TAPANULI SELATAN, METRODAILY — Pascabencana banjir bandang dan longsor yang melanda Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) sejak akhir November 2025, ratusan anak usia sekolah dasar masih harus menjalani proses belajar mengajar di tenda-tenda darurat pengungsian hingga Sabtu (10/1/2026).
Bencana tersebut menyebabkan sejumlah sekolah dasar mengalami kerusakan berat, bahkan ada yang nyaris hilang tersapu banjir.
Beberapa sekolah hingga kini belum dapat digunakan karena tertimbun material longsor, terendam aliran sungai, atau berada di zona pergerakan tanah yang dinilai berbahaya.
Sejumlah sekolah yang terdampak parah antara lain SDN 100714 Garoga yang hampir rata dengan tanah akibat banjir bandang, SDN 100704 Huta Godang yang tertimbun lumpur dan material banjir, serta SDN Lobu Uhom yang hanya menyisakan empat ruang kelas dengan kondisi retak berat.
Selain itu, SDN 100207 Tandihat mengalami kerusakan struktural serius karena berada di area pergerakan tanah, sementara SDN 101305 Bandar Tarutung, Kecamatan Angkola Sangkunur, hingga kini masih terendam air Sungai Batang Toru.
Pantauan di lapangan menunjukkan belum ada perubahan signifikan. Di SDN Garoga, bangunan sekolah kini hanya menyisakan satu dinding yang masih berdiri.
SDN Huta Godang juga masih dipenuhi sisa lumpur sehingga belum layak digunakan sebagai tempat belajar.
Sebanyak 111 siswa SDN Garoga dari total 127 siswa, serta 97 siswa SDN Huta Godang, terpaksa menumpang belajar di SD Batu Hula dengan sistem pembelajaran bergilir (shift).
Kondisi tersebut dinilai jauh dari ideal dan menyulitkan proses belajar mengajar.
Situasi paling memprihatinkan terlihat di SDN Bandar Tarutung. Sekolah ini masih dikepung air setinggi lutut orang dewasa sejak banjir terjadi pada 25 November 2025.
Pagar beton sekolah jebol, sementara seluruh bangunan utama terendam air. Proses belajar mengajar dilakukan di dua unit tenda putih besar bantuan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk menampung 197 siswa.
“Sejak masuk sekolah setelah libur, anak saya belajar di tenda. Baru kali ini air lama sekali surut. Biasanya kalau banjir, satu dua hari sudah kering,” ujar Nuraini Simbolong (32), warga Kampung Malako, Desa Bandar Tarutung.
Berdasarkan data Dapodik dan BOS Kemendikdasmen, jumlah siswa terdampak di Tapsel mencapai lebih dari 600 orang, terdiri dari 197 siswa SDN Bandar Tarutung, 127 siswa SDN Lobu Uhom, 50 siswa SDN Tandihat, 122 siswa SDN Garoga, dan 191 siswa SDN Huta Godang.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas Pendidikan Tapanuli Selatan, Yanti Pakpahan, belum memberikan keterangan resmi terkait rencana rehabilitasi maupun relokasi sekolah-sekolah terdampak.
Upaya konfirmasi melalui pesan WhatsApp juga belum mendapat respons.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan terabaikannya hak dasar anak untuk memperoleh pendidikan yang layak dan aman, sekaligus menunggu langkah nyata pemerintah dalam pemulihan sektor pendidikan pascabencana. (mag-11/han)
Editor : Editor Satu