Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Dua Bulan Pascabencana, 4 Desa di Tapteng Masih Terisolasi, Petani Jalan Kaki Jual Hasil Bumi

Editor Satu • Rabu, 28 Januari 2026 | 12:10 WIB
Photo
Photo

TAPTENG, METRODAILY – Dua bulan pascabencana banjir bandang dan longsor, empat desa di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, hingga kini masih terisolasi.

Jalan dan jembatan yang putus membuat aktivitas ekonomi lumpuh, sementara aliran listrik belum pulih.

Empat desa tersebut yakni Desa Sigiring-Giring, Sait Nihuta Kalangan II, Aek Bontar, dan Saur Manggita. Desa-desa ini berjarak sekitar 10–20 kilometer dari pusat kabupaten.

Sekitar 10 kilometer akses utama terputus akibat longsor, jalan ambles, serta jembatan yang rusak di sejumlah titik.

“Kami sangat terpukul selama dua bulan ini karena akses jalan putus total. Untuk menjual hasil pertanian seperti karet dan buah-buahan, kami harus berjalan kaki 4 sampai 8 jam sekali jalan,” ujar Martahan Sitompul, warga Desa Sait Nihuta Kalangan II, Senin (26/1/2026).

Empat desa tersebut berada dalam satu kawasan dengan belasan titik longsor dan beberapa jembatan putus di sepanjang jalan kabupaten.

Sebagian jembatan memang telah dibangun, namun belum mampu menembus seluruh wilayah desa yang terisolasi.

Mayoritas warga di empat desa tersebut menggantungkan hidup dari sektor pertanian, seperti durian, karet, duku, berbagai jenis buah-buahan, serta padi.

Namun bencana menghancurkan rumah warga, jalan, jembatan, ladang, dan sawah. Banyak lahan pertanian gagal panen, sementara hasil kebun yang masih bisa dipanen sulit dipasarkan akibat akses terputus.

“Kami terpaksa menjual durian kupas supaya bisa dibawa jalan kaki ke kota. Harganya jatuh lebih dari setengah,” kata Martahan.

Kondisi keterisolasian juga menyulitkan penyaluran bantuan pemerintah. Sejumlah keluarga masih bertahan di tenda pengungsian dan sepenuhnya bergantung pada bantuan logistik.

Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu mengatakan pemerintah daerah bersama prajurit TNI Angkatan Darat terus berupaya membuka akses jalan menuju empat desa tersebut.

“Pembukaan akses jalan dan jembatan ditargetkan rampung pada Februari ini agar bisa dilalui kendaraan roda dua dan roda empat,” ujar Masinton.

Berdasarkan pendataan Pemkab Tapteng, terdapat sekitar 12 titik jalan terputus. Dua jembatan jenis armco telah selesai dikerjakan, sementara alat berat masih digunakan untuk mengikis tebing dan membuka jalan yang hampir putus akibat longsor.

“Memang sebelum bencana, jalur menuju desa-desa ini rawan longsor. Bahkan satu alat berat dari Dinas PU ikut tertimbun longsor saat proses pembersihan,” jelas Masinton.

Garoga Belum Pulih

Sementara itu, dampak bencana juga dirasakan warga Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan.

Kepala Desa Garoga, Risman Rambe, menyebutkan meski warga sudah berpindah dari tenda pengungsian ke hunian sementara, roda ekonomi belum pulih.

“Kami petani karet. Banyak kebun rusak berat akibat banjir, hanya sebagian kecil yang masih bisa diolah,” kata Risman.

Desa Garoga menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah. Dari total 245 kepala keluarga, hampir seluruh permukiman, kebun, sawah, jalan, dan jembatan rusak akibat banjir bandang Sungai Garoga pada akhir November 2025.

Kementerian Pertanian mencatat, total lahan pertanian terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mencapai 107.327 hektare.

Dari jumlah tersebut, 29.095 hektare mengalami kerusakan berat dan 44.600 hektare lahan padi serta jagung mengalami gagal panen.

Untuk pemulihan, Kementerian Pertanian menyiapkan anggaran Rp1,49 triliun, termasuk rehabilitasi sawah dan irigasi serta bantuan benih tanaman pangan.

“Kementerian Pertanian sudah turun membantu pembukaan sawah. Kami berharap pertanian segera pulih agar ekonomi masyarakat bangkit kembali,” ujar Risman. (net)

Editor : Editor Satu
#jalan putus #desa terisolir