Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

912 Warga Tapteng Bertahan di Tenda Pengungsian Pascabencana, Huntara Masih Ditunggu

Editor Satu • Rabu, 28 Januari 2026 | 12:30 WIB
Warga penyintas banjir dan longsor di Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah, masih bertahan di tenda pengungsian yang disediakan pemerintah.
Warga penyintas banjir dan longsor di Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah, masih bertahan di tenda pengungsian yang disediakan pemerintah.

TAPTENG, METRODAILY – Sebanyak 912 warga Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, hingga kini masih bertahan di ratusan tenda pengungsian pascabencana hidrometeorologi yang terjadi pada akhir November 2025.

Para penyintas bencana banjir dan longsor tersebut kini menempati total 129 tenda yang terdiri dari tenda besar, tenda umum, hingga tenda keluarga yang disediakan pemerintah.

“Sejauh ini seluruh kebutuhan dasar masyarakat di pengungsian sudah terpenuhi,” kata Lurah Hutanabolon Polman Pakpahan, Selasa (27/1/2026).

Menurut Polman, kebutuhan pangan warga pengungsi dipenuhi melalui dapur umum yang beroperasi setiap hari.

Makanan disediakan tiga kali sehari dengan bahan pokok yang bersumber dari Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, hingga pemerintah pusat.

“Warga mendapatkan makan tiga kali sehari dari dapur umum, termasuk lauk-pauknya,” ujarnya.

Untuk kebutuhan air bersih, pemerintah bersama pihak swasta telah membangun sekitar 20 sumur bor di kawasan pengungsian.

Selain itu, fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK) juga tersedia, termasuk layanan cuci pakaian gratis yang difasilitasi Kementerian Sosial.

Di lokasi pengungsian tersebut, pemerintah juga tengah mempersiapkan pembangunan hunian sementara (huntara). Sementara hunian tetap (huntap) direncanakan akan dibangun di wilayah setempat.

“Beberapa huntara seperti Rusunawa Pandan dan huntara di Pinangsori sudah disiapkan. Namun karena jaraknya cukup jauh, warga memilih tetap bertahan di lokasi pengungsian ini,” kata Polman.

Ia menambahkan, pihaknya masih menunggu pembangunan huntara di sekitar lokasi pengungsian agar warga dapat segera direlokasi dengan lebih layak.

Sementara itu, Dowes Dekker, warga Desa Sait Kalangan II, Kecamatan Tukka, menceritakan perjuangannya saat menyelamatkan diri dari bencana.

“Kami berjalan kaki enam jam membawa barang dan menggendong anak-anak,” katanya.

Awalnya, ia dan keluarganya menumpang di rumah kerabat. Namun karena kondisi yang tidak memungkinkan, ia akhirnya membawa istri dan tiga anaknya ke pengungsian.

“Kami baru tiga hari di sini. Kebutuhan makan terpenuhi dan anak-anak juga bisa bersekolah di lokasi yang sudah disediakan,” ujarnya.

Dowes berharap pemerintah segera membuka kembali akses jalan menuju desa mereka yang hingga kini masih terputus akibat longsor.

“Banyak rumah rusak dan tanah turun akibat longsor. Kami berharap ada solusi agar jalan bisa dibuka kembali,” tandasnya. (net)

Editor : Editor Satu
#pengungsi tapteng #huntara