SIMALUNGUN, METRODAILY — Permukaan air Danau Toba dilaporkan mengalami penurunan signifikan. Berdasarkan data satelit altimetri, penyusutan mencapai 1,6 meter dalam periode Juni 2025 hingga Maret 2026.
Fenomena ini memicu kekhawatiran serius, terutama bagi sektor perikanan budi daya, khususnya keramba jaring apung (KJA) yang banyak beroperasi di kawasan danau.
Ahli penginderaan jauh satelit dari IPB University, Jonson Lumban Gaol, memprediksi penurunan bisa mencapai 2 meter seiring masuknya musim kemarau mulai April.
“Kondisi ini dapat memicu musim kering berkepanjangan dan mempercepat penyusutan volume air danau,” ujarnya.
Baca Juga: MU Amankan Kemenangan Penting di Old Trafford, Casemiro–Sesko Jadi Pahlawan
Ancaman Kematian Massal Ikan di KJA
Penurunan muka air tidak langsung membunuh ikan, tetapi menjadi pemicu proses yang lebih berbahaya.
Saat kedalaman air berkurang, angin kencang lebih mudah mengaduk sedimen limbah organik dari dasar danau ke permukaan. Kondisi ini menyebabkan:
- penurunan kadar oksigen terlarut,
- naiknya air dari lapisan bawah yang miskin oksigen,
- serta meningkatnya kekeruhan air.
Akibatnya, ikan di KJA berisiko mengalami gangguan pernapasan hingga kematian massal.
Baca Juga: Keluarga Besar Silalahi Rayakan Paskah di Siantar, Wali Kota Wesly: Seperti Pulang Kampung
Gas Beracun Perparah Kondisi
Masalah diperburuk oleh akumulasi limbah organik dan rumah tangga di danau. Dalam kondisi oksigen rendah, proses penguraian berubah menjadi anaerobik yang menghasilkan gas berbahaya seperti hidrogen sulfida (H₂S), dan metana (CH₄).
Gas-gas ini dapat merusak sistem pernapasan ikan serta menurunkan kualitas air secara drastis.
Fenomena serupa pernah terjadi pada 2016, ketika ribuan ton ikan mati akibat penyusutan air hingga 2 meter. Insiden dengan skala lebih kecil juga tercatat pada 2018, 2020, dan 2023.
Dengan tren penurunan saat ini, potensi kejadian serupa kembali terbuka jika tidak diantisipasi sejak dini. (dtc)
Editor : Editor Satu