Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Masinton Pasaribu Bongkar Penyebab Bencana Tapteng, Soroti Sawit dan Alih Fungsi Hutan

Editor Satu • Senin, 18 Mei 2026 | 11:10 WIB
 Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu menyampaikan sambutan saat Workshop Menata Ulang Kabupaten Tapteng dan Ekosistem Batang Toru di GOR Pandan, Selasa (12/5/2026).
Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu menyampaikan sambutan saat Workshop Menata Ulang Kabupaten Tapteng dan Ekosistem Batang Toru di GOR Pandan, Selasa (12/5/2026).

TAPTENG, METRODAILY – Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu menegaskan perlunya paradigma baru pembangunan berbasis mitigasi bencana dalam menata ulang wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) dan Ekosistem Batang Toru pascabencana.

Penegasan itu disampaikan Masinton saat membuka Workshop Menata Ulang Kabupaten Tapteng dan Ekosistem Batang Toru yang digelar di GOR Pandan, Selasa (12/5/2026).

Dalam paparannya, Masinton menyoroti kondisi geografis Tapteng yang didominasi kawasan perbukitan hingga mencapai sekitar 60 persen wilayah.

Baca Juga: Wesly Silalahi Raih Penghargaan BKPRMI, Dinilai Peduli Anak Yatim dan Pemuda Masjid

Ia juga menyinggung maraknya alih fungsi lahan di lereng-lereng perbukitan yang dinilai berlangsung agresif tanpa memperhatikan aspek lingkungan.

Menurutnya, banyak kawasan hutan yang ditebang dan diubah menjadi perkebunan kelapa sawit sehingga memperbesar risiko bencana.

“Pembicaraan kita hari ini adalah upaya penyelamatan ke depan. Apa yang kita rencanakan hari ini adalah upaya menghidupi generasi mendatang supaya mereka aman dan selamat. Kita harus datang dengan cara pandang baru, jangan lagi berpikir seperti sebelum bencana,” tegas Masinton.

Baca Juga: Sarpina Ditemukan Tewas Terduduk di Kursi Rumahnya

Masinton menyebut bencana yang terjadi pada 25 November 2025 lalu menjadi pelajaran penting akibat pembangunan yang tidak berbasis lingkungan dan mitigasi risiko.

Karena itu, ia menegaskan seluruh kebijakan pembangunan ke depan wajib mempertimbangkan dampak terhadap potensi bencana.

“Peristiwa itu menjadi pelajaran pahit. Paradigma pembangunan ke depan harus berbasis mitigasi,” ujarnya.

Baca Juga: Ribuan Umat Buddha Keliling Kota Siantar Saat Ritual Pradaksina Waisak

Sebagai langkah konkret, Pemkab Tapteng melalui Dinas Pendidikan diminta menyusun modul pembelajaran pengenalan kebencanaan bagi pelajar sejak usia dini.

Langkah tersebut bertujuan membangun kesadaran masyarakat terhadap mitigasi bencana secara berkelanjutan.

“Kita harus punya komitmen kuat bagaimana mengatasinya melalui edukasi yang berkelanjutan,” tambahnya.

Baca Juga: Ashanti Sandang Gelar Doktor, Disertasinya soal Adaptasi Penyanyi Senior di Era Digital

Workshop tersebut menghadirkan sejumlah pakar dan pemangku kepentingan yang membahas penataan wilayah dan mitigasi bencana dari berbagai aspek.

Perwakilan BPBD Tapanuli Tengah memaparkan penanganan darurat dan pemetaan risiko bencana, sementara praktisi tata ruang Heri Prasetio membahas desain wilayah aman bencana.

Selain itu, Elvina Rosinta Dewi memaparkan konservasi sumber daya alam, sedangkan Edward Darmansyah membahas penataan kawasan permukiman.

Baca Juga: Bawa Ganja 2 Ball di Padangsidimpuan, 2 Pria Dicegat  1 Berhasil Kabur

Paparan lain disampaikan Zainuddin terkait pengawasan dan penegakan hukum kehutanan, serta Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Nasional mengenai advokasi lingkungan hidup.

Workshop tersebut menjadi bagian dari upaya Pemkab Tapteng menyusun langkah strategis penataan wilayah yang lebih aman, berkelanjutan, dan tangguh terhadap bencana. (zatam)

Editor : Editor Satu
#bencana tapteng #Bupati Tapteng Masinton Pasaribu #alih fungsi hutan