TAPSEL, METRODAILY – Penggiat lingkungan bersama Pusat Koordinasi Nasional Mapala se-Indonesia menemukan sedikitnya 330 titik longsor di kawasan hulu Sungai Garoga dan hulu Sungai Siondop, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel).
Temuan tersebut mengindikasikan kerusakan serius hutan hulu sungai yang berfungsi sebagai penyangga ekologis wilayah.
Survei lapangan dilakukan pada 21–27 Januari 2026 di kawasan hutan Batang Toru (hulu Sungai Garoga) dan kawasan hutan Angkola (hulu Sungai Siondop). Tim menggunakan metode penelusuran langsung sepanjang alur sungai serta pemantauan udara menggunakan drone.
Baca Juga: Brimob Polda Sumut Bantu Bangun Rumah Swadaya Korban Banjir di Tapsel
Hasilnya, tim mencatat 245 titik longsor berada di hulu Sungai Garoga, sementara 85 titik longsor lainnya ditemukan di hulu Sungai Siondop.
Selain longsor, tim juga menemukan puluhan bukaan lahan baru yang dimanfaatkan sebagai kebun kelapa sawit oleh masyarakat. Bahkan, di hulu Sungai Siondop teridentifikasi pembukaan lahan yang berada di dalam kawasan hutan lindung.
Ketua tim survei sekaligus penggiat lingkungan, Decky Chandrawan, menilai temuan tersebut menunjukkan kawasan hulu sungai di Tapanuli Selatan telah mengalami degradasi serius dan tidak lagi berfungsi optimal sebagai pelindung lingkungan.
“Skala longsor yang masif ini mengindikasikan tutupan hutan di kawasan hulu sungai telah rusak. Pengelolaan kawasan belum berjalan efektif sehingga meningkatkan kerentanan wilayah terhadap bencana,” ujar Decky dalam siaran pers yang diterima, Kamis (5/2/2026).
Baca Juga: Sengketa Lahan di Tapsel Berujung Maut, Pelaku Bacok Rekan Sekampung dengan Pedang
Berdasarkan pengamatan lapangan, longsor umumnya terjadi di lereng curam, sempadan sungai, serta area yang mengalami pembukaan hutan dan degradasi vegetasi.
“Kondisi ini memperkuat indikasi bahwa bencana tidak hanya dipicu faktor alam seperti curah hujan tinggi, tetapi juga akibat akumulasi alih fungsi kawasan dan lemahnya pengawasan wilayah tangkapan air,” tegasnya.
Decky menyebut, temuan 330 titik longsor merupakan gambaran kegagalan perlindungan kawasan hulu sungai yang seharusnya menjadi benteng terakhir menjaga keseimbangan lingkungan.
“Jika kondisi ini dibiarkan, ancaman ke depan bukan hanya longsor, tetapi juga keselamatan masyarakat dan ruang hidup mereka,” katanya.
Baca Juga: Pascalongsor Batang Toru, Ekowisata Berbasis Konservasi Terhenti Sementara
Hal senada disampaikan anggota tim survei lainnya, Edi Syahrial. Ia menilai kerusakan hutan hulu telah mengganggu keseimbangan alam dan berdampak langsung pada meningkatnya risiko banjir dan longsor di wilayah hilir.
Menurut Edi, masyarakat hilir selama ini menanggung dampak berupa banjir bandang, sedimentasi sungai, kerusakan lahan pertanian, hingga ancaman terhadap infrastruktur dasar, sementara persoalan di kawasan hulu belum ditangani secara menyeluruh.
Berdasarkan hasil survei tersebut, penggiat lingkungan merekomendasikan sejumlah langkah mendesak, antara lain audit menyeluruh dan transparan terhadap aktivitas serta perizinan di kawasan hulu, moratorium kegiatan yang berpotensi merusak hutan, serta penegakan hukum tegas terhadap pelanggaran di kawasan hutan dan sempadan sungai.
Baca Juga: Progres Huntap Korban Banjir Tapsel Capai 30 Persen, Target Rampung April
Selain itu, mereka mendorong restorasi hutan hulu sungai berbasis kajian ilmiah, pelibatan masyarakat, serta pemantauan berkelanjutan oleh publik dan lembaga independen. (ant)
Editor : Editor Satu