KARO, METRODAILY — Maraknya aksi tawuran remaja dan pelajar di Kabupaten Karo kian meresahkan masyarakat. Fenomena ini bahkan mendapat sorotan serius dari anggota DPRD, tokoh pendidikan, hingga pengamat sosial karena dinilai telah bergeser dari kenakalan remaja menjadi tindakan yang mengarah pada kriminalitas.
Sejumlah insiden dalam beberapa bulan terakhir memperkuat kekhawatiran tersebut. Pada pergantian tahun 2025 ke 2026, seorang warga menjadi korban salah sasaran dalam aksi tawuran di kawasan Tugu Bambu Runcing, Kabanjahe, yang berujung maut.
Insiden serupa juga terjadi di wilayah Tigapanah–Mulawari, di mana warga terluka akibat senjata tajam yang digunakan dalam bentrokan antar kelompok remaja.
Baca Juga: Hadiri Pencanangan Program Desa Cantik, Samsul Tanjung Dorong Penguatan Statistik Desa
Terbaru, kericuhan kembali dilaporkan terjadi di kawasan Tongging, melibatkan kelompok pelajar dan warga setempat. Selain kasus-kasus tersebut, masih banyak peristiwa tawuran lain di berbagai titik di Kabupaten Karo yang tidak tercatat secara rinci namun menimbulkan keresahan luas.
Anggota DPRD Karo dari Komisi A, Raja Edward Sebayang, menilai kondisi ini harus segera ditangani secara serius, terutama melalui sektor pendidikan. Ia mengusulkan agar sekolah mulai menerapkan pendidikan adab atau akhlak sejak dini sebagai langkah pencegahan.
“Sudah saatnya sekolah di Kabupaten Karo memasukkan pelajaran adab atau akhlak agar anak-anak memiliki karakter yang kuat dan tidak terjerumus pada hal negatif seperti tawuran atau bolos sekolah,” ujarnya.
Baca Juga: Pengamat: Rp 28 Miliar Uang CU Gereja Dikembalikan BNI Setelah Atensi Presiden
Ia juga menyoroti peran tenaga pendidik yang dinilai perlu lebih aktif dalam membina siswa. Menurutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi kunci agar generasi muda tidak tertinggal di tengah persaingan yang semakin ketat.
“Kita juga perlu memastikan proses belajar berjalan optimal. Informasi yang kami terima, masih ada sekolah yang terlalu bergantung pada guru honorer. Ini perlu menjadi perhatian bersama,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala SMK Negeri 2 Kabanjahe, Jasahat Saragih, menekankan pentingnya peran keluarga dalam membentuk karakter pelajar. Menurutnya, pendidikan moral tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah.
“Kita perlu meningkatkan pembinaan akhlak secara telaten, baik di sekolah maupun dalam keluarga. Ke depan, kami akan mengajak orang tua atau wali murid untuk berkolaborasi dalam mengawasi dan membimbing anak-anak agar berada di lingkungan yang positif,” jelasnya.
Baca Juga: BNI Tuntaskan Pengembalian Rp 28 Miliar Dana CU Paroki Aek Nabara
Pandangan serupa disampaikan pemerhati sosial, Ramli Milala. Ia menilai tawuran tidak hanya berdampak pada fisik pelaku, tetapi juga dapat menimbulkan trauma psikologis serta mengganggu ketertiban umum.
“Tawuran bisa memicu trauma dan rasa tidak aman di masyarakat. Karena itu, penting bagi semua pihak untuk menjaga lingkungan, keluarga, dan memberikan edukasi yang tepat kepada generasi muda,” katanya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa tidak semua pelajar terlibat dalam aksi negatif tersebut. Banyak di antaranya yang tetap berprestasi dan menjauhi kekerasan.
Fenomena tawuran di Kabupaten Karo kini menjadi alarm bagi semua pihak untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, sekolah, orang tua, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang aman serta kondusif bagi generasi muda. (Pmg)
Editor : Editor Satu