MEDAN, METRODAILY – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman penyakit zoonosis, khususnya flu burung (Avian Influenza), dengan mengoptimalkan peran Tim Gerak Cepat (TGC) di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.
Langkah tersebut dilakukan guna memastikan deteksi dini dan respons cepat terhadap potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) flu burung yang masih menjadi ancaman kesehatan global.
Komitmen itu ditegaskan dalam Workshop Penguatan Tim Gerak Cepat (TGC) Tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam Joint Outbreak Investigation (JOI) dan Respons KLB Flu Burung yang digelar di Hotel Santika Diandra Medan, Selasa (9/6/2026).
Baca Juga: Bengkalis Masih Catat Nilai IEPK 2,378, Bupati Kasmarni Minta Penguatan Antikorupsi
Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara, Sulaiman Harahap, yang membuka kegiatan tersebut menegaskan bahwa kewaspadaan terhadap flu burung tidak boleh berkurang di tengah munculnya berbagai varian virus baru di dunia.
“Perkembangan global menunjukkan adanya berbagai varian virus baru. Kondisi ini menuntut kewaspadaan kita agar tidak boleh berkurang sedikit pun. Upaya terpadu melalui investigasi lapangan yang cepat serta koordinasi lintas sektor harus terus diperkuat agar setiap potensi penularan dapat diantisipasi sedini mungkin,” tegas Sulaiman.
Menurutnya, Sumatera Utara memiliki tingkat mobilitas masyarakat, aktivitas perdagangan, dan sektor peternakan yang tinggi. Kondisi tersebut menjadi penggerak ekonomi daerah, namun di sisi lain juga meningkatkan risiko penyebaran penyakit zoonosis apabila tidak diimbangi dengan sistem ketahanan kesehatan yang kuat.
Baca Juga: Rampok Sopir Truk di Tol Belmera, Dua Pemuda Ditangkap dalam 2 Jam
Karena itu, Pemprov Sumut terus mendorong penerapan pendekatan One Health (Satu Kesehatan) yang mengintegrasikan kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan dalam satu sistem penanganan terpadu.
“Tantangan penanggulangan penyakit zoonosis tidak dapat diselesaikan oleh satu sektor saja. Dibutuhkan kolaborasi yang kuat antara sektor kesehatan manusia, kesehatan hewan, akademisi, rumah sakit, pemerintah daerah, hingga mitra pembangunan internasional,” katanya.
Sulaiman menegaskan, hasil workshop tersebut akan menjadi dasar dalam penyusunan program kerja dan kebijakan penganggaran daerah guna memperkuat sistem pencegahan dan penanganan wabah di Sumatera Utara.
Baca Juga: Merasa Diabaikan Saat Rawat Inap, Pasien RS Metta Medika Lapor Polisi
Dalam kesempatan itu, Sulaiman juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Kesehatan RI, Kementerian Pertanian RI, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), serta Health Security Partners (HSP) yang turut mendukung penguatan kapasitas daerah dalam menghadapi ancaman penyakit menular.
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana, Windy, menjelaskan workshop berlangsung selama empat hari, mulai 9 hingga 12 Juni 2026, dengan melibatkan 47 peserta dari berbagai instansi lintas sektor.
Peserta berasal dari Tim Gerak Cepat yang bertugas di daerah prioritas dengan mobilitas tinggi, yakni Kota Medan, Kota Pematangsiantar, dan Kabupaten Deliserdang.
Baca Juga: Warung Tuak di Balige Ternyata Jadi Tempat Edar Ganja, Bandar Ditangkap
Selain itu, kegiatan juga diikuti perwakilan RSUP H Adam Malik Medan, Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP) Medan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sumut, asosiasi profesi, serta sejumlah lembaga mitra pembangunan kesehatan.
Melalui penguatan kapasitas ini, Pemprov Sumut berharap mampu membangun sistem ketahanan kesehatan daerah yang lebih tangguh, memperkuat koordinasi lintas sektor, serta meningkatkan kemampuan deteksi dini dan respons cepat terhadap ancaman wabah flu burung maupun penyakit zoonosis lainnya. (rel)
Editor : Editor Satu