pasca tambang, maupun dalam pengelolaan limbah.
“PTAR ini termasuk yang terbaik dalam menjaga ekosistem lingkungan serta pengelolaan limbahnya,” ungkapnya saat membuka kegiatan bertema Saatnya Bekerja untuk Iklim, ini.
Gus mengatakan, sektor pertambangan ini diatur dengan sangat ketat, dan dengan standar operasional prosedur (SOP) yang tinggi dalam menjalankan aktivitasnya. Maka, katanya, perusahaan tambang seperti PTAR tentu akan memperhatikan dan menjaga ekosistem lingkungan yang ada.
Menurut Gus Irawan, yang paling dikhawatirkan merusak lingkungan justru bukan dari sektor tambang. Melainkan usaha-usaha penebangan dan pengolahan kayu. Maka, pada saat bencana hidrometeorologi tahun lalu, ia pun membeberkan sejumlah pihak yang diduga bagian dari perusak hutan.
“Mudah-mudahan, ada kesadaran dari Kementerian untuk menertibkan perusahaan-perusahaan yang menebang kayu secara ilegal atau merusak lingkungan. Kalau tambang yang legal seperti, PTAR ini, sebetulnya standar operasionalnya itu sangat tinggi, karena saya pernah di Komisi VII DPR RI yang mengurusi pertambangan ini, jadi saya paham betul,” urainya.
Di hari lingkungan yang dikemas dengan pameran kreativitas olahan sampah dari siswa-siswi Sekolah Adiwiyata ini, Gus juga menyinggung maraknya tambang ilegal yang berada di perbatasan Tapanuli Selatan dengan Kabupaten Mandailing Natal.
“Kalau yang ilegal ini, sudah merusak lingkungan dan tidak memakai standar apa pun. Itu daya rusaknya jauh lebih besar. Jika perusahaan itu legal, kalau pun ada yang dia rusak, bisa kita lihat dengan jelas. Karena itu tadi, ada audit lingkungan,” terangnya.
Terpisah, Manager Environmental PTAR, Mahmud Subagya, menyambut positif pujian Bupati Tapsel kepada Tambang Emas Martabe. Mahmud mengamini pernyataan Bupati bahwa, di dunia pertambangan itu memiliki regulasi yang sangat ketat. Semua kegiatan pertambangan, ada standar yang tinggi di dalamnya.
“Alhamdulillah, di 2024-2025 Agincourt Resources mendapat penghargaan dari Kementerian ESDM sebagai perusahaan yang melakukan kegiatan pertambangan terbaik di Indonesia,” ungkapnya.
PTAR, menurut Mahmud, sangat konsisten dalam menerapkan konsep good mining practice (praktik pertambangan yang baik) dan juga pengelolaan lingkungan hidup berstandar tinggi.
Di sisi lain, Mahmud menjelaskan bahwa, PTAR sebagai pengelola Tambang Emas Martabe, juga telah menjalankan berbagai inisiatif untuk menyeimbangkan kegiatan operasional dengan pengelolaan lingkungan.
Komitmen tersebut, kata dia, diwujudkan melalui rehabilitasi lahan, efisiensi energi dan pengurangan emisi, serta pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkuler. Dalam hal pemulihan lingkungan, PTAR menerapkan pendekatan rehabilitasi lahan secara progresif.
“Artinya, pemulihan lingkungan tidak menunggu hingga masa pasca tambang, tetapi dilakukan segera setelah suatu area tidak lagi digunakan untuk kegiatan operasional,” terangnya.
Hingga akhir 2025, PTAR telah merehabilitasi lahan seluas 54 Hektare sebagai bagian dari upaya memulihkan fungsi lahan sekaligus memperkuat lanskap ekosistem hutan di sekitar area tambang.
Untuk mendukung rehabilitasi, PTAR memiliki tim rehabilitasi khusus serta fasilitas nursery sekitar 6.000 M² di area Tambang Emas Martabe. Pada 2025, nursery ini telah memproduksi sebanyak 52.759 bibit spesies tumbuhan cepat tumbuh seperti sengon, waru, dan jati putih.
Kemudian, spesies tumbuhan lokal lain seperti torop, simarbaliding, barus, dan jotik-jotik juga ditanam di area rehabilitasi dan area konservasi. Total bibit tanaman lokal dan cepat tumbuh yang disemai serta dikembangkan di nursery sepanjang 2021-2025 mencapai 187.615 bibit.
Dalam pelaksanaannya, lanjut Mahmud, PTAR didampingi Biodiversity Advisory Panel (BAP), panel independen yang dibentuk sejak 2019 dan beranggotakan para ilmuwan Indonesia yang memiliki keahlian di bidang ekosistem hutan.
Panel ini memberikan masukan ilmiah terkait pengelolaan dan pelestarian keanekaragaman hayati, termasuk dalam kegiatan rehabilitasi lahan. Agar kekayaan alam Batang Toru terus terjaga, PTAR juga mendirikan stasiun riset di dalam area konservasi yang dikembangkan PTAR.
Selain mendukung konservasi dan pelestarian ekosistem, stasiun riset dapat menjadi wadah pembelajaran bagi mahasiswa dan peneliti serta ke depannya dapat mendukung pariwisata berkelanjutan.
Dari segi efisiensi energi dan pengurangan emisi, Mahmud menuturkan bahwa, pada 2022, PTAR membangun instalasi solar panel berkapasitas 2,0 MWP menggunakan sistem on grid rooftop di Tambang Emas Martabe.
Solar PV dipasang di tiga area, yaitu area high land, low land, dan area mess yang mencakup 42 bangunan. Pada 2023, PTAR telah menggunakan excavator ramah lingkungan Komatsu HB365-1.
Alat berat berteknologi hybrid keluaran PT United Tractors Tbk dan Komatsu itu diklaim mampu menekan konsumsi bahan bakar hingga 17 persen dan mengurangi gas buang emisi karbon hingga 13 Kg per jam.
Pada 2024, PTAR menggunakan 275 ribu unit Renewable Energy Certificate (REC) atau setara 275 Megawatt hour (MWh) listrik Energi Baru Terbarukan (EBT) dari PLN. Di 2024 juga, PTAR meningkatkan penggunaan bahan bakar ramah lingkungan dengan beralih ke B40, yaitu campuran 40 persen biodiesel dan 60 persen solar.
“Penerapan B40 ini tidak hanya mendukung kebijakan pemerintah, melainkan juga mampu mengurangi emisi gas rumah kaca dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil,” ucap Mahmud.
Selain itu, PTAR juga menggunakan peralatan processing berupa Instalasi Slip Energy Recovery (SER) yang bertujuan meregenerasi daya agar dapat dipakai kembali, dengan potensi penghematan energi sebesar 6,49 persen per bulan.
PTAR juga mengimplementasikan teknologi Closed-Loop Energy Reclamation dengan Intelligent Torque Control (ITC) pada sistem ore grinding. Teknologi ini memungkinkan penyesuaian kecepatan penggilingan sesuai karakteristik batuan, sekaligus mereklamasi energi panas dan selip yang sebelumnya terbuang.
Program ini pada 2024 mampu mengurangi penggunaan energi listrik sebesar 4.931 GJ. Sejak 2022, PTAR menjalankan program pemanfaatan minyak pelumas bekas menggunakan teknologi Hypobaric Fraction Separator sebagai bagian dari inovasi pengelolaan lingkungan pada proses blasting.
Teknologi ini mengolah minyak pelumas bekas melalui proses pemanasan, filtrasi, pemisahan fraksi bertekanan rendah, hingga pendinginan sehingga dapat dimanfaatkan kembali.
Program ini, menggantikan penggunaan diesel fuel oil dengan memanfaatkan 80 persen limbah minyak pelumas bekas. Pada 2024 PTAR mengolah 155,25 Ton minyak pelumas bekas dengan teknologi hypobaric fraction separator sehingga mampu menekan Global Warming Potential (GWP) hingga 441.975,09 Ton CO²ek.
Terkait pengelolaan sampah domestik, PTAR memiliki fasilitas Waste Sortation Facility (WSF) yang berperan penting dalam pengelolaan sampah terpadu di area operasional perusahaan.
Melalui fasilitas ini, sampah domestik dapat dipilah sehingga hingga 65 persen material yang masuk dapat didaur ulang dan dimanfaatkan kembali dalam konsep ekonomi sirkular (circular economy).
Tidak hanya berfungsi sebagai pusat pemilahan sampah, WSF juga mengolah sampah organik menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti eco enzyme, budidaya maggot, furnitur daur ulang, dan kompos blok.
“Dengan demikian hal tersebut mampu mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir sekaligus menciptakan manfaat ekonomi,” tegasnya.
Ia mengaku, WSF dilengkapi berbagai sarana pendukung antara lain, mesin konveyor pemilah sampah, mesin press, timbangan kontainer, mesin pencacah, serta area loading dan unloading untuk meningkatkan efisiensi proses pengelolaan sampah. (SAN)
Editor : SAMMAN