TAPTENG, METRODAILY – Ancaman banjir susulan membuat warga Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, memilih membiarkan rumah mereka masih dipenuhi lumpur dan material sisa banjir.
Lumpur pekat, batu kerikil, hingga ranting kayu masih berserakan di halaman rumah warga. Sejak banjir terakhir melanda, sebagian warga belum berani melakukan pembersihan menyeluruh karena khawatir air kembali meluap.
David, salah seorang warga Tukka, mengatakan keputusan itu diambil berdasarkan pengalaman pahit sebelumnya.
“Pascabanjir 25 November 2025 kami sudah dua kali membersihkan rumah. Tapi sekarang kami memilih menunggu karena takut banjir susulan datang lagi, apalagi hujan masih sering turun,” ujarnya, Rabu (18/2/2026).
Baca Juga: Pulang Melayat, Siswi SMAN 1 Siantar Tewas Lakalantas di Jalan Siantar–Raya
Menurutnya, proses pembersihan membutuhkan tenaga tambahan serta biaya yang tidak sedikit. Dalam sekali pembersihan, biaya bisa mencapai sekitar Rp1 juta, terutama untuk mengangkut lumpur dan memperbaiki bagian rumah yang rusak.
Sungai Belum Tuntas Dinormalisasi
Kondisi serupa juga dialami warga Kelurahan Lopian, Kecamatan Pinangsori. Saroha Situmeang mengaku rumahnya kerap terendam setiap hujan deras mengguyur kawasan tersebut.
Ia menilai banjir yang berulang dipicu belum maksimalnya normalisasi sungai di wilayah itu.
“Selama ini belum ada normalisasi yang benar-benar tuntas, jadi setiap hujan kami selalu waswas,” katanya.
Baca Juga: Menteri PU Minta Diskon Tarif Tol 30 Persen Selama Libur Lebaran
Situasi tersebut membuat warga hidup dalam bayang-bayang bencana setiap musim hujan tiba. Mereka berharap pemerintah segera melakukan normalisasi sungai secara menyeluruh guna meminimalkan risiko banjir berulang.
Hingga kini, hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi masih kerap terjadi di sejumlah wilayah Tapanuli Tengah. (net)
Editor : Editor Satu