TAPTENG, METRODAILY - Puluhan siswa siswa di Desa Sibiobio, Kecamatan Sibabangun, Tapanuli Tengah, tidak bisa pergi ke sekolah. Jembatan penghubung menuju sekolah yang berada di desa tetangga hanyut diterjang arus sungai.
Jembatan darurat yang dibangun untuk menghubungkan Desa Sibiobio dan Desa Muara Sibuntuon itu tergerus arus sungai yang meluap, pada Rabu (20/5/2026) malam.
Kepala Desa Sibiobio, Damianus Zendrato mengatakan, putusnya jembatan darurat yang terbuat dari kayu tersebut berdampak pada siswa SMP dan SMA yang tidak bisa bersekolah.
Baca Juga: Walhi Gugat Intervensi Kasus Bencana Ekologis Tapanuli, Tuntut TPL Bayar Rp2,6 Triliun
"Siswa SMP dan SMA tidak ada yang bisa sekolah, karena tidak bisa menyeberang," kata Damianus, Kamis (21/5/2016), pagi.
Damianus menyebutkan, tidak hanya aktivitas pendidikan yang terdampak. Kegiatan ekonomi warga juga tersendat, karena akses menuju desa tetangga yang juga merupakan jalur utama menuju ibukota kecamatan lumpuh.
Mantan KPMD PNPM Mandiri ini mengungkapkan, alternatif jalur darat tidak ada sama sekali. Setiap warga yang akan keluar desa harus menyeberangi Sungai Muara Sibuntuon.
Baca Juga: Longsor Putus Total Jalur Siborongborong–Sipirok, Akses Antarwilayah Lumpuh
Jika menggunakan getek ataupun perahu, sangat tidak memungkinkan. Pasalnya, kondisi Sungai Sibuntuon berbatu-batu. Arusnya juga sangat deras.
Ia berharap, adanya perhatian serius dari pemerintah untuk segera membangun jembatan yang terputus akibat banjir bandang akhir November 2025 lalu.
"Keberadaan jembatan ini sangat penting tidak hanya untuk pendidikan, tetapi juga untuk menunjang aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat," pungkasnya. (Zatam)
Editor : Editor Satu