PARAPAT, METRODAILY – Warga di sekitar kawasan Danau Toba, khususnya Parapat, mulai dibuat heran dengan kondisi permukaan air danau yang terus menyusut hingga hampir satu meter, meski hujan masih rutin turun dalam beberapa pekan terakhir.
Seorang warga Parapat, Saur, mengatakan penurunan air Danau Toba sudah sangat jelas terlihat dan tidak seperti biasanya. Padahal, saat ini belum memasuki musim kemarau.
“Air danau ini sudah menyusut hampir satu meter. Penyebabnya tidak jelas, padahal hujan masih sering turun. Belum musim panas, tapi air malah surut,” kata Saur, Minggu.
Baca Juga: KEK Sei Mangkei Jadi Kawasan Industri Berbasis Gas, Dapat Pasokan Gas Bumi dari Pertagas
Saur yang sehari-hari bekerja sebagai pengemudi kapal wisata menyebut, perubahan ketinggian air dapat dilihat dari batas air lama di tepian danau. Menurutnya, dulu air masih mencapai batas tersebut sejak pagi hingga sore hari.
“Sekarang sudah jauh turun. Ini kelihatan jelas dari bekas batas air sebelumnya,” ujarnya sambil menunjuk tepian danau.
Penurunan debit air Danau Toba ini berdampak langsung pada penghasilan masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor wisata air. Pendapatan para pelaku usaha wisata seperti penyedia wahana permainan air dan jasa kapal wisata mengalami penurunan signifikan.
“Pendapatan kami otomatis turun. Mulai dari usaha bebek air, speed boat, banana boat, selancar tarik, sampai kapal wisata keliling danau ikut sepi,” ungkap Saur.
Baca Juga: Dirut BPJS Tegaskan RS Dilarang Tolak Pasien Darurat, Meski Kepesertaan PBI Nonaktif
Ia juga mengungkapkan, kondisi sepinya wisatawan sudah dirasakan sejak akhir Desember 2025, termasuk saat momentum libur Natal dan Tahun Baru yang biasanya menjadi puncak kunjungan.
“Waktu Natal dan Tahun Baru hampir tidak ada penumpang yang mau naik kapal untuk keliling danau. Ini tidak biasa,” katanya.
Tak hanya pelaku wisata air, dampak penurunan kunjungan juga dirasakan oleh sektor perhotelan di kawasan Danau Toba. Tingkat hunian hotel, khususnya yang berada di pinggiran danau, dilaporkan mengalami penurunan tajam.
Baca Juga: Awal Puasa 2026 Berpotensi Beda, BRIN Ungkap Penyebabnya
“Kalau ngobrol dengan manajer hotel, tingkat hunian paling tinggi hanya sekitar 20 persen dari jumlah kamar. Jadi yang terdampak bukan hanya kami, tapi juga pengusaha hotel,” jelas Saur.
Hingga kini, warga berharap adanya penjelasan dari pihak terkait mengenai penyebab menyusutnya air Danau Toba, sekaligus langkah antisipasi agar dampak terhadap sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat tidak semakin meluas. (net)
Editor : Editor Satu