TAPSEL, METRODAILY – PT Agincourt Resources (PTAR), pengelola Tambang Emas Martabe, bekerja sama dengan Lembaga Ovata Indonesia (LOI) membangun fasilitas konservasi penyu di Desa Muara Upu, Kecamatan Muara Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel).
Fasilitas konservasi yang dibangun sejak awal 2025 tersebut meliputi gedung kantor relawan sekaligus pusat pemantauan, kolam penangkaran, serta fasilitas penetasan telur penyu. Nilai pembangunan fasilitas ini mencapai Rp439.190.000.
Ketua LOI Erwinsyah Siregar menjelaskan, upaya konservasi penyu di Pantai Muara Upu telah dimulai sejak 2014 dengan langkah sederhana, seperti memagari lokasi peneluran dan melibatkan masyarakat lokal dalam perlindungan habitat penyu.
“Pada 2018 kegiatan sempat vakum. Lalu muncul gagasan membuat kegiatan tahunan agar masyarakat tidak merasa ditinggalkan. Dari situlah lahir Pantai Barat Camp,” ujar Erwinsyah saat serah terima bangunan konservasi, Selasa (20/1/2026).
Pantai Barat Camp merupakan kegiatan kemah bersama di Pantai Muara Upu yang melibatkan komunitas pecinta alam. Kegiatan ini diisi dengan aksi bersih pantai dan seminar lingkungan, serta biasanya dilaksanakan pada akhir tahun.
Namun, pada akhir 2025, kegiatan yang seharusnya digelar untuk ketujuh kalinya terpaksa ditiadakan akibat bencana alam. Padahal, kegiatan tersebut biasanya dirangkaikan dengan pelepasliaran tukik atau bayi penyu.
Erwinsyah menyebut, Pantai Muara Upu merupakan lokasi penting peneluran penyu yang berlangsung setiap akhir tahun. Terdapat enam jenis penyu yang bertelur di kawasan ini, termasuk penyu belimbing dan penyu sisik.
“Tiga tahun terakhir, kami mendapat perhatian dari PT Agincourt Resources. Mereka sangat antusias membantu upaya perlindungan dan pelestarian penyu di Muara Upu,” katanya.
Sementara itu, Manager Community Relation PTAR, Masdar Muda, mengatakan pembangunan fasilitas konservasi ini merupakan wujud komitmen perusahaan dalam menjaga kelestarian keanekaragaman hayati.
“Ini bagian dari perhatian perusahaan terhadap konservasi penyu, khususnya penyu belimbing, serta jenis lain seperti penyu sisik,” ujarnya.
Masdar menjelaskan, penyu bermigrasi dari samudra dan kembali ke Pantai Muara Upu pada akhir tahun untuk bertelur. Karena itu, PTAR mendorong adanya kegiatan edukasi dan sosialisasi konservasi sepanjang tahun bersama masyarakat adat.
“Desember adalah puncak peneluran. Dari Januari hingga Desember berikutnya bisa dimanfaatkan untuk menyatukan visi konservasi bersama masyarakat,” katanya.
PTAR juga mengajak masyarakat menjadikan pelestarian penyu sebagai kearifan lokal yang berkelanjutan, sekaligus dikembangkan menjadi wisata ekologis dan wisata pendidikan berbasis alam.
Serah terima bangunan konservasi tersebut ditutup dengan pelepasliaran belasan tukik yang ditemukan pada Senin (19/1/2026) malam di Pantai Muara Upu. (SAN)
Editor : Editor Satu